Akhir-akhir ini, sering kali beberapa orang menyebut istilah “radikalisme” dan bahkan istilah tersebut sudah tidak asing lagi di telinga. Namun, bukan hanya menyebut bahkan ada yang mengaitkannya dengan Islam. Jika dilihat secara istilahnya, radikalisme bukanlah sesuatu yang bersifat negatif. Radikalisme hanyalah sebuah upaya yang mendalam dan menyeluruh untuk memahami dan memperoleh secara total.

Namun sejak gencarnya tragedi pemboman oleh para teroris yang melabelkan diri dengan Islam, makna radikalisme dan terorisme bercampur aduk dan diartikan sebagai upaya melakukan perubahan secara arogan dan brutal. Makna tersebut diperkuat dengan munculnya oknum-oknum yang melabeli diri dengan Islam dengan melakukan sejumlah tindakan yang tergolong anarkis.

Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sendiri, radikal berarti amat keras menuntut perubahan dan maju dalam berpikir atau bertindak. Radikalisme adalah paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis.

Sedangkan menurut Wikipedia, radikalisme adalah suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaruan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Radikalisme menyebar di segala bidang mulai dari ranah politik, agama, sosial, dan lain sebagainya. Namun disayangkan, akhir-akhir ini radikalisme telah diidentikkan dengan Islam hingga muncullah istilah Islam Radikal.

Gerakan radikal seperti di atas sebenarnya bukan hal yang baru dalam Islam. Kalau kita melihat kembali sejarah permulaan Islam, gerakan semacam itu sudahlah ada. Bukankah sejarah menjelaskan kepada kita bahwa Khulafaurrasyidin selain Abu Bakr meninggal terbunuh dan pembunuhan mereka dilakukan oleh kelompok radikal dalam tubuh Islam sendiri?

Seluruh umat Islam mengakui bahwas Islam itu adalah agama yang damai dan membawa kedamaian. Dengan begitu, sudah jelaslah bahwa gerakan radikal itu sebenarnya bertentangan dengan hakikat Islam yang damai dan membawa kedamaian.

Tetapi, dengan demikian bukan berarti bertindak keras demi kepentingan Islam itu dilarang secara mutlak. Hanya saja tindakan tersebut memiliki batasan-batasan tertentu. Ketika tindakan tersebut tidak melewati batas kewajaran, maka tindakan tersebut tidak termasuk ke dalam gerakan radikal tetapi lebih cendrung termasuk kedalam konsekuensi logis dari umat Islam demi agamanya.

Patut dicermati tulisan dari K. H. Saifuddin Zuhri (seorang tokoh Nahdlatul Ulama yang pernah memegang jabatan Menteri Agama RI):

“Aspirasi Islam itu senantiasa tumbuh melandasi aspirasi nasional kita yang berkembang menjadi budaya nasional yang bercorak Islam dan berjiwa patriotik. Hanya saja, tiap-tiap dihadang oleh kekuatan yang hendak menghambat Islam, maka orang-orang Islam menjadi bangkit semangatnya untuk mempertahankan keyakinan mereka. Hal demikian itu adalah konsekuensi logis dan bukan radikalisme apalagi ekstrim.”

Sejauh ini bisa disimpulkan bahwa bertindak dan melakukan sesuatu untuk kepentingan Islam itu adalah suatu hal yang wajar dan mesti dilakukan oleh seluruh elemen umat Islam. Namun, bertindak bukan berarti melakukan kekerasan apalagi sampai berbuat anarkis. Tindakan yang seperti inilah yang disebut gerakan radikal.

Jika kita bisa membawa Islam dengan kedamaian mengapa mesti melakukan tindak kekerasan. Meskipun bertindak keras itu tidak dilarang secara mutlak, tetapi harus tetap mempertimbangkan dan memperhatikan batasan-batasan, akibat-akibat, dan konsekuensi dari tindakan tersebut.

Jika tindakan tersebut hanya membawa mudarat (hal buruk) untuk Islam dan umat Islam, justru tindakan tersebut menjadi terlarang karena tidak sejalan dengan prinsip Islam yang menghindari munculnya mudharat (hal buruk).

Betapa banyak kerusakan-kerusakan yang timbul dari tindakan-tindakan anarkis oleh beberapa oknum yang mereka anggap itu semuanya “demi Islam”. Kalau kita renungkan kembali, apakah Islam itu termasuk ajaran yang melegalkan kerusakan demi kemaslahatan Islam (menyebarkan Islam dan memberantas kemaksiatan)?

Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu dan mengklaim mereka sebagai gerakan radikal. Hanya saja tulisan ini bermaksud untuk saling mengingatkan sesama umat Islam agar tidak bertindak terlalu berlebihan. Semuanya memiliki batasan tertentu. Jika batasan itu dilanggar, maka akibatnya justru kembali kepada Islam itu sendiri. Cukuplah kita bertindak sewajarnya dan tidak perlu berlebihan.

Perlu diingat bahwa Islam itu agama yang damai dan membawa kedamaian. Tidak ada satu tindakan anarkis pun yang tergolong damai apalagi membawa kedamaian, justru dari tindakan anarkis inilah muncul permusuhan dan dendam yang berujung kepada kekacauan dan kehancuran. Bukankah Islam itu damai dan membawa kedamaian? Lalu kenapa berujung kepada kekacauan dan kehancuran? Maka pikirkanlah kembali!