Penulis
2 minggu lalu · 430 view · 6 min baca menit baca · Agama 27240_30367.jpg
Foto: Tribun Jogja

Gereja, Ajarkanlah Realitas!

Media sosial kita mendadak heboh beberapa waktu lalu di saat seorang wanita memasuki masjid sambil membawa seekor anjing. Ditengarai, wanita tersebut berusaha mencegah suaminya yang ingin melangsungkan akad nikah di masjid tersebut.

Apa yang salah dengan wanita ini? Tata krama!

Jelas, wanita ini tidak punya tata krama dan pengetahuan yang baik tentang bagaimana menghormati rumah ibadah. Jangankan rumah ibadah agama lain, ke dalam gereja sekalipun, membawa hewan peliharaan jelas tidak dibenarkan.

Bukan berarti rumah ibadah anti dengan hewan, melainkan aturan khusus, tersirat maupun tersurat, bahwa rumah ibadah harus tetap dijaga kesuciannya (meski pada kenyataannya, rumah ibadah sering dijadikan medium berbuat dosa oleh oknum tertentu).

***

Hari Minggu yang lalu, beredar pula video saling serobot mimbar di salah satu gereja di Jakarta. Berdasarkan caption yang ditulis penyebar video tersebut, hal ini terjadi karena adanya kesalahpahaman mengenai alokasi dana jemaat.

Secara jelas, kita tidak tahu duduk persoalannya. Akan tetapi, karena video polemik internal gereja itu telah menyebar di media sosial (versi YouTube sudah dihapus), beragam reaksi warganet juga ikut menanggapi, mulai dari ajakan klarifikasi bahkan sampai caci maki.

Kenapa sampai terjadi perselisihan berujung perebutan mimbar di dalam gereja? Apa yang salah dengan gereja?


***

Saya tinggal di salah satu ibu kota kabupaten di Sumatera Utara. Mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen. Di kota ini, terdapat kantor pusat salah satu gereja kesukuan. 

Secara pelayanan, gereja-gereja di kota saya sangat baik. Selain membimbing jemaat mempelajari dan menghidupi firman Tuhan, gereja juga berperan (meski tidak terlibat secara langsung) membantu pemerintah daerah mewujudkan cita-cita mulia daerah kami.

Namun, ketika saya melintas di depan kantor pusat gereja tersebut, ada sebuah pemandangan yang menarik perhatian saya. Bukan taman yang indah, atau gedung yang megah, melainkan selokan!

Ya, selokan di depan kantor pusat gereja itu penuh dengan sampah. (Saya ingin melampirkan foto selokannya, namun belum ada tools untuk memuatnya di halaman ini; foto selokan di depan kantor pusat gereja itu, bukan foto kantor pusatnya).

Seketika saya teringat berita di sebuah media yang menuliskan pesan Gubernur Nusa Tenggara Timur, Victor Laiskodat, saat memberi ceramah pada acara pelantikan 13 Frather di Kupang. Inti pesannya, mengajak gereja agar ikut berperan aktif memerangi sampah plastik dan menjaga kebersihan lingkungan.

Saya sangat setuju ini. Karena bagaimanapun, sudah menjadi tugas gereja ikut berpartisipasi secara langsung menjaga kebersihan lingkungan. Karena, bagaimana mungkin gereja melulu mengajarkan kebersihan hati di saat lingkungannya begitu kotor?

Memang bukan sebuah korelasi yang tepat saat membandingkan tingkat keimanan dengan kebersihan. Namun faktanya, kita semua tidak akan pernah nyaman beribadah di saat lingkungan sekitar kita kotor. Dan juga, bagaimana tanggung jawab kita yang rajin beribadah, namun abai terhadap kebersihan lingkungan?

Lalu, apa hubungannya antara gereja dengan wanita yang mengamuk sambil membawa anjing ke masjid dengan saling rebut mimbar di salah satu gereja di Jakarta dan tanggung jawab gereja dengan kebersihan lingkungan?

***

Saya tidak akan menuliskan ayat-ayat Alkitab pada tulisan ini. Karena jika membahasnya secara teologis, para penatua dan pendeta serta mereka yang masih kuliah ataupun sudah menggenggam gelar sarjana teologi lebih masuk akal dan mengena dalam menjelaskannya.

Saya hanya meminta bahwa gereja harus mengajarkan realitas kehidupan!

Bukan hanya terfokus mengajarkan berita keselamatan, kebaikan, surga, dan neraka saja, namun lebih kepada tata krama, toleransi, kehidupan sosial, hukum adat dan negara, serta segala sesuatu yang masih bisa dicerna akal. Sehingga nantinya jemaat tidak terjebak dalam fanatisme berlebihan hingga mengabaikan norma-norma kehidupan yang berlaku.


Wanita di Sentul City itu tidak perlu sampai mengamuk masuk ke dalam masjid bersama dengan bobby the dog kesayangannya jika pengajaran yang dia terima bisa dicerna akal sehatnya.

Gereja yang berperan dalam hal pengajaran spiritualitas mestinya mampu mengajarkan bagaimana umatnya mengontrol emosi dengan baik dalam kehidupan nyata. Tidak terlalu emosional dalam menyikapi suatu polemik yang terjadi dan mengambil keputusan saat suasana hati sudah "dingin". (nats Alkitabnya ada, tapi saya sudah janji untuk tidak menuliskannya).

Dan juga, wanita tersebut pasti paham bagaimana caranya menghormati rumah ibadah jika pengajaran yang ia terima memang menyentuh kehidupan realitasnya. Bukan hanya rumah ibadah agama lain, melainkan juga rumah ibadah di mana ia menerima pengajaran yang baik.

Di saat gereja mengajarkan realita kehidupan, wanita tersebut juga pasti paham apa yang sedang menimpanya. Jika suaminya mendua, pasti ada penyebabnya. Dalam kehidupan realitas, sebab-akibat pasti ada solusinya, dan solusi yang diajarkan gereja pastilah solusi terbaik tanpa menyakiti dan mengganggu siapa pun.

Pun demikian dengan kasus perebutan mimbar saat ibadah Minggu akan berlangsung di sebuah gereja di Jakarta. Alasan apa pun itu, jika melanggar hukum, ya selesaikan secara hukum.

Kecuali memang gereja lupa mengajarkan hukum negara ini karena terlalu sibuk mengajarkan hukum Taurat! Sehingga di saat terjadi kesalahpahaman seperti yang tengah terjadi saat ini, jemaat bingung mau melakukan apa.

Akhirnya, saling serobot, saling hina, dan saling mempermalukan satu dengan yang lainnya menjadi solusi terakhir yang mereka lakukan. Padahal, polemik internal gereja tersebut bisa diselesaikan secara damai ataupun secara hukum perdata dan pidana. Semua ada wadahnya, bukan? 

Kita tidak sedang berbicara hukum Taurat-Nya kerajaan surga. Kita sedang bergulat dengan kehidupan realitas, yang mana penyelesaiannya sudah disediakan jalur lewat norma dan hukum yang berlaku di negara ini.

Pelajaran apa yang bisa dipetik oleh anak-anak sekolah Minggu, remaja, dan pemuda gereja dari kejadian ini? Apakah dengan melihat polemik demikian, kehidupan spiritual mereka jauh lebih baik?

Bisa saja mereka berpikir bahwa di gereja sekalipun, tidak ada kedamaian itu. Tidak ada solusi terbaik yang bisa ditemukan!

Lalu, bagaimana peran gereja dalam menjaga kebersihan lingkungan?

The Spectator Index baru-baru ini merilis hasil survei negara-negara penyumbang polusi laut terbesar di dunia. Hasilnya, negara kita yang mengaku sangat religius ini nangkring di posisi kedua, di bawah China.

Artinya, agama di negara kita lupa dalam mengajarkan umatnya guna menjaga kebersihan lingkungan, atau umat beragama di Indonesia gagal menyimpulkan ajaran agama untuk menjaga kebersihan.


Bagaimana sebuah gereja mengimbau agar jemaatnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan di saat lingkungan sekitar gereja juga tidak tertata dengan rapi, sampah plastik masih bertebaran di mana-mana?

Di saat terjadi bencana alam dan sebaran penyakit karena lingkungan yang jorok, apakah kita hanya akan berkata, ini takdir Tuhan, mari berdoa agar Tuhan memberi penghiburan bagi kita? Tanpa pernah sadar bahwa segala akibat yang kita terima adalah karena sebab yang kita lakukan.

***

Tidak, tulisan ini tidak mempermasalahkan gereja secara utuh. Akan tetapi, di saat-saat seperti sekarang, gereja harus mengambil peranan penting dalam kehidupan manusia, sama seperti gereja pada awalnya memengaruhi peradaban manusia.

Jika zaman dahulu gereja berperan penting dalam memajukan kehidupan IPTEK dan sosial manusia, sudah seharusnya juga saat ini gereja berperan penting dalam mengajarkan realitas kehidupan. 

Bahwa perbuatan yang baik akan menghasilkan kebaikan secara nyata, dan perbuatan yang buruk akan memberikan dampak buruk secara nyata. Sehingga jemaat sadar bahwa jika ia membuang sampah sembarangan, ia akan berisiko terkena bencana alam dan penyakit.

Jika jemaat bertindak spontan terhadap suatu polemik yang terjadi, maka persoalan baru akan muncul. Jika jemaat tidak paham cara menghargai orang lain dan rumah ibadah, maka ia akan kehilangan harga dirinya.

Sehingga nantinya, manusia dalam berbuat tidak selalu harus mempertimbangkan "dosa" atau tidak, melainkan "berdampak" atau tidak di dalam kehidupannya dan sekitarnya.

Gereja harus segera menyadarkan jemaatnya bahwa surga itu tidak jauh dari dirinya. Manusia itu sendirilah yang menciptakan surga dan neraka baginya!

Jadi, sudah saatnya gereja mengajarkan realitas. Mengajarkan kehidupan sebab-akibat secara nyata, norma dan hukum yang berlaku, serta tata krama! Sehingga puncak dari ajaran agama, ajaran gereja, yakni kasih dan menghargai, bisa terwujud di kehidupan nyata, bukan sebatas kata!

Artikel Terkait