Mari sedikit saja menjauhkan pikiran kita dari istilah ‘berpikir positif’, sebab pikiran negatif sejatinya bisa saja berguna untuk membangun kewaspadaan serta menghindarkan diri kita dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kadang kala kita perlu mendengar hati kecil yang ada di benak kita, seburuk apa pun pikiran itu demi menghadapi realitas yang sesungguhnya.

Senin, 15 Juni 2020, Polres Metro Depok merilis kasus pencabulan yang dilakukan oleh pengurus Gereja Katolik terhadap para putra altar Paroki Santo Herkulanus, Depok, Jawa Barat. Namun, dari 13 di antaranya, hanya ada 2 yang berani melapor untuk sementara ini. Kepala Kepolisian Resor Metro Depok Komisaris Besar, Azis Ardiansyah dalam Tempo mengatakan, “Laporan kasus kekerasan seksual tergolong rendah karena keluarga menganggap peristiwa itu sebagai aib.”

Kasus kejahatan seksual berbasis agama bukan kali pertama terjadi di Indonesia ataupun di dunia. Jika menengok ke luar negeri, menurut laporan Komisi Independen Prancis tentang Pelecehan Seksual di Gereja, ada lebih dari 3000 anak mengalami kejahatan seksual di Gereja Katolik Prancis sejak 1950, sekitar 1500 pelakunya adalah pendeta dan pengurus gereja.

Mengalami pelecehan seksual yang kemudian diyakini sebagai suatu aib adalah anggapan yang mematahkan hati saya sebagai manusia. Logika macam apa yang digunakan hingga satu tindakan kejahatan yang membuat seseorang mengalami trauma psikologi kemudian dibiarkan begitu saja sehingga penjahat seksual bisa berkeliaran bebas di tengah masyarakat.

Kasus pelecehan ini menambah daftar panjang kasus pelecehan dan kekerasan seksual terhadap anak di Indonesia yang kian meningkat. Dikutip dari Tirto.id, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada sebanyak 21 kasus kekerasan seksual dengan jumlah korban mencapai 123 anak di satuan pendidikan sepanjang 2019. 

Dalam CNN, ditulis menurut Catatan Kekerasan Terhadap Perempuan 2019 oleh Komnas Perempuan, dari 2.341 kasus kekerasan terhadap anak perempuan di antaranya terdapat 770 kasus merupakan hubungan inses.

Luka psikis pada anak yang mengalami kejahatan seksual tidak sama seperti luka fisik yang bisa sembuh dengan sendirinya dalam hitungan minggu. Anak-anak yang menjadi korban kejahatan seksual berpotensi mengalami gangguan psikologis yang akan menghambat perkembangan, seperti depresi, RTS yang merupakan bagian dari PTSD, disosiasi, hingga eating disorder.

Satu contoh dari daftar kasus depresi akibat kejahatan seksual; pada Maret 2017 di Bandung, seorang anak memutuskan untuk bunuh diri karena depresi setelah mengalami kekerasan seksual/pemerkosaan.

Jauhkan anggapan bahwa mengalami kejahatan seksual adalah sebuah aib, sebab hal itu tidak menyelesaikan permasalahan, melainkan hanya akan memperparah luka batin bagi para korban. Bahkan ketika pelaku dibiarkan begitu saja, maka korban akan makin bertambah seiring berjalannya waktu.

Anak-anak terlahir di dunia ini bukan karena keinginan mereka. Mereka tidak bisa memilih dari keluarga apa mereka dilahirkan, di RAS apa, agama apa, di negara mana, atau di situasi seperti apa. Dunia ini bukan surga, kejahatan itu ada, ketidakadilan itu ada, sehingga sebagai manusia kita perlu mengusahakan keadilan itu dan berjuang untuk itu.

Orang tua terlebih dahulu menginginkan anak-anak mereka untuk lahir, yang kemudian secara sadar membuat bayi-bayi lucu yang bertumbuh dari hari ke hari. Hidup di dunia bukanlah perkara mudah, sebab akan ada berbagai hal yang akan terjadi. Maka bertanggung jawablah, lindungi anakmu, penuhi hak-hak mereka –setidaknya 10 hak anak yang sudah ditetapkan oleh Undang-Undang.

Anak-anak berhak merasakan kasih sayang, dipelihara dan bertumbuh dengan baik. Orang tua sangat perlu menghargai setiap ungkapan dan perasaan yang diutarakan oleh anak-anaknya, sehingga anak bisa lebih jujur dan terbuka tentang perasaan mereka. Terlebih ketika anak merasakan perasaan tidak nyaman, takut, maupun sedih.

Orang tua juga perlu memberitahu bahwa tubuh setiap orang adalah otoritas masing-masing individu, tidak boleh disentuh tanpa izin, terlebih pada bagian terlarang yang tertutup pakaian.

Terlepas dari dukungan orang tua, peran pendidik dan penegak hukum juga sangat diperlukan mengingat 30% dan 60% pelaku kejahatan seksual pada anak dilakukan oleh orang-orang terdekatnya (pengasuh, teman anggota keluarga, dan keluarga korban).

Mari dimulai dari diri kita untuk tidak menjadi pelaku kejahatan seksual, sosialisasikan kepada orang-orang terdekat akan bahaya pelecehan seksual pada anak dan pencegahannya, ajarkan pada anak akan pentingnya perlindungan diri.

Predator seksual bisa berada di mana saja. Pembahasan tentang fakta kasus pelecehan pada anak di gereja bukan bertujuan untuk memperburuk citra gereja, melainkan sebagai kritik supaya setiap individu bisa waspada dan mengerti bahwa predator seksual bisa berada di mana pun, bahkan di tempat yang dianggap suci sekalipun. 

Pihak otoritas gereja perlu menggalakkan sosialisasi di lingkungan gereja, khususnya pada anak-anak sekolah minggu dan kepada orang tua tentang pendidikan ‘tubuhku otoritasku’ berkaitan untuk pencegahan kejahatan seksual. Mari bersama-sama melindungi gereja dari para predator seksual.