Aktivis
2 minggu lalu · 1529 view · 4 min baca menit baca · Politik 14497_46695.jpg
Prabowo Subianto

Gerilya dalam Senyap

Seni perang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa pertempuran. ~ Sun Tzu

Kekalahan Prabowo pada pilpres kali ini tidak sedikit pun membuat para pendukungnya yang loyalis terkejut bahwa hasil perjuangan mereka akan seperti itu; pahit. Meski kegetolan Prabowo atau keseriusannya yang teramat teguh banyak dinyinyirin oleh buzzer lawan politik, para loyalis Prabowo yang berada di akar rumput tetap tabah dan berbesar harapan. 

Di sisi lain, buzzer itu meminta persatuan dan saling menguatkan prospek jangka panjang masing-masing pihak: pemenang fokus memberikan kerja-kerja solutif, dan pihak opisisi fokus untuk mengawal dengan memberikan kritikan-kritikan konstruktif.

Saya pikir, air mata yang jatuh setelah MK memutuskan menolak semua petitum ataupun posita tim hukum BPN Prabowo-Sandi bukanlah benar-benar air mata, tetapi itu adalah keringat perjuangan yang tak lagi keluar dari tubuh melainkan melalui mata.

Dari awal para pendukungnya tahu bahwa Prabowo adalah kandidat presiden yang kalah di pilpres tahun 2014 yang ingin mereka perjuangan kembali supaya menang, pun mereka tahu di dalam politik tidak ada yang namanya 'kebetulan'. Sungguh, Prabowo adalah satu-satunya tokoh politik paling beruntung di negeri ini.

Terkhusus bagi pendukung Prabowo, kami salut dengan keteguhan kalian berjuang memanifestasikan harapan. Saya bukan pendukung Prabowo, tetapi saya selalu senang berada di posisi orang-orang yang terancam kalah atau sudah kalah. Karena hanya di situ saya bisa belajar tentang keikhlasan dan saling menguatkan satu sama lain.

Toh kita semua tahu bahwa pada hakikatnya kekalahan hanya menimpa orang-orang yang tidak berjuang dan bisanya hanya ulurkan tangan meminta jatah ke pihak pemenang, meskipun porsi itu jatahnya kecil.

Bila Jokowi adalah pribadi yang paling berani mencintai negeri ini, maka Prabowo adalah benar-benar tandingan yang setara (individu berbanding individu). Karena tidak satu orang pun bisa menghentikannya terus mengalir di panggung politik terbesar di negeri ini.


Bayangkan saja, setelah dipensiun-rumahkan dari dunia militer, Prabowo sempat berpamitan pergi ke luar negeri dan tinggal sementara waktu di sana—dan di sini para pesaingnya seperti Wiranto, Surya Palo, dan lain-lain tetap berada di dalam negeri berakselerasi menyimulasi elektabilitas diri. 

Tetapi hanya langkah Prabowo dalam dunia politik yang tak terbendung: setelah kembali dari luar negeri ke Indonesia, karier politinya makin gemilang, bahkan dari 2004 hingga 2019 panggung pilpres menjadi milik Prabowo.

Kembali ke perkataan Sun Tzu di atas: meski sejatinya Prabowo sudah kalah sejak awal karena dirinya tidak mendapat dukung pengusaha media, birokrasi, ketua PB NU, dan aparat keamanan, serta Jokowi menang sebelum perang dimulai, dirinya tetap tampil berani. Jadi, kalau ada orang yang bilang Prabowo tidak pernah menerima kekalahan, saya katakan pendapat itu "keliru tapi bagus".

Prabowo adalah satu-satunya lawan abadi seluruh pemenang pada setiap perhelatan pilpres. Atau dalam bahasa antonisme, jangan-jangan Prabowo-lah pemenang abadi karena semua yang dianggap pemenang pernah melawan dia. Entahlah.

Yang pasti, kekalahan adalah guru seluruh kemenangan. Dan, Prabowo pasti tahu akan klausul itu; mereka yang tak pernah merasakan sebuah kekalahan tidak akan pernah menjadi pemenang sejati yang kaya akan simpati dan patriotisme.

***

"Kenalilah diri Anda, lawan, dan medan tempur, maka Anda akan memenangkan seribu pertempuran." Kalau bukan karena desakan jajak pendapat, survei, keinginan besar di masyarakat, Prabowo tidak akan maju di pemilihan presiden 2019 (baca: Media Power in Indonesia, Ross Tapsell).

Prabowo mengenali diri sendirinya, lawan, dan tahu di mana medan ia dan lawannya akan bertempur. Pun dirinya maju karena ditopang jutaan doa dan didesak jutaan harapan, bukan gegabah atau gila-gilaan semata.

Tak ada lagi jalan lain, yang konstitusional, yang bisa Prabowo-Sandi tempuh untuk menyampaikan keluh dan meminta keadilan diterjemahkan ke dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Satu-satunya pengadilan yang tersisa bagi Prabowo-Sandi adalah nurani rakyat—dan, hanya keputusan dari situ yang tidak pernah Prabowo bantah; ia patuh dan terima dengan lapang dada.

Dengan demikian, tiba waktu bagi seorang Prabowo kembali ke trayek politik yang dilaluinya sebelumnya; gerilya dalam senyap—memastikan lewat gerakan-gerakan advokatif, kekuatan legislatif, keadilan dan kemakmuran bisa menyambangi seluruh rakyat di rumah kehidupan mereka masing-masing.

Gerilya dalam senyap; menciptakan bibit-bobot pemimpin bangsa yang unggul, misalnya seperti Jokowi dan Ahok. Memastikan bahwa keberadaan orang baik tidak boleh abstain dalam dunia perpolitikan nasional atau daerah di Indonesia.


Wajah Prabowo penuh riang. Setiap kali melihat, saya selalu teringat perkataan Soe Hok Gie tentang Prabowo bahwa Prabowo itu terlalu naif. Bagi Gie, Prabowo itu selalu menganggap suatu keburukan bukan apa-apa alias tenang meski dirinya sedang dikelilingi naga yang siap menelan dirinya. 

Gie selalu meragukan kepekaan Prabowo. Sekarang saya anggap Gie telah saya menilai seperti apa seorang Prabowo. Malah, bagi saya, justru Gie-lah yang terlalu naif—pergi dan tak kembali, dan mengatakan politik itu lumpur yang paling kotor. Sedangkan Prabowo, sang kawan muda, sampai kini terus berjuang sendiri dan sesekali orang-orang di sampingnya mengkhianati dirinya.

Jika Anda mau tanya soal Gie yang hilang, pergilah ke AS dan tanyakanlah di sana. Siapa tahu saja mereka tahu tentang Gie yang tak kembali saat dirinya memilih berdiam diri di atas gunung.

Yang jelas, bagi saya, cara Gie dan Prabowo menorehkan cinta di atas kehidupan itu beda: Gie menghidupkan dalam kematian, sedangkan Prabowo mati dalam kehidupan. 

Yang saya maksud "mati dalam kehidupan" adalah Prabowo lebih memilih meninggalkan suara hati dan kemerdekaannya sendiri demi memberikan kehidupan bagi orang lain. Tetapi Gie memilih terasing asalkan merdeka.

Saya pikir, jalan kejuangan Prabowo masih teramatlah panjang dan luas membentang. Tidak menutup kemungkinan, bila banyak rakyat masih meminta dirinya maju dan polling atau survei elektabiltas dirinya masih signifikan di pilpres 2024 nanti, maka 2024 adalah, sekali lagi, menjadi milik Prabowo, bukan AHY atau Puan Maharani.

Siapa pun nanti yang menjadi pemenang di pilpres 2024 adalah dia yang paling ikhlas mencintai tanah pertiwi: di sini kami bukan turis—dan terbiasa saling membesarkan sesama anak bangsa.

Terakhir, untuk Pabowo, tetaplah sehat dan senantiasa setia berbakti kepada nusa, bangsa, dan agama. Terima kasih. Tanpa kehadiran Anda, barangkali kanca perpolitikan Indonesia tak berwarna dan bukanlah politik Indonesia.

Artikel Terkait