"Gunakan masa sehatmu, sebelum masa sakitmu."

Begitu kata dari sebuah hadis (?) dan juga nasihat dari orang tua. Hal ini benar, dan berlaku bagi diriku sendiri. Dulu, aku ingin mengerjakannya semua, dan meraih semua mimpiku tanpa melihat "kekuatan" dari tubuhku. 

Kata seorang teman, orang sakit karena kurang memiliki kecerdasan fisikal. Mungkinkah aku terlalu berpositif dan optimis menjalani semua, tanpa melihat ternyata tubuhku dan organ-organnya yang lain butuh istirahat? 

Dan akhirnya, akhirnya, aku sakit. Aku mendapat penyakit, GERDGERD adalah penyakit asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah munculnya rasa terbakar di dada akibat asam lambung naik ke kerongkongan. Intinya, ini penyakit asam lambung.

Awalnya, aku terkena penyakit ini di tahun, 2012, ketika selesai diwisuda. Namun kata dokter waktu itu, aku lagi radang tenggorakan. Pada tahun 2014, penyakitku ini kambuh lagi. Mungkin karena aku tidak menjaga pantangan dalam makanan. Seperti, makan pedas, kecut, dan gorengan. 

Tahun 2016, penyakit ini kambuh, ketika aku tidak menjaga pola makan. Ya, aku selalu terlambat makan dan melewatkan sarapan pagi ketika bekerja di suatu kampung. Akhirnya, dokter memberitahu, penyakitku ini namanya GERD. Dan pada tahun 2018, aku sakit lagi, mungkin aku kecapean, sepulang dari pulau Jawa. 

Di tahun-tahun genap, aku merasakan sakit ini. Semoga, tahun ini, 2020, penyakit ini tidak muncul lagi, amin. Padahal, penyakit GERD terjadi karena obesitas, atau perokok berat, yang bukan aku banget.

Baca Juga: Kaum Rumah Sakit

Aku pun selalu bertanya pada seorang sahabat, Nafiz, yang juga mengalami sakit yang sama denganku, GERD.

Nafiz punya banyak referensi tentang penyakit ini. Referensinya, mulai dari status orang di media sosial yang mengalami sakit ini, artikel, esai, sampai buku dari dokter yang membahas tentang GERD ini. Jadilah Nafiz "pakar" tempatku sharing. Walau kami berbagi yang lain juga.

Aku dan Nafiz mengalami gejala yang berbeda-beda. Jika GERD-ku lagi parah, telingaku akan sangat gatal dan sakit. Namun, tidak ada cairan yang keluar dari telinga juga. Hal ini disebabkan oleh tenggorakanku yang sakit akibat asam lambung yang tembus sampai ke telinga.

Sedangkan Nafiz, dia akan merasa kliyengan, pusing. Pada beberapa orang yang mengalami sakit asam lambung gejalanya memang berbeda-beda. Ada yang mengalami pusing, vertigo, mual, dan muntah. 

Banyak nasihat yang kudapatkan ketika sakit Gerd ini, baik dari dokterku dan Nafiz, yaitu;

1. Buah

Dokterku menyarankan untuk memperbanyak minum jus buah pepaya, makan pisang, dan tidak memakan buah yang kecut-kecut. Nafiz menyarankan sarapan buah pagi-pagi sampai jam dua belas siang (12). 

Nafiz menerapkan food combaining dalam hidupnya, buah dikonsumsi saat perut kosong. Menurut Nafiz, 70-80% yang dikonsumsi adalah buah dan sayur. Selebihnya baru protein hewani dan kacamg-kacangan.

2. Obat

Kata dokterku, waktu aku dirawat di rumah sakit, aku harus makan ketika mau mengonsumsi (minum) obat. Saat itu, aku memang sangat malas makan, karena takut tenggorakan akan sakit jika menelan. Kata Nafiz, sebaiknya hindari obat, diganti dengan pola makan yang sehat dan teratur.

3. Berkumur

Waktu di rumah sakit, bu dokter menyarankan diriku banyak berkumur dengan air garam. Atau obat kumur yang bermerek beta****. Dengan berkumur menghilangkan "sesuatu" di tenggorakan. 

4. Hindari tepung

Kata Nafiz, agar perut sehat (usus), kita perlu menghindari makanan yang berbahan tepung-tepungan. Seperti biskuit, burger, kue, mie, dan sebagainya (padahal favoritku semua, hikz). Nafiz telah menerapkan makan buah setiap sarapan pagi.

Asam Lambung dan Stres

Kata sebuah artikel, penyebab utama asam lambung bukan karena makan makanan pedas, asam, kecut, minum kopi, merokok, dan alkohol. Tapi, karena kurang gerak dan stres.

Kurang gerak di sini kurang berolahraga dan tidur setelah makan (kebiasaanku). Karena makanan bisa naik kembali ke kerongkonan. Makanya, kata dokterku, jangan tidur sesudah makan. Minimal dua (2) jam setelah makan lalu bisa berbaring, tidur. 

Solusinya, jika sudah mengantuk banget, aku selalu meninggikan bantal, atau bersandar pada bantal yang ditumpuk di kasur.

Stres juga memicu asam lambung baik, hari gini, siapa yang tidak stres melihat zaman, keadaan. Mending aku menulis meluapkan uneg-uneg. Namun, Nafiz dengan keren menumpahkannya dengan melukis. Gambarnya cantik-cantik, dan sangat mendalam.

Ternyata, aku sakit GERD ini menurutku karena aku kurang berolahraga. Aku memang lebih suka "berolahraga di tempat tidur" dan stres, karena marah yang dipendam sendiri. GERD memang bikin geram, tapi ini karena dari emosiku sendiri.

Terakhir, aku tetap semangat untuk sehat, tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya. Kita harus tetap melanjutkan hidup. Jangan buat susah hidup yang sudah susah. GERD akan kuobati dengan pola hidup sehat, berolahraga, dan mulai banyak makan buah dan sayur. Tidak akan terlalu sering mengandalkan obat yang bisa jadi "toxic".

Aku akan keluar dari sakit ini. Kamu? Ayo keluar dari "sakitmu" dengan travelling keluar kotamenonton di bioskop, belanja di mall, dan "makan makanan yang kamu suka", enjoy your life biar tidak stres.

Nb:

Terima kasih kepada ibu dokter bu Nani, dokter THT di rumah sakit Pelamonia, Makassar yang selama sakit telah mengobatiku. Dia adalah dokter yang sangat baik dan lembut. Sampai ada pameo yang mengatakan, "Belum berobat saja, pasien sudah sembuh. Karena melihat kelembutan dan kebaikan hatinya."

Terima kasih untuk Nafiz, semoga kita berdua segera sembuh dari GERD ini, ya, say. Seperti katamu, "Selamat menjemput sehat, mbak." Amin. Jangan lupa, kita akan sama-sama segera menemukan "Pangeran berkuda putih". He he