HIV/AIDS  merupakan salah satu momok menakutkan yang sampai saat ini masih aktif mewabah di tengah masyarakat. Bahkan di zaman milenial ini, kasus-kasus penyebaran dan pengidapan HIV makin beragam dan tidak terhitung lagi jumlahnya. Ratusan kasus menumpuk di atas koran-koran dan berbagai media online.

Mulai dari peningkatan kasus kematian akibat HIV/AIDS dari tahun ke tahun, anak-anak yang terjangkit HIV /AIDS karena ibunya postitif  HIV/AIDS, sampai orang-orang yang akhirnya terjangkit HIV/AIDS hanya karena hal-hal kecil.

Seperti salah satu kasus yang beberapa waktu lalu sempat viral, yaitu tentang seorang wanita yang terjangkit HIV, karena melakukan perawatan kecantikan. Dilansir dari tribunnews.com, wanita dengan nama yang disembunyikan tersebut berbagi pengalamannya di akun media sosial Instagram.

Wanita tersebut mengaku terserang HIV, padahal dirinya tidak pernah berganti pasangan (suaminya negatif HIV) dan tidak pernah memakai jarum suntik secara bergantian. Namun, setelah melakukan pemeriksaan, rupanya ia positif  HIV.

Dokter yang memeriksanya mengatakan bahwa ada kemungkinan ia tertular HIV, karena sering melakukan perawatan wajah (facial) dengan peralatan yang tidak steril.

Kasus HIV/AIDS diibaratkan seperti fenomena gunung es, dengan jumlah orang yang dilaporkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan yang sebenarnya. Hal ini terlihat dari jumlah kasus AIDS yang dilaporkan setiap tahunnya sangat meningkat secara signifikan.

Dikutip dari jurnal kesehatan unnes.ac.id  bahwa di seluruh dunia, setiap hari diperkirakan sekitar 2.000 anak di bawah usia 15 tahun tertular HIV dan sekitar 1.400 anak di bawah usia 15 tahun meninggal dunia, serta menginfeksi lebih dari 6.000 orang berusia produktif.

Sebelum membahas inti dari tulisan ini, ada baiknya kita berkenalan terlebih dahulu pada virus yang sejak tadi dibicarakan. Apa sih itu HIV/AIDS?

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah jenis virus yang menyerang bagian imunitas tubuh seseorang, sehingga rentan terserang berbagai macam penyakit. Sementara AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah sekumpulan gejala dan infeksi yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh akibat serangan HIV.

HIV merupakan salah satu jenis virus yang bisa menular. Penularan HIV terjadi saat darah, sperma, atau cairan vagina dari seseorang yang terinfeksi masuk ke dalam tubuh orang lain. Hal ini dapat terjadi melalui berbagai cara, antara lain: hubungan seks, berbagi jarum suntik, dan transfusi darah.

Selain itu, HIV juga bisa menular dari ibu hamil ke janin yang di kandungnya. Virus HIV juga dapat menular pada proses melahirkan, atau melalui air susu ibu saat proses menyusui.

Gejala awal infeksi HIV terbilang ringan dan mudah diabaikan. Gejala awalnya ditandai dengan sakit kepala, demam, kelelahan terus-menerus, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, ruam pada kulit, nyeri pada otot dan sendi, luka pada mulut, luka pada organ intim, sering berkeringat di malam hari, dan diare.

Dari gejala-gejala ringan di atas, HIV  ternyata mampu menghilangkan nyawa seseorang. Menurut World Health Organization (WHO), HIV/AIDS adalah salah satu dari 10 penyebab utama kematian di seluruh dunia. 

Sangat disayangkan sampai saat ini belum ada obat ataupun terapi yang seratus persen dapat menyembuhkan HIV/AIDS. Sehingga  banyak percobaan-percobaan dan penelitian yang dilakukan oleh berbagai ilmuan di berbagai dunia. Penelitian tersebut bertujuan untuk menemukan formula penyembuhan bagi virus dan penyakit mematikan ini.

Salah satu hasil penelitian yang memberikan titik terang bagi persoalan HIV/AIDS adalah hasil penelitian yang dilakukan di German Research Centre for Environmental Health, Munich.

Tim yang dipelopori oleh Dr. Markus Helfer dan Prof. Dr. Ruth Brack-Werner dari institut virologi dan Prof. Dr. Philippe Schmitt-Koplin dari unit penelitian Analitikal Biogeokimia melakukan penyelidikan mendalam mengenai ekstrak bunga geranium.

Penelitian tersebut menemukan bahwa ekstrak bunga geranium dipercayai bisa menyembuhkan AIDS. Hal ini dilansir dari halaman web Helmholtz Zentrum München.

Geranium atau Pelargonium sidoides (PS) adalah salah satu dari 300 spesies tumbuhan abadi atau semak dalam keluarga Geraniaceae. Tumbuhan ini berasal dari Afrika Selatan. Bunga dari tumbuhan ini memiliki warna putih, merah muda, merah, dan ungu. 

Selama ini bunga geranium diketahui sebagai tanaman yang bisa mencegah gigitan nyamuk. Hal ini dikarenakan geranium mengandung zat geraniol dan sitronelol. Kandungan tersebut sangat tidak disukai oleh nyamuk karena baunya yang harum saat tertiup angin.

Selain untuk mengusir nyamuk, geranium juga sangat cocok untuk dijadikan sebagai tanaman hias karena memiliki warna bunga yang sangat cantik.

Namun, siapa sangka, ternyata di balik keharuman dan kecantikannya, bunga yang satu ini memiliki khasiat lebih dan sangat dibutuhkan. Para ilmuwan dari Helmholtz Zentrum München menunjukkan bahwa ekstrak akar dari bunga ini memiliki kemampuan untuk menginaktivasi HIV-1.

Seperti yang telah diketahui bahwa HIV dibagi menjadi dua tipe, yakni tipe 1 dan tipe 2. HIV-1 dapat ditemukan di seluruh dunia, sementara HIV-2 jarang ditemukan di tempat lain selain di Afrika Barat. Kedua tipe virus tersebut bertanggung jawab menyebabkan penyakit AIDS pada manusia dan ditularkan dengan cara yang sama.

Para ilmuwan dari Helmholtz Zentrum München menunjukkan bahwa ekstrak yang diambil pada bagian akar tanaman geranium mengandung senyawa, yang mampu menyerang HIV-1 dan mencegah virus bereplikasi.

Dari penyelidikan tersebut didapatkan hasil yang menunjukkan bahwa ekstrak dari tumbuhan geranium ini melindungi darah dan sel-sel kekebalan tubuh dari HIV-1. Secara efektif, ekstrak dari bunga cantik tersebut mampu mencegah virus menyerang sel-sel dalam tubuh. 

Ekstrak dari geranium berpotensi menjadi pengobatan baru AIDS karena mengandung senyawa anti HIV-1 kelas baru. Analisis kimia menunjukkan bahwa efek anti HIV-1 dari ekstrak geranium disebabkan karena adanya kandungan polifenol. Polifenol yang diisolasi dari ekstrak geranium ini mampu mempertahankan tubuh dari HIV-1.

Saat ini beberapa uji klinis terhadap ekstrak tumbuhan geranium telah dilakukan. Di Jerman sendiri, ekstrak geranium diijinkan sebagai obat herbal  untuk mengurangi bronkitis akut. Tanaman tersebut telah dilegalkan penggunaannya sebagai obat herbal.

Brack-Werner yang merupakan ketua tim dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa ekstrak geranium  sangat menjanjikan untuk pengembangan pertama phytomedicine (pengobatan yang berasal dari tumbuhan) terhadap HIV-1.

Menurutnya, ekstrak geranium mempunyai cara yang berbeda dalam melawan HIV-1, tidak seperti obat anti HIV-1 yang lain dalam penggunaan klinis.  Selain itu juga keunggulan dari ekstrak ini yaitu mudah untuk diproduksi.

Meskipun nantinya ekstrak geranium benar-benar berhasil seratus persen dalam membasmi virus HIV, namun hal-hal terkait penyebaran HIV tetaplah harus dihindari. Karena mencegah jauh lebih baik dari mengobati. Ayo jauhi virus HIV!