Anies Baswedan, Donald Trump, Obama.

Mereka saya sandingkan bukan sebab sama pintar memutar lidah berbahasa. Apalagi sebab sama cerdas atau sama tidak bisa kerja. Bukan, bukan itu. Tapi karena mereka itu sama mengingatkan saya pada dua hal. Gerombolan massa fanatik dan keadaan masyarakat yang terbelah dua.  Dua-dua adalah pengalaman yang kurang enak dihati, yang tidak pernah ada sejarahnya di Indonesia ( dan di Amerika tentunya )

Sekilas tidak ada yang salah. Gerombolan fanatik yang tingkah dan teriakannya menakutkan Elias Canetti dan banyak orang itu ( Baca tulisan saya sebelumnya ) adalah sekedar ujud dari kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat. Hal-hal lumrah dalam demokrasi.

Jadi, apakah ada yang luput dari pengamatan? Apakah rasa tidak enak sebab saya tidak siap betul dengan demokrasi ?

Kata Yunani dêmokratia, yang berarti “people power”, kedaulatan rakyat. memang menerjemahkan  demokrasi memang tidak segampang itu. Didalamnya mengandung banyak pengertian mulia, partisipasi dalam pemerintahan, kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, hak-hak sipil, masyarakat sipil, kesetaraan, pemilu bebas, dan penentuan nasib sendiri, dll. Juga kata dêmos. Dia  dapat berarti seluruh rakyat, bisa juga berarti mayoritas. Jadi jelas, sulit sekali didefinisikan dengan cuma satu atau dua kata.

Barangkali nurani kita yang peka bisa tahu bahwa beberapa hal yang mulia diatas tidak ada, atau paling tidak, kuatir tidak ada, dalam kenyataan demokrasi yang kita alami ? Saya jadi ingat Plato yang kurang suka demokrasi. Baginya, itu pemerintahan demokrasi adalah pemerintahan ofdoxa atas philosophia , pemerintahan opini awam atas pengetahuan sejati. Pemerintahan gerombolan, ledeknya. Kuat, egois, berubah-ubah, dan pemerintahan liar yang tidak konsisten

Kekuatiran hasil pemilu sebagai pemerintahan “gerombolan lawan” terasa kuat saat akhir-akhir ini dimana masyarakat terbelah kuat jadi dua. Penetapan hasil pemilu tidak lagi jadi penanda akhir dari kompetisi.. Outrageous Discource, wacana outrageous (OD), komunikasi kata kasar, tidak pantas dan saling menyakitkan, yang terjadi dalam masa kampanye, tetap saja satu-satunya cara saling menyapa, menguatkan keterbelahan dan melanjutkan ketidak-percayaan.

Dari beberapa ilmuwan peneliti sosial, keadaan ini bisa diterangkan dari lingkaran mata-rantai relative baru di dunia. Rangkaian tersebut adalah internet, echo chamber, Outrageous Discourse industry, dan Populisme.

The Daily me dan Echo Chamber.

Pada tahun 1995, seorang ilmuwan dari MI,  Nicholad Negroponte, meramalkan akan munculnya koran “ The Daily Me” dimasa depan. Nantinya, untuk tahu berita, anda tidak lagi akan tergantung dari koran  tradisional, atau berita dari jaringan TV. Dalam “The Daily Me” anda bisa merancang koran pribadi yang isinya sepenuhnya tergantung pada pilihan dan kesukaan anda sendiri. 

Kita tahu semua, ramalan itu saat ini sudah menjadi kenyataan. Google, Facebook , Twitter, Instagram adalah “The Daily Me” kita. Dunia yang kita lihat disana adalah dunia yang kita mau lihat. Dan enaknya, kita tidak perlu bersusah-payah mengeluarkan tenaga untuk membuatnya sendiri.  Orang lain yang membuatkannya dengan cuma-cuma. Google membuatkannya, Juga Facebook dan Instagram. Alatnya adalah Algoritma.

Algoritma tahu apa yang kita mau lebih dari kita sendiri. Algoritma tahu sikap politik kita, pola konsumsi kita, lagu kesukaan kita, tontonan film apa yang kita suka. Maka saya sempat surprise ketika Spotify menyuguhkan 30 lagu racikannya dalam  Discover Weekly, made for Abdullah Hasan. Gila ! Itu semua lagu favorit saya, yang sebagian saya sudah lupa !

Algoritma adalah Machine Learning (ML), pembelajaran mesin, yang dapat menginformasikan secara halus macam-macam data pribadi seseorang. Bukan cuma pandangan politik kasar, kanan atau kiri. Tapi dia tahu isu-isu yang lebih detail misalnya pandangan keagamaan, ekonomi, pola konsumsi, keamanan nasional, kesetaraan, soal lingkungan, dsb. Informasi-informasi tersebut bisa berguna untuk manager kampanye partai, pemasang iklan, penggalang dana, atau para bajingan dan teroris.

Manusia punya kecenderungan homophily , suka berkelompok dengan manusia lain yang mirip dengannya. Mirip kesukaannya, mirip interesnya, keyakinannya, agamanya, sukunya, dll. Ajaibnya, Algoritma tahu itu. Dia tahu siapa orang-orang yang pasti anda suka. Dan namanya ! Dan kemudian menyarankan anda untuk berteman dan berkumpul bersama mereka.

Ada banyak alat ajaib lain, misalnya #hashtag atau #tagar. Dengan #mensos , # ClimateChangeIsAHoax, #coronavirus, atau #vaccine , kita dengan seketika bisa mendapatkan ribuan berita tentang apa yang kita minati. Kemudian orang sangat kreatif menjadi hashtag entrepreneurs menyebarkan idenya, karyanya, pendapatnya, atau fakta yang diketahuinya kepada jutaan orang lain.

Tentunya banyak orang suka dengan berbagai keajaiban ini. Memberikan kemudahan, akses informasi yang cepat, atau sekedar sarana hiburan. The Daily Me tidak usah disusupi berita diluar minat kita seperti tentang menteri olahraga Vanuatu.  Kitapun bisa mengobrol aman tanpa ada orang yang menyebalkan. Tapi sesungguhnya dari berbagai kemudahan dan kesenangan diatas, manusia bisa dijangkiti penyakit Echo Chamber dan Kepompong Informasi.

Dalam fenomena Echo Chamber orang hanya bicara dengan dirinya sendiri atau kelompoknya yang terbatas. Juga informasi yang sampai hanyalah informasi yang beredar berulang diantara mereka. Seolah mereka berada dalam kepompong, Kepompong Informasi ( Information cocoons). Ini tidak sehat secara kemasyarakatan dan demokrasi. Pada masyarakat demokrasi yang jalan, orang mendengar dan melihat berbagai topik dan ide yang amat luas. Setiap hari ada kemungkinan seseorang tersandung kenalan baru, pada informasi baru atau pandangan berbeda secara kebetulan tanpa diatur lebih dahulu. Itu dapat memperluas wawasan, toleransi, bisa menjelmakan sikap terbuka.

Informasi dan pengelompokan dalam masyarakat yang diatur machine learning secara tidak disadari sama saja dengan sensor dalam bentuk lain. Ini seringkali luput dari pengamatan karena yang diketahui cuma sensor dari penguasa pemerintahan.

Fenomena Industri Outrageous Discource 

Outrageous Discource ( OD) adalah fenomena komunikasi yang menggunakan kata-kata kasar, kotor,  tidak patut, menghina dan menyakitkan hati. OD bertujuan membangkitkan emosi ( kemarahan, kebenaran,ketakutan, merendahkan ) yang dalam narasi provokasinya  menggunakan generalisasi, sensasi, informasi plesetan, fakenews, serangan pada pribadi ad hominem, informasi setengah benar kepada pihak lawan baik pribadi, organisasi, komunitas, kaum imigran, dll. Dalam banjir informasi yang amat bising, boleh jadi OD adalah usaha terakhir untuk bisa didengar.

Perdebatan politik dari dulu memang selalu sengit. Tapi menggunakan OD, yang terjadi belakangan bukan lagi debat yang menarik. Cuma menang-menangan saja.  Lebay, mementingkan melodrama, saling ejek, penuh ramalan gelap kedepan, dsb. Tanpa isi.

Tapi industri media terutama TV yang tertekan berat karena internet dan The Daily Me, menengarai rating yang tinggi pada acara-acara yang dibumbui Outrageous Discource. Maka mereka dengan sengaja membuat acara heboh penuh OD. Rating naik tinggi, artinya adalah iklan dan duit masuk.. Tentunya bisnis besar lain seperti Facebook , Google, dll. Sangat sudah tentu menyadari hal itu pula. Dengan sengaja atau tidak, Facebook seperti kita ketahui jadi ajang wacana outrageous utama. Outrageous Discource menjadi industri yang mendatangkan keuntungan sangat besar.

Didepan layar monitor atau HP, seseorang mengalami fenomena anonimity seperti ketika masuk dalam massa. Juga pemimpin masa yang kehilangan diri didepan mikrofon Dia hampir tanpa berpikir bisa bicara sekasar apapun. Facebook atau google yang ada di setiap ratusan juta HP memperparah echo chamber dan kepompong informasi. Memperparah pula keterbelahan masyarakat dimana-mana, di Indonesia, Amerika, atau yang lain. Artinya, saling ketidak percayaan antar kelompok tambah berat. Pada gilirannya, fakenews dan kebohongan merajalela, kebenaran nyaris tidak bisa masuk terhalang tembok.

Populisme

Dalam keadaan terbelah kuat jadi dua, rawan munculnya fenomena lain, populisme. Definisi paling gampang dari populisme adalah dari retorikanya : Klaim bahwa mereka adalah suara mewakili keinginan rakyat banyak. Dari situ, dunia populisme terbagi dua, kelas elite penguasa yang zalim, dan masyarakat banyak yang jadi korban. Itu jadi cirinya yang pertama, anti elit. Ciri yang kedua, anti pluralisme. Anggapan bahwa dirinya satu-satunya perwakilan rakyat yang menyuarakan kebenaran, maka yang pihak lain tidak bisa diterima. Kalau kumpulan populis ini kebetulan terdiri dari ras tertentu, mereka bisa jadi rasialis. Kalau kumpulan diwarnai penganut agama tertentu , maka keberadaan agama lain bisa jadi sulit diterima.

Ada yang menyatakan bahwa populisme itu disamping bisa menjadi ancaman buat demokrasi, dia bisa pula jadi koreksi. Kalau elite telah melenceng jauh, populisme bisa jadi jalan untuk membawa elite kembali pada rakyat. Tapi teori lain mengatakan bahwa kita tidak bisa melihat populisme dari baik atau buruknya. Populisme yang kesukuan dan anti pluralisme bertentangan dengan hakekat demokrasi. Sifat anti-asing dan rasis populisme bertolak belakang dengan kesetaraan sosial dan politik anggota masyarakat yang dijunjung demokrasi.   

Memutus mata Rantai

 

Menjadi tugas pemerintah dan kita semua untuk memecah mata rantai internet, echo chamber, Outrageous Discourse industry, dan Populisme. Itu memerlukan kreatifitas kebijakan yang tidak mudah.

Selama ini beberapa tindakan pemerintah mungkin sudah benar. Menyadarkan masyarakat bahwa mereka tidak bisa seenaknya berbicara tanpa batas di medsos. Bahwa ada konsekwensi hukumnya. Kemudian menghalangi kemungkinan demagog mendapat kesempatan menunggangi masyarakat lewat populisme.

Kemudian bisa pula upaya sosial engineering seperti  usaha mengurangi keterbelahan masyarakat dengan membuat berbagai acara kebersamaan, seperti pesta olahraga,  dsb.

Jane Jacobs dalam bukunya The Death and Life of Great American Cities menceritakan bagaimana kota-kota besar yang bisa bertahan dalam sejarah. Didalamnya selalu tersedia tempat-tempat seperti alun-alun atau taman yang disana orang bisa datang.  Masyarakat  bisa bertemu dan saling berbicara dengan berbagai ragam anggota yang lain tanpa diatur, secara kebetulan. Suasana tersebut  membangun toleransi dan memupuk saling percaya diantara masyarakat.

Jacobs memang berbicara tentang arsitektur kota. Tantangannya bagaimana kita bisa membentuk semacam arsitektur komunikasi tempat berbagai anggota masyarakat bisa kebetulan berjumpa dan kemudian bicara.