Libertarian
3 tahun lalu · 142 view · 1 menit baca · Puisi gerimis.jpg

Gerimis di Jalan Berpasir

Kumpulan puisi karya Saidiman Ahmad.

 

Gerimis di Jalan Berpasir

Kupu-kupu bergegas pulang
melewati gerimis
yang semakin mengeras di dingin itu.

Kita berdua saja
membiarkan cerita remaja kita
basah di jalan berpasir itu

gerimis merintiki daun-daun dan bunga-bunga rumput.

Kalibata, 27 November 2009

  

Wajah Bulan

bulan penuh melayah ke wajah
dengan senyum merah lembayung itu
dikiraikannya setangan bergambar bunga setahun
kepada derai angin musim penghujan:

setangan kenang-kenangan
dari kekasih yang pergi tahun lalu.
tidurnya tak henti-henti tergegau
pada cerita cinta pertama

“mengapa begitu lama
kau biarkan aku menunggu?”

dia ingin ada yang mengaiskan
anak rambutnya yang terjurai:
dia ingin anak rambutnya
terus terjurai ke wajah bulannya.

Kalibata, 1 Desember 2009 

 

Riwayat Bulan di Papua

Telah kukatakan kepada tni,
ini negeri, negeri tuan sendiri
mengapa tuan tak tahu jalan di sini?

Kubiarkan tanahku bertutur
tentang riwayat bulan pudar pekak
juga yang lama terkubur
kini menguak muak

di lembah suram yang dulu sunyi mati.

Utan Kayu, 9 Desember 2009

  

Doa Kecil

Kuhimpun lagi doa-doa kecil masa silam
kuyup diterpa dahan-dahan hujan

kau datang lagi
lalu pergi begitu saja
meski hujan belum mereda
dan bunga-bunga masih kuncup.

Kupu-kupu terbang
burung-burung menyanyi
aku menanti-nanti, kekasih
perjumpaan terencana
yang selalu terasa belum.

Kalibata, 27 November 2009