Mungkin kita semua pernah mendengar mitos bahwa gerhana (bulan atau matahari) terjadi akibat adanya “Bethoro Kolo”. Sosok raksasa menakutkan yang mampu menelan benda-benda langit tersebut. Maka berdasarkan keyakinan semacam ini warga segera mengambil langkah “perlawanan” dengan cara menabuh kentongan. Harapannya melalui ritual tersebut sang raksasa akan memuntahkan bulan atau matahari yang telah ditelannya.

Tentu saja mitos diatas hampir tidak lagi dipercayai oleh masyarakat Indonesia dewasa ini, terlebih lagi di era “zaman now” dimana akses informasi bagitu mudah didapat. Dengan mudah masyarakat dapat mencari informasi terjadinya gerhana secara ilmiah dimana ternyata gerhana sama sekali tidak terkait “Bethoro Kolo” tetapi terkait dengan “interaksi” benda langit tersebut dengan bumi.

Ambil contoh gerhana bulan. Gerhana bulan terjadi karena sinar bulan –yang menurut sains modern berasal dari refleksi cahaya matahari- tertutup oleh posisi Bumi. Karena cahaya matahari tidak lagi diterima Bulan maka otomatis cahaya bulan juga menghilang (inilah fase gerhana bulan).

Perkembangan masyarakat yang semakin “melek sains” tersebut tentunya bukan merupakan hal yang salah. Hanya saja sejatinya cara berfikir yang berubah ini bukannya tanpa sisi negatif. Ada bahaya terselubung yang sejatinya mengancam kehidupan masyarakat modern, yang semakin hari kian berfikir larut dalam naungan paradigma sains yang bercirikan kepastian, kenormalan, dan kontrol.

Kuatnya paradigma sains ini misalnya termanifestasikan jelas ketika mencermati ucapan sejumlah akademisi, narasumber, atau komentator yang diundang di media menjelang terjadinya fenomena gerhana. Ambil contoh akademisi yang menyatakan kapan gerhana muncul di masa lalu dan masa depan dapat dihitung secara presisi. Mungkin gerhana yang terjadi ratusan bahkan ribuan tahun dari sekarang dapat ditentukan dengan jelas.

Apakah ada yang salah jika manusia bisa menghitung dan memprediksi secara tepat fenomena alam yang terjadi di sekitar kita, termasuk dalam menghitung kapan terjadinya gerhana? Sebenarnya tidak, tetapi ketika paradigma tersebut dimutlakkan –dan inilah yang faktanya terjadi- itulah yang menjadi masalah, dimana muncul kesan bahwa segala sesuatu sudah berada di dalam kontrol manusia.

Ketika manusia merasa bahwa dirinya mampu mengontrol alam secara mutlak, maka rasa khawatir -atau lebih tepatnya kepekaan- yang ada pada diri manusia dengan sendirinya makin tergerus dari waktu ke waktu. Keyakinan akan prediksi, kontrol, dan planning yang ditopang oleh semakin majunya sains mengakibatkan kita memposisikan hidup kita selalu di mode “normal”. “Normal” yang dimaksud merujuk pada certainty (kepastian) dan melupakan adanya uncertainty (ketidakpastian).

Ketika kepekaan terhadap adanya uncertainty ini makin tergerus maka sejatinya kita semakin masuk kepada apa yang sering diistilahkan Ulrich Beck sebagai masyarakat Beresiko (Risk Society). Resiko disini terkait dengan matinya kepekaan kita, matinya kewaspadaan kita dalam membaca tanda-tanda alam (yang berubah) dan kemudian mampu menyikapainya secara cepat.

Dengan kata lain semakin kita tidak terbiasa untuk hidup dalam mode ketidakpastian, semakin kita rentan ketika berhadapan dengan situasi tersebut. Perkembangan teknologi menjadi salah satu sebab “lunturnya” kepekaan ini. Padahal suka atau tidak suka uncertainty seringkali muncul menerpa kita, termasuk kaitannya dengan soal bencana alam.

Pernahkah kita menyadari karena kita terbiasa hidup “normal” dengan listrik, maka ketika ada pemadaman kita seringkali bingung –khususnya bagi masyarakat di kota besar yang tidak menjadi langganan kasus pemadaman listrik-. Hal ini karena kita tidak terbiasa mengubah mode “normal” ke “tidak normal” sehingga menyulitkan kita ketika berhadapan dengan situasi “tidak normal” tersebut.

Contoh yang lebih besar misalnya saat terjadi bencana alam yang menimpa sebuah wilayah, misal gempa bumi. Berbagai institusi publik atau swasta misalnya karena terbiasa bekerja dalam mode “normal”, menjadi gagap ketika dihadapkan pada kondisi darurat bencana.

Perlu digarisbawahi juga, jangan berfikir bahwa situasi semacam ini hanya terjadi di Indonesia saja. Sebagai contoh di Jepang yang konon katanya sudah “terbiasa” dengan bencana alam, ternyata jika kita saksikan dari siaran nasional mereka sendiri mengungkap lemahnya kepekaan masyarakat Jepang karena sudah “ternina bobokkan” dengan kehidupan “normal” yang ditunjang teknologi tinggi. Sehingga ketika muncul bencana secara tiba-tiba, banyak kalangan masyarakat yang bingung mau berbuat apa, mau lari ke mana, sehingga kondisi semakin chaos.

Contoh sepele saja terkait kasus Jepang, misal memang sudah disediakan fasilitas semacam walkie talkie untuk berkomunikasi saat situasi daruat. Tetapi lucunya menurut penuturan warga Jepang sendiri karena tidak pernah dipakai -dan cenderung terlupakan karena hidup normal-, maka mereka tidak lagi berfikir bahwa walkie talkie tersebut membutuhkan baterai. Ketika terjadi bencana mendadak, alat tersebut tidak bisa dipakai karena energi baterai-nya sudah habis sehingga menyulitkan komunikasi.

Situasi diatas seharusnya kembali menyadarkan kita bahwa ada resiko yang terkandung dengan cara pandang modern yang kita pakai saat ini. Perlu diingat bahwa kritik diatas bukan maksudnya menyuruh agar kita kembali berfikir ala mitos, sehingga jika ada fenomena gerhana lalu kita kembali meyakini itu karena “Bethoro Kolo” yang memakan bulan. Bukan pula maksudnya kita harus menggalakkan kembali tabuh kentongan untuk mengusir sang raksasa tersebut. 

Tentu saja itu keyakinan keliru dan harus diluruskan, karena secara hakiki tidak ada makhluk yang namanya "Bethoro Kolo". 

Satu hal yang perlu direfleksikan secara lebih mendalam dari cara masyarakat tradisional memahami fenomena gerhana, ialah betapa terbiasanya masyarakat tradisional mengubah mode kehidupan “normal” ke “tidak normal”.

Bukankah masyarakat tradisional langsung berkumpul dan melakukan aksi bersama menabuh kentongan? Tentunya hal ini tidak bisa dilakukan jika tidak ada kepekaan dalam diri masing-masing warga. Faktanya dengan cepat seluruh lapisan masyarakat mengubah mode kehidupan mereka dari “normal” ke tidak normal”.

Begitu pula ketika gerhana sudah usai dengan cepat masyarakat kembali mengubah mode kehidupan mereka dari "tidak normal" ke "normal" seperti sediakala.

Dapat dikatakan spirit “eling lan waspodo” (berhati-hati dalam semua sikap dan tingkah laku) itulah yang kiranya menjadi fondasi masyarakat tradisional sehingga mereka mampu bertindak gesit sewaktu-waktu ketika memang dibutuhkan. 

Spirit itulah yang mesti kita rawat dan integrasikan dalam kerangka berfikir kita sehingga mampu menjadi “penambal lubang” cara berfikir manusia modern yang terlalu mendewakan kepastian ala sains.

Sebagai penutup, kiranya kita dapat belajar dari kasus meletusnya gunung Sinabung pada tahun 2010. Ingatkah kita pada pengakuan jujur ketua PVMBG “mbah” Rono (surono) yang mengakui prediksi lembaganya keliru ketika mengatakan bahwa gunung Sinabung tidak akan meletus pada saat itu? Ternyata fakta membuktikan hal lain dimana gunung benar-benar meletus. 

Dengan kala lain ternyata sains yang diklaim pasti itupun ternyata juga banyak menyisakan celah (dengan kata lain ketidakpastian). Sehingga tentunya sikap “eling lan waspodo” jelas mutlak diperlukan demi survivalitas manusia modern itu sendiri.