Lonceng kecil itu gemercing tak beraturan, menggelitik telingaku yang sudah lama tak dibersihkan. Sesosok lelaki yang belakangan kuketahui sebagai Bara, si ketua komunitas, menyalakan lampu di dalam kamar yang lebih pantas disebut barak ini. Ia orang yang paling kubenci di pagi hari, juga mungkin oleh kawan-kawanku yang lain, sebab kedatangannya selalu mengusik jiwa-jiwa yang terlelap dalam mimpi.

Seperti biasanya ia menepuk-nepuk kakiku dan tidak mau pergi sebelum kuacungkan jempolku, tanda bahwa aku sudah bangun. Sebelum pergi ke kamar yang lain, sempat-sempatnya ia berteriak dengan suara merdu meskipun tak sedang bernyanyi:

            “Benedicamus Domino!!!”.

            “Deo Gratias”, aku dan seisi kamar menjawab dengan malas.

            Seorang demi seorang turun dari kasur busanya. Meraih sapu dan sebuah tongkat kayu untuk mengepel. Seperti biasa, dengan langkah tergontai kubawa badanku menuju ke kapel tua di sisi timur tak jauh dari kamar. Aku tidak sedang ingin berdoa, tujuanku hanya untuk menjalankan tugasku sebagai penjaga kebersihan kapel.

Kata kawan-kawanku, aku yang paling rajin berdoa sehingga si ketua komunitas menempatkanku sebagai tukang sapu di bagian kapel. Mungkin, dalam logika mereka, orang yang paling banyak menggunakan ruangan harus juga bertanggung jawab atas kebersihannya. Entahlah aku sendiri tidak tahu apakah harus bangga atau terhina oleh alasan itu.

            Usai bersih-bersih yang melelahkan, rupanya sinar mentari belum juga muncul. Wajar saja, karena kulihat jam besar dihadapanku masih menunjukkan pukul 04.45 WIB. Sambil berjalan pulang ke kamar, aku menengadah ke langit. Kulihat cakrawala yang masih gelap digradasi kemerah-merahan. Aku heran, mengapa pagi-pagi seperti ini langit sudah mendung mengundang hujan. Anugerah bagi para petani dan kesusahan bagi mereka yang akan berangkat bekerja. Untukku tidak ada bedanya entah nanti hujan atau tidak, kepalaku tetap terlindung oleh atap asrama ini.

            “Mas Juan! Cepetan mandi!! Nanti keduluan yang lain!!”, kata Arya, adik kelasku, setengah suara sambil menepuk pundakku. Saat ini masih jam hening, haram hukumnya untuk bersuara keras apalagi teriak.

            Aku yang kaget bukan main dengan terburu-buru mengambil handuk, “agak lama dikit ya bro, boker dulu aku.”, jawabku tanpa merasa berdosa, tentu saja dengan setengah suara.

            Jumlah kamar mandi di asrama kami memang tidak sebanding dengan banyaknya penghuni. Tidak jarang ketika waktu sudah mepet dan tak dapat jatah giliran, percikan-percikan air kran di tempat cuci baju, sudah cukup untuk membasahi wajah dan rambut. Yang penting rambut tampak basah dan tersisir, takkan ada yang bertanya sudah mandi atau belum ketika doa bersama dan Misa pagi, meskipun bau badan tak bisa dikompromi. Jangan tertawa, karena kau juga akan memaklumi bila menjadi anggota asramaku.

            Hari itu berjalan seperti biasa sesuai alur rutinitas setiap harinya. Telah tiga tahun aku hidup di sini, menjalani rutinitas yang sama nan menjemukan. Di tahun ketigaku ini rasanya sungguh amat menyiksa. Terlarut bosan aku hidup di sini. Doa-doa dan Misa yang kujalani hanya sekedar angin lalu.

Lama-lama aku semakin menyadari bahwa aku tidak cocok dengan hidup yang serba diatur ini. Apalagi di masa liburan kemarin, aku bertemu dengan Regina Ratna, gadis bermata indah yang menawan hatiku. Perkenalan singkat kami di taman kota di Surabaya sudah cukup meyakinkanku bahwa dia gadis yang istimewa. Suratnya yang kuterima kemarin, sangat membuatku senang. Aku semakin yakin untuk menulis surat pengunduran diri ini. Ya, sudah kuputuskan.

“Hey Juan, apa yang sedang kau tulis, siang-siang bolong begini?” Bara, si ketua komunitas sekaligus kawan karibku, bertanya tanpa permisi. Rupanya sudah lama ia memperhatikanku dari luar kelas.

“Aku sedang menulis surat kebebasanku! Sudah lelah aku dengan semua ini. Aku ingin terbebas dari kurungan yang menyiksaku ini.”, jawabku dengan ketus.

“Apa aku tidak salah dengar? Juan si pendoa ini ingin mengundurkan diri? Sudah kau pikirkan matang-matangkah keputusanmu ini.”, kata-katanya mengingatkanku tentang masa-masa dimana api semangat doaku masih membara. Saat dimana aku benar-benar ingin menjadi seorang pastor. Sayangnya, aku yang sekarang berbeda dengan setahun lalu. Keputusanku sudah bulat, tak cocok lagi untukku tinggal di seminari ini.

“Kau tidak salah dengar, surat ini akan kuberikan kepada romo rektor nanti malam, agar aku bisa cepat-cepat angkat kaki dari tempat ini. Keputusanku sudah bulat.” mendengar jawabku ini wajah Bara tampak sedih, maklum ia kawan seperjuanganku sejak SMP di Surabaya.

“Juan, sebagai teman sejawat, aku hanya bisa mendukung keputusanmu itu”, ia mengambil sebuah kertas, lalu menulis dengan sangat cepat, “Tapi izinkan aku memberimu ini, bukalah sebelum memberikan surat itu pada romo rektor.”

Untuk menghargainya kuterima selembar kertas yang masih terlipat rapi itu. Tanpa kuminta ia pergi meninggalkanku. Memberiku kesempatan menulis selembar kertas pengunduran diri ini. Menuliskan alasan-alasan yang mendukung keputusanku mengakhiri pembinaan ini.

Kutulis dengan sedikit ragu bahwa aku tak mampu menjalankan pembinaan ini, karena tak mampu menjalankan tiga nasihat injil, Kesucian, Kemiskinan dan Ketaatan sebagai calon imam. Air mataku menetes tiba-tiba. Keringat mengucur membasahi diri. Kubayangkan bahwa besok aku harus meninggalkan kawan-kawanku dan tempat ini.

“Sudahlah, aku sudah yakin dengan keputusanku ini. Lagipula Regina pasti senang mendengar kabar kepulanganku”. Kuselesaikan surat itu dengan sebuah tanda tangan. Sekali lagi batinku tidak tenang, mengusikku dengan sebuah pertanyaan tentang sudahkah tepat keputusanku ini.

Ketika langit mulai temaram, aku tahu tiba saatnya untuk menghadap romo rektor dan memberikan surat kebebasanku ini. Tiba-tiba aku teringat janjiku pada Bara untuk membuka selembar kertas yang diberinya tadi siang. Betapa aku bertanya-tanya dalam hati mengapa ia menuliskan sebuah nomor telepon yang tak kukenali. Dari raut mukanya tadi siang tidak mungkin ia sekadar bercanda. Sekali lagi untuk menghormati kawan baikku ini aku mencoba menghubungi nomor asing ini dengan telepon asrama di dekat kamar romo rektor.

“Halo, selamat malam”, betapa kaget dan bergetarnya aku ketika kudengar suara ibuku yang keluar dari telepon.

“Halo, ibuuuk ini aku Juan”, jawabku dengan haru. Sudah lama aku tidak mendengar suara ibuku yang berada jauh disana, di Surabaya.

“Halo le!, Juan piye kabarmu selama ini. Kamu tahu dari mana nomor ibuk yang baru. Maaf belum sempat mengabarimu”,

betapa senang dan cair hatiku yang kering setelah mendengar suara ibuku. Obrolan kami berlanjut cukup lama. Ibu menceritakan kabar keluarga yang ada di rumah, dari kakak, adik, hingga anjing peliharaan kami di rumah.

Ibuku merindukanku sama seperti aku merindukannya. Ia menghiburku dan memberikan kesegaran baru. Seperti gerimis di malam ini yang mengairi tanah yang kering. Sapaan ibuku telah membasahi hatiku yang sebelumnya kering merontang.

Membangkitkan gairah dan semangat hidupku kembali. Aku menangis dengan keras menyesali keputusanku pragmatisku hanya karena buaian gadis yang belum benar-benar kukenali.

Gerimis ini akan selalu kuingat, saat dimana jiwaku kembali lahir karena mendengar doa-doa yang tak ada habisnya dari ibuku tercinta.