Penulis
5 bulan lalu · 71 view · 7 menit baca · Cerpen 27075_79381.jpg
https://beritagar.id/

Gerbong Terakhir Menuju Stasiun Kota

Nadira adalah salah satu perempuan yang bepergian dengan mengenakan Kereta Api menuju Stasiun Kota. Ia memilih Kereta Api bernama Rajawali yang dioperasikan dua kali dalam saban harinya. Yakni pagi dan sore. Ia memilih bepergian di sore hari. Sebab, sedari pagi ia harus menyelesaikan pekerjaan di hari terakhir di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengantar barang. Dan maksud kepergian dari kampung halaman tersebut adalah—dengan segala pertimbangan sebelumnya, ia ingin mencari pengalaman baru dalam menjalankan kehidupan. Ia memutuskan resign dari tempat kerja sebelumnya, kemudian bertaruh untuk mencari pekerjaan baru.

Sore yang sesak dan penuh ketidakpastian dalam hari-hari esuk di kehidupan membawa Nadira menuju pada sebuah perenungan akan dirinya. Ada sedikit hal yang kemudian disesalkan olehnya, ketika ia memutuskan untuk tidak bekerja lagi di tempat sebelumnya. Banyak pergulaan batin yang kemudian menyelimuti di otak kepalanya. Ia adalah perawan desa yang masih berumur sekitar dua puluh dua tahun. Parasnya yang cantik, hidung mancung, wajah yang cerah, kulit langsat—pria mana yang tidak akan tertarik ketika bertemunya. Di sisi lain, keputusan yang diambil adalah dampak dari keputusan kedua orang tuanya yang ia tolak. Keputusan itu adalah— ia akan dijodohkan dengan Pardi, lelaki yang merupakan temannya saat berada di sekolah dasar.

Namun, ia tidak cinta. Supaya tidak tertekan, baginya keluar dari desa tersebut adalah pilihan terbaik. Meskipun sebenarnya kedua orang tuanya belum sepenuhnya memberikan restu akan kepergiannya. Namun, lagi-lagi begitulah hidup, terkadang ada pemaksaan yang begitu berarti dan juga penolakan yang berarti. Misalnya adalah terkait mengenai cinta, pilihan karir atau hal-hal lainnya yang menjadi piranti dalam kehidupan. Nadira adalah satu dari kesekian banyak orang yang mengalami momentum peristiwa pada waktu itu. Persoalan cinta, ia punya prinsip sendiri. Baginya cinta adalah hal yang harus dihindarkan dari keterpaksaan. Cinta adalah sebuah hal yang perlu ditempuh dengan kerelaan, komitmen, dan cita-cita umur panjang akan segalanya.

***

Kereta telah melaju menyusuri jalan besi yang sungguh panjang itu. Kurang lebih pada pukul lima sore, atau lima menit yang lalu. Nadira berada di gerbong yang paling belakang dari kereta tersebut. Sesuai dengan jadwal, diperkirakan kereta akan tiba di tujuan akhir, yaitu Stasiun Kota, kurang lebih pada pukul satu dini hari nanti. Artinya, dalam waktu delapan jam ke depan, semua orang yang berada di kereta tersebut menemui bagaimana cara menikmati diri berada di gerbong. Sekali, dua kali, ada para pramusaji yang ada di restorasi menawarkan beberapa jenis makanan dan minuman. Nadira sebatas menghiraukan saja kehadiran para pramusaji tersebut.

Kini, yang terjadi, ia makin terkaget saat melihat keseluruhan bagian yang ada di gerbong—ia juga duduk di sana. Ia baru sadar kalau ia sendirian di sana. Kemudian, ia lari menuju ke gerbong restorasi yang berada tepat di sebelah gerbongnya. Menemui beberapa pramusaji yang semula menawari makanan dan minuman.

“Tuan dan Nona, maaf mengganggu waktu Anda semua.”

“Iya, Nona. Ada yang bisa kami bantu?” tanya dari salah seorang pramusaji.

“Kenapa gerbong bagian kereta yang aku tumpangi itu sangat begitu sepi? Hanya aku seorang yang berada di dalamnya.”

Para pramusaji nampak kebingungan mau memberikan jawaban kepada Nadira. Satu dengan lainnya saling melempar kode, dengan tujuan ada salah satu dari mereka memberikan penjelasan kepada Nadira.

“Ada apa, Tuan dan Nona?” tanya Nadira dengan nada cukup keras.

“Nona. Jadi sebenarnya begini ceritanya. Jangan heran ketika melihat ada salah satu gerbong di kereta ini yang nampak begitu sepi. Sebab apa? Sudah menjadi kebiasaaan, satu gerbong—dalam dua sampai tiga stasiun pemberhentian itu belum ada penumpangnya. Biasanya akan penuh ketika sudah melewati tiga stasiun pemberhentian.”

“Maksudnya bagaimana?”

“Sabar dulu, Nona. Pasti nanti akan ada penumpang lain yang ada di gerbong tersebut.” pungkas seorang pramusaji tersebut.

Nadira sudah tak bergeming lagi. Ia melangkahkan kakinya menuju tempat duduk di gerboong semula. Ia termenung dan kelihatan ketakutan. Sementara kereta yang ditumpanginya terus melaju dengan kecepatan konstan.

“Lima menit lagi, kereta api akan berhenti di Stasiun Gambus. Kepada para penumpang yang akan mengakhiri di Stasiun Gambus, silakan untuk menyiapkan diri! Periksa kembali barang—barang bawaan! Jangan sampai ada yang ketinggalan. Terima kasih telah menggunakan layanan Kereta Api Rajawali.”

Petugas kereta api memberitahukan kepada para penumpang akan pemberhentian sementara kereta. Tepatnya di Stasiun Gambus. Seberhentinya kereta tersebut, Nadira pun menunggu kedatangan para penumpang lain yang ada di gerbong—di mana ia duduk. Ia menengok ke luar lewat jendela kaca yang ada di kereta api. Benar demikian, apa yang disampaikan oleh pramusaji tadi tak ada sedikitpun yang salah. Orang-orang berbondong-bondong masuk gerbong tersebut, dengan tergopoh-gopoh dan sedikit gugup. Satu menit kemudian, kereta berjalan kembali.

***

Nadira merasa lega. Ia tidak khawatir lagi. Di gerbong yang semula hanya ia seorang, kini penuh dengan para penumpang yang lain. Pria dan wanita. Semuanya duduk sesuai dengan nomor yang tertera pada masing-masing tiket penumpang. Lima menit perjalanan dari stasiun pemberhentian terakhir, belum ada peristiwa-peristiwa sebagaimana orang di dalam sebuah kereta, seperti obrolan, aktivitas makan maupun minum hingga orang-orang yang menggunakan handphone untuk mengisi perjalanan pada waktu itu. Justru, kebanyakan orang yang ada sangat begitu kelihatan termenung dan seolah meratapi nasib yang terjadi pada kehidupan mereka. Nadira berinisiasi untuk membuka pembicaraan dengan para penumpang yang ada di sekitarnya.

“Mau perjalanan kemana, Tuan dan Nona sekalian?” tanyanya dengan melempar senyum terbaik.

Sepintas, yang terjadi, sebagaimana ketika Nadira bertanya kepada pramusaji. Satu dengan yang lainnya kelihatan mengelak dalam memberikan jawaban. Satu dengan yang lainnya saling melempar kode agra ada salah satu dari mereka yang memberikan jawaban. Nadira pun nampak bingung kembali. Rasa ketakutannya kembali muncul.

“Mau menuju Stasiun Kota, Nona. Kami semua terkecuali Anda yang berada di gerbong ini merupakan sekelompok dengan profesi yang sama. Kalau Nona sendiri mau turun di mana?” salah seorang penumpang tersebut akhirnya memberikan jawabannya.

“Satu tujuan, Tuan dan Nona. Saya pun akan berhenti di Stasiun Kota. Ini pertama kalinya saya bepergian ke Stasiun Kota. Saya berencana untuk mencari pekerjaan yang layak di kota tersebut.”

“Apakah Nona tidak takut akan kehdupan yang terjadi di kota tersebut. Betapa kerasnya dan sulitnya hidup di kota itu. Sekalipun itu saat Nona sudah mendapatkan pekerjaan yang layak. Kita mungkin yang telah mengalami dan merasakan hal tersebut. Tepat hari ini adalah perjalanan kehidupan yang ke sepuluh tahun.”

“Maksudnya bagaimana, Tuan?” Nadira kelihatan sangat begitu penasaran.

“Andaikan Engkau tahu, Nona, para gadis maupun pria yang ada di sekeliling kita dalam gerbong ini merupakan mereka orang yang bertaruh nyawa dan kehidupannya di kota itu. Mereka kebanyakan berangkat dari desa-desa maupun kampung-kampung yang nun jauh di sana. Mereka mengadu nasib, mempertaruhkan nyawa hingga berebut keberuntungan hidup di kota. Namun, kenyataannya tidak semua orang yang bepergian ke kota itu akan hidup enak dan apa-apa yang menjadi kebutuhan terpenuhi. Termasuk kita semua ini, Nona.”

Bak sebuah batu menimpa kepala Nadira, setelah mendengarkan cerita tersebut. Suasana menjadi semakin tegang. Nadira mengambil botol air minum yang di taruh di bagian tas bagian samping. Ia minum sebanyak tiga kali tegukan. Kemudian menawarkan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Perlahan, air matanya mengalir dan membasahi pipinya. Ia teringat oleh pesan dari kedua orang tuanya, sebelum ia mengambil keputusan secara sepihak untuk bepergian menuju Stasiun Kota. Tatkala kereta sudah hampir sampai ke Stasiun Kota—tempat pemberhentian terakhir Kereta Rajawali tersebut, Nadira mendapatkan penjelasan akan kisah-kisah yang pernah terjadi di gerbong, utamanya gerbong bagian paling belakang saat kereta menuju ke Stasiun Kota.

Gerbong tersebut, tak lain dan tak bukan setiap harinya yang biasa mengisi adalah mereka penumpang-penumpang yang sudah kenal antara satu dengan yang lainnya. Mereka terikat dengan lembaga kerja. Pria maupun wanita. Umurnya rata-rata diatas dua puluh tahun. Tak terkecuali dengan dampingan dari perwakilan lembaga kerja, mereka itu adalah orang-orang yang telah dijelaskan tadi—bertaruh nyawa dan berebut keberuntungan hidup di kota. Pekerjaan mereka menjadi seorang penghibur malam. Di berbagai cafe maupun hotel yang tidak jauh dari Stasiun Kota. Mereka tak sempat memikirkan aktivitas maupun kegiatan apa yang biasa orang-orang lakukan dalam kereta. Mereka hanya memikirkan bagaimana mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kehidupan.

Tidak diduga sebelumnya, gerbong bagian paling belakang dalam perjalanan Kereta Rajawali tersebut adalah terakhir kalinya yang dijalankan oleh pihak kereta. Mulanya memang gerbong tersebut dikontrak oleh lembaga kerja yang menaungi para penghibur malam sebagai akses transportasi menuju Stasiun Kota. Mereka mengantisipasi, jikalau ada kejadian yang tidak diinginkan saat para penghibur tersebut berada di sembarang gerbong yang ada di susunan kereta. Seperti halnya penyakit seksual yang bisa saja menular ke orang lain. Setelah itu, pihak lembaga kerja mengehentikan dulu kontrak salah satu bagian gerbong untuk akses para pekerjanya, dengan alasan sudah terlalu banyak orang yang bekerja menjadi penghibur malam yang masuk lewat lembaga tersebut.

Setibanya di Stasiun Kota, Nadira hanya bisa diam dan diam. Ia tidak tahu mau kemana dan mau apa. Rencananya dari apa yang dipikirkan saat masih di Stasiun awal pemberangkatan Kereta Api Rajawali hilang tak karuan. Ia berpisah dengan para rombongan penghibur malam tadi. Suasana hatinya tidak karuan. Meskipun, belum sempat terpengaruh dari cerita-cerita selama di dalam gerbong—yang salah satu peluang ada: ikut menjadi penghibur malam, dalam hatinya ia bersyukur dan membatin—pekerjaan yang banyak orang menganggapnya hina, tapi masih banyak hal yang perlu diambil hikmahnya dalam lika-liku yang terjadi.

Akhirnya, ia pun menuju ke loket, bertanya kepada petugas—apakah masih ada tiket untuk menuju ke kampung halamannya. Ia menghapus angan-angan untuk hidup di kota. Ia membeli tiket untuk kepulangan menuju ke kampung halamannya. Ia memilih kereta yang berengkat pada pukul empat pagi. Kepada petugas loket, ia menyampaikan, bahwa kalau ada dan bisa, ia meminta tempat duduk di gerbong bagian paling belakang.[]

Artikel Terkait