Bulir hujan sisa gerimis semalam masih membasahi kaca jendela gedung berlantai tiga puluh dua di kawasan paling sibuk di ibukota. Aku baru saja tiba di kantor tempatku menghabiskan lebih dari sepuluh jam waktuku setiap harinya hanya demi bisa bertahan membayar cicilan rumah di pinggiran kota dan makan secukupnya. 

Matahari belum sepenuhnya memperlihatkan sosoknya yang garang ketika aku memasuki gedung perkantoran. Pukul 06.30 pagi, waktu yang sangat lazim untuk pekerja dari luar kota sepertiku tiba di kantor, demi menghindari kemacetan yang semakin siang akan semakin menggila.

Indra penciumanku sekilas mengenali aroma kopi toraja yang tengah diseduh seseorang di pantry. Tumben. Apakah selain aku dan office boy sudah ada orang lain yang datang? Biasanya aku memang menjadi orang yang paling pagi tiba di kantor, setelah office boy.

Penasaran aku melangkahkan kaki ke pantry. Namun tak ada seorang pun yang kujumpai di sana. Hanya ada sisa kopi di coffee maker yang masih berasap, serta segelas pop mie yang baru diseduh. Wah, kalau ini pasti kelakuan office boy. Hari gini siapa sih yang masih doyan makan micin?

“Sudah datang, Mbak? Pagi banget!” sebuah suara serak tiba-tiba terdengar dari belakang punggungku. Ternyata Rangga,  salah seorang karyawan paling muda di kantor, dengan rambut yang masih kusut dan hanya berkaos oblong, belum mengenakan seragam kantor, datang dari belakangku.

“Kamu tidur di kantor?” tanyaku heran. Dia mengangguk sekilas, sambil bergumam kalau kost-kostannya di tengah kota kebanjiran, sehingga dia memilih mengungsi di tempat yang lebih tinggi. Cerdas juga pemikiran milenial satu itu, karena lokasi kantorku di lantai tiga puluh satu ini tidak mungkin banjir. Kalau kebanjiran karena pipa air bocor sih, masih memungkinkan.

Karena tak ingin membuatnya malu, aku segera kembali ke ruanganku. Office boy yang baru selesai menyapu menganggukkan kepalanya ketika aku lewat. Aku berbasa-basi sejenak menanyakan istri dan anak-anaknya yang baru kembali ke kampung karena tidak betah tinggal di gang sempit yang kumuh di Jakarta.

Jejak air masih menghiasi kaca jendela ketika aku duduk melamun di mejaku. Belum banyak pekerjaan yang bisa dikerjakan sepagi ini. Sebagian besar klienku baru aktif mengirimkan email permintaan konfirmasi setelah jam sepuluh nanti. Aku masih punya banyak waktu untuk meresapi pagi yang bening ini sambil mengingat masa lalu.

Seandainya aku sedang di kampung halaman, tentu aroma tanah basah yang menyertai sisa embun pagi semakin menyempurnakan pagiku. Entah mengapa, jejak ingatanku di pagi yang basah itu tiba-tiba membawaku ke masa lebih dari 300 purnama yang lalu, ketika aku masih menjadi siswa kelas tiga sekolah dasar.

Waktu itu jam pelajaran terakhir sudah hampir usai. Tidak sampai lima menit bel akan berbunyi dan semua murid dengan perut keroncongan seperti orchestra karena tidak biasa sarapan akan segera berlari pulang dengan gembira. Ibu guru sedang mengemasi buku-buku di meja ketika teman sebangkuku setengah berlari menghampirinya. Ternyata dia meminta ijin kepada Ibu guru untuk diperbolehkan ke toilet. Tidak seperti anak jaman sekarang,  waktu itu adalah masa dimana murid sangat patuh kepada gurunya.

Karena jam pelajaran sudah selesai dan sebentar lagi sudah waktunya pulang, Ibu Guru yang galak itu tidak memberikan ijin kepada teman sebangkuku untuk pergi ke toilet. Mungkin di benak Ibu Guru, masalah pipis bisa ditahan sebentar. Tapi Ibu Guru lupa, pada usia belum mencapai sepuluh tahun, anak-anak hanya akan pergi ke toilet kalau keinginan buang air kecil sudah tidak bisa diredam lagi. Tapi karena tidak mendapat ijin dari Ibu Guru, kawanku dengan patuh kembali ke bangkunya.

Sebelum pulang, Ibu guru memimpin doa sederhana. Suasana kelas sangat hening. Hanya suara Ibu Guru yang memenuhi ruangan kelas yang kecil itu. Pada saat itulah suara air mengalir seperti gerimis tiba-tiba terdengar miris seperti mengiringi lantunan suara Ibu Guru yang tengah melantunkan doa.

Karena takut pulang kehujanan (aku tak pernah membawa payung ke sekolah), aku pun mengintip dari celah jemariku. Aku memang selalu berdoa dengan mengatupkan telapak tangan menutupi muka ketika murid lainnya berdoa sambil melipat tangan di meja dan memejamkan mata.

Tapi di luar tidak hujan. Aku celingukan karena suara air masih deras mengalir. Tak lama kemudian aroma pesing menguar dari bangku di sebelahku. Aku menoleh kepada teman sebangkuku yang tengah khusuk berdoa sambil tetap memejamkan mata sementara dari bawah bangkunya, cairan bening kekuningan mengalir deras,  berliter-liter banyaknya.

Menyadari ada yang pipis di kelas, setelah selesai berdoa, Ibu guru hanya menatap nanar teman sebangkuku. Tak sepatah kata pun terucap dari bibir tipisnya. Mungkin ada sekelumit rasa bersalah menyelinap di dada. Seandainya dia bersikap lebih humanis, tentu tak akan ada gerimis yang membuat miris di ruangan kelasnya. 

Teman sebangkuku kemudian beranjak dengan gagah keluar kelas. Semangatnya untuk tidak berkecil hati meskipun roknya basah sungguh membuatku kagum. Demikian pula teman-temanku yang lain yang hanya menatap teman sebangkuku dalam hening, juga membuatku terpana. Seakan dalam hati mereka telah satu suara, “ini salah Bu Guruuuuuuu”

Jakarta, 050220