Dalam keadaan damai tanpa perang simetrik dan asimetrik, secara epidemiologis menunjukkan bahwa polisi dan militer tetap memiliki risiko kematian relatif tinggi dibandingkan dengan populasi umum secara keseluruhan untuk beberapa penyebab spesifik.

Harapan hidup polisi dan militer dalam sebuah wilayah yang bukan DOM (Daerah Operasi Militer) juga cukup signifikan jika dikaitkan dengan beberapa fenomena yang terjadi di wilayah non-DOM.

Faktor penentu nilai ekspektasi di atas salah satunya adalah komposisi konflik dalam area aman non-DOM yang bisa berupa percikan konfrontasi. Salah satunya adalah area yang dimungkinkan sama-sama menggunakan senjata, baik tajam, beramunisi, ataupun bentuk armamen (senjata dan perlengkapannya) lainnya, baik yang melumpuhkan, menghadang, menahan, ataupun mematikan.

Lain halnya dalam sebuah demonstrasi yang berkomposisi heterogen, dan adanya ketidakseimbangan di faktor armamen, di mana sipil berhadapan dengan komponen armamen (TNI-Polri), alias dalam keadaan under-armament.

Suasana under-armament sangat cocok untuk menumbuhkan rasa simpati dengan memproduksi gestur-gestur tertentu yang mudah dibaca dan disebarkan ke masyarakat secara viral.

Gestur-gestur keberpihakan akan menimbulkan rasa simpati yang akan bergulir terus-menerus. Ini adalah modal untuk menciptakan pujaan atau berhala (idols) yang baru.

TNI-Polri yang berada di kawasan under-armament, secara tidak langsung, akan bersaing memproduksi keluaran atau output tak jauh dari keadaan kontrak sosial yang telah ditegaskan oleh Thomas Hobbes dan John Locke. Apakah itu? kompetisi. 

Kompetisi simpatik juga tak jauh dari apa yang didengungkan oleh Hobbes: manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Hakikat alamiah tersebut akan membawa manusia untuk saling bersaing dan berebut kuasa. 

Manusia akan saling memerangi manusia lainnya. Salah satu faktor yang membuat mereka bertarung adalah kecenderungan untuk meraih kebesaran diri

Relasi antara komponen armamen (TNI-Polri) dan komponen under-armament (peserta demo/sipil) dalam sebuah kawasan demonstrasi memang akan memunculkan kecenderungan untuk menciptakan hero atau pahlawan.

Bisa kita lihat, di beberapa akun Instagram atau pemberitaan media massa lainnya yang menunjukkan kompetisi simpatik dari sebuah keadaan under-armament. 

Yang satu, berusaha prosedural dalam menangani demonstran; satunya lagi juga berusaha memperlakukan demonstran dengan baik.

Kondisi Polri di masyarakat dalam tugas penertiban dan membantu penegakan hukum tak jauh nasibnya ketika berada di lapis depan pengendalian sebuah demonstran. 

Sudah membudaya bahwa polisi, baik di dalam negeri ataupun di luar negeri, akan terus mendapatkan aptronima social slang atau bahasa julukan hasil dari interaksinya dengan masyarakat.

Aptronima social slang yang cukup terkenal untuk polisi, seperti: dick, pig, gumshoe, laler ijo, wereng coklat, dan lainnya. Pembawaan aptronima tersebut memengaruhi kehadiran polisi di area demonstrasi.

Secara logika, Polri akan mendapatkan banyak tekanan dan paparan langsung dengan komponen under-armament (demonstran) sebagai pelapis pertama.

Yang dihadapinya, jelas komponen yang cenderung mendapatkan kantong-kantong rasa simpati yang lebih tinggi dari masyarakat. Sedang TNI yang berada di lapis berikutnya, sebenarnya sama nasibnya jika keadaan demonstrasi benar-benar kacau. 

Mereka juga tak segan-segan berlaku seperti lapis pertama. Namun, akhir-akhir ini tampak perubahan signifikan dengan gestur-gestur simpatik dari TNI yang ditampilkan kepada khalayak. 

Dahulu kala, ketika wilayah kampus adalah wilayah paling aman untuk pengunduran ataupun bersembunyi barisan yang terpukul, kini digantikan dengan wilayah militer, seperti narasi: mahasiswa mundur aman di markas Kodim atau koramil.  Baca di sini

Kampus sudah tidak punya keistimewaan lagi bagi barak pengunduran dan perlindungan. Apalagi tempat ibadah seperti masjid dan lainnya. Jangan coba-coba lagi berlindung di area yang saya sebut di atas.

Mereka para demonstran lebih percaya pada pelindung-pelindung yang juga bermoncong senjata daripada pelindung-pelindung berpena (kampus) dan bertuhan (tempat ibadah).  

Gestur-gestur simpatik yang akan sering diperebutkan adalah ketika saat-saat krusial mulai terlihat. seperti kondisi di mana massa sudah tidak tertib lagi (level kuning). Apalagi saat eskalasi mulai meningkat dan massa melempari petugas dengan benda keras.

Pada kondisi ini, gestur-gestur simpatik yang bisa diberikan oleh lapis dua (TNI) seperti: memberikan ruang pelolosan ke tempat yang menjadi wilayah kekuasaannya seperti kodim, koramil ataupun tempat otoritas mereka. 

Pemberian bantuan medik, logistik, dan pernik-pernik kenyamanan lainnya juga kerap menjadi pos-pos simpatik oleh TNI, di samping tugas utamanya sebagai pengendali lapis dua.

Peralihan dari level kuning ke level merah juga kerap dijadikan ajang pengumpulan gestur simpatik

Seperti, ketika kendaraan taktis pengurai massa, Barracuda atau jenis lainnya; bergerak maju melakukan tindakan mengurai massa, maka, kadang, bersamaan itu pula TNI muncul tanpa peralatan memadai hanya dengan memberikan pengendalian gestur tangan untuk tenang hingga berhasil menenangkan massa.

Penggunaan senjata dengan peluru tajam memang tidak dibenarkan untuk menghadapi massa. Senjata dengan peluru tajam mungkin hanya dibenarkan penggunaannya dalam menghadapi kelompok tertentu yang diketahui atau diduga juga menggunakan senjata api dengn peluru tajam.

Tapi, bisa jadi gestur-gestur simpatik yang cepat viral penyebarannya itu akan menjadi bumerang bagi keharmonisan komponen-komponen armamen. 

Saya pribadi lebih memilih pengambilan kenyataan di lapangan atau pengalaman lapangan. Artinya, jika TNI mampu mengendalikan tanpa alat "berat" apa pun, maka ada baiknya posisi bisa ditukar.

Walaupun ini merupakan hal yang mungkin mustahil, dengan melihat kewenangan masing-masing dalam sebuah pakem dan perundangan komponen armamen sebagai pengaman demonstrasi, ada baiknya dibalik saja lapis pengamanannya.