Mahasiswa
3 tahun lalu · 175 view · 3 min baca menit baca · Ekonomi screenshot_2016-05-30-05-48-24_1.jpg

Gerakan Zakat Gaya Baru

“Masyarakat Madani adalah ketika masalah keumatan diselesaikan oleh kemandirian umat itu sendiri.” [Kang Emil]

Zakat adalah salah satu solusi untuk mengenaskan kemiskinan. Proposisi kalimat tersebut adalah kesimpulan bagi Walikota Bandung, Ridwan Kamil (selanjutnya dibaca Kang Emil). Sebagai salah satu solusi untuk mengentaskan kemiskinan yang ada, pemerinah harus dapat memfasiliasi masyarakat yang akan membayar zakat dengan cara menghadirkan suatu sistem yang baik. Dari itu, Kang Emil menginisiasi ‘Gerakan Ayo Zakat’ untuk menjawab permasalahan yang ada.

Gagasannya sangat cerdas dan genuin, karena Gerakan Ayo Zakat tersebut dapat diakses melalui aplikasi smartphone yang dapat anda download di Play Store. Jika tak percaya, silahkan anda unduh aplikasinya sekarang. Jika aplikasi smartphone diklasifikasi menjadi dua bagian, yaitu yang syar`i dan non syar`i, maka aplikasi Gerakan Ayo Zakat yang digagas oleh Kang Emil ini adalah sebuah aplikasi yang syar`i nan islami.

Disebutkan bahwa Gerakan Ayo Bayar Zakat adalah gerakan yan digagas oleh Pemerintah Kota Bandung yang bekerjasama dengan Badan Zakat Nasional (Baznas) dan Forum Organisasi Zakat (FOZ) yang ada di wilayah Kota Bandung, dengan tujuan untuk mengajak masyarakat dalam menunaikan kewajiban membayar zakat dengan mudah dan optimal dalam pemanfaatannya.

Atas adanya Gerakan Ayo Bayar Zakat tersebut, saya menilai ada dua keuntungan yang didapatkan oleh Kang Emil; Pertama, membantu Pemkot Bandung dalam upaya mensejahterakan warganya. Dawuh Kang Emil: “Kalau penduduk Bandung 2,5 juta jiwa, yang (kelas, ed.) menengah ke atasnya dua juta orang, berarti ada potensi Rp. 2 trilyun. Sementara warga Bandung yang miskin kurang lebih ada 50 ribuan kepala keluarga.” Jelas bahwa gerakan zakat ini dapat meringankan beban Pemkot Bandung dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Hasil dari pengumpulan zakat itu pun secara praktis dapat disalurkan secara transfaran dan maksimal ke dalam program pendidikan, kesehatan dan bahkan bantuan modal bagi warga miskin untuk merintis usaha mandiri. Dari itu, sekali lagi, beban pemerintah akan menjadi sangat ringan dalam upanya menyejahterakan rakyatnya.

Kedua, Kang Emil dan timnya insyaallah akan mendapatkan pahala yang sangat luar biasa dari Allah Swt. Ingat, sebagai muslim, kita wajib percaya itu. Mengapa tidak, zakat adalah kewajiban (fardlu `ain) bagi setiap individu muslim yang mampu dan telah mencapai nishab. Zakat juga merupakan salah satu bagian dari Rukun Islam yang lima; Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa dan Haji.

Dan dalam hal itu, Kang Emil telah beramal saleh dengan cara memberikan fasilitas dan kemudahan bagi umat muslim untuk beribadah dengan cara-cara yang sangat mudah dan modern. Umat muslim diberikan kemudahan dalam rangka beribadah sesuai dengan ketentuan Syari`at Islam.

Gerakan Ayo Zakat yang diinisiasi Kang Emil adalah bagian dari upaya aktualisasi nilai-nilai keislaman yang diwujudkan dalam suatu amal kemanusiaan (amal saleh). Dalam al-Qur`an Surat al-Baqarah, Allah menyatakan: “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan Hari Akhirat serta beramal saleh, maka baginya adalah pahala dari Tuhannya, mereka itu tidak akan merasa takut dan tidak pula merasa sedih.”

Zakat adalah Solusi Terakhir

Di tengah arus kebebasan sistem ekonomi, nampak jelas adanya kesenjangan yang sangat luar biasa antara si miskin dan si kaya. Meski pada prinsipnya Islam sendiri tidak membatasi hak kepemilikan harta kekayaan seseorang, namun kejahatan dalam bidang ekonomi kerap terjadi.

Nurcholish Madjid menyatakan bahwa kejahatan di bidang ekonomi yang menyeluruh adalah penindasan oleh kapitalisme. Sesudah syirik, kejahatan terbesar kepada kemanusiaan adalah penumpukan harta kekayaan beserta penggunaanya yang tidak benar, menyimpang dari kepentingan umum, tidak mengikuti jalan Tuhan. Dalam hal menarik garis pemisah yang jauh antara si kaya dan si miskin, Nurcholish Madjid sendiri menyebutkan bahwa zakat adalah solusi terakhir yang ditawarkan dalam sistem ajaran Agama Islam.

Baginya, zakat adalah penyelesaian terakhir masalah perbedaan kaya dan miskin itu. Zakat dipunguti dari orang-orang kaya dalam jumlah presentase tertentu untuk dibagikan kepada orang miskin. Zakat dikenakan hanya atas harta yang diperoleh secara benar, sah, dan halal saja. Sedang harta kekayaan yang haram tidak dikenakan zakat tetapi harus dijadikan milik umum guna manfaat bagi rakyat dengan jalan penyitaan oleh pemerintah. (Lihat: Nilai-nilai Dasar Perjuangan HMI)

Alhasil, tidak perlu menunggu terlebih dahulu ‘sistem khilafah’ tegak di muka bumi ini hanya untuk menyelesaikan masalah keumatan. Di tangan pemimpin yang amanah, cerdas, dan visioner, insyaallah tatanan masyarakat madani dapat terwujud. Tentunya kriteria pemimpin ideal seperti itu harus didukung dengan suatu sistem yang baik pula. Dawuh Kang Emil: “Kita butuh orang-orang baik bertemu dengan sistem yang baik.”

Dan semoga Gerakan Ayo Zakat yang diinisasi oleh Kang Emil dan Pemkot Bandung dapat menjadi solusi dalam hal mewujudkan tatanan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai oleh Allah Ta`ala. Semoga!

Artikel Terkait