Indonesia sebagai sebuah ruang peradaban yang besar, dalam catatan sejarahnya, pernah melahirkan seorang sosok dengan segala pemikiran luar biasanya bernama Soekarno; kelak dikenal dengan sebutan Bung Karno. 

Selain sebagai seorang politisi dan pemimpin bangsa, Bung Karno muda tumbuh dengan segala pengalaman kebejatan dan ketimpangan kolonialisme yang dia rasakan, melahirkan sebuah pemikiran yang sampai hari ini masih diimani dan dianut banyak pemuda Indonesia. Bung Karno menempatkan dirinya sebagai salah seorang filosof atau pemikir yang dimiliki bangsa ini melalui buah hasil – masterpiece – dari dialektikanya yang hari ini sampai nanti dan mungkin pula abadi dikenal dengan nama Marhenisme.

Marhaenisme dikenal sebagai ideologi khas yang dilahirkan Bung Karno. Sebuah pemikiran sosial-politik yang dikembangkan dari rahim Marxisme yang diwariskan oleh Karl Marx; salah seorang filosof Kiri. Sebagai gerakan Kiri, Marhaenisme-nya Bung Karno menjelma tumbuh sebagai sebuah ajaran dan senjata pencerahan maupun pembebasan bagi kaum atau komunal masyarakat yang tereduksi oleh sebuah sistem ataupun rezim.

Secara epistimologi filsafat, Marhenisme adalah sebuah ajaran yang terbentuk dari nilai-nilai fundamental kebangsaan yang dimiliki bangsa Indonesia, yakni nasionalisme, demokrasi, dan Ketuhanan yang Maha Esa. Dan secara khusus, pandangan ekonomi ala Marhaenisme terilhami dari buah pikir Sosialisme, yakni menempatkan modal atau alat produksi bukanlah sebagai alat melipat-gandakan keuntungan dan sah dimiliki secara individual, melainkan sebagai alat atau media dalam menyejahterakan masyarakat secara rata dan adil. 

Istilah Marhenisme sendiri pertama kali digunakan Bung Karno dalam pledoinya yang fenomenal pada tahun 1930, yakni Indonesia Menggugat.

Beriringan dengan masa pergerakan nasional dalam rangka memperjuangkan revolusi kemerdekaan, Marhaenisme sebagai sebuah ideologi melahirkan berbagai macam kultur organisasi dan gerakan yang turut mewarnai perjuangan bangsa Indonesia dari masa ke masa.

GMNI dan Gerakan Marhaenis

Aktualisasi Marhaenisme tertuang dalam berbagai gerakan dari setiap lini masa zaman. Di era awal lahirnya ideologi ini, Marhenisme dikobarkan langsung Bung Karno muda bersama rekan-rekan seperjuangannya di Partai Nasional Indonesia atau PNI. 

Bersama Bung Karno, PNI dan Marhaenisme menjadi kekuatan utama perjuangan kemerdekaan yang digerakkan oleh para kaum nasionalis-sekuler. Berbagai catatan gagasan progresif menentang kolonialisme pernah dikeluarkan oleh para pengikutnya sebai obor perjuangan ideologi.

Namun, seperti halnya sama dalam belahan sejarah mana pun. Ideologi bukan tumbuh secara aktivitas praktis di partai politik seperti Marhaenisme dan PNI, ideologi tumbuh dan berkembang melewati proses dialektiknya di ekosistem intelektual seperti sekolah dan universitas. 

Lingkungan intelektual yang bebas dan merdeka dari segala intervensi kepentingan inilah, dasar, asas, nilai sebuah ideologi dirawat dan terus dikembangkan sebagai pisau kritis dalam menjawab berbagai permasalahan kehidupan masyarakat, termasuk Marhaenisme yang diadopsi dari buah pikir Bung Karno.

Marhaenisme melahirkan wadah intelektualnya melalui pendirian organisasi gerakan aktivisme mahasiswa di Surabaya pada tanggal 23 Maret 1954 dengan nama GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia). GMNI lahir dari upaya peleburan berbagai gerakan mahasiswa yang memiliki alur dan tipologi yang sama; nasionalis-marhaenis, yakni Gerakan Mahasiswa Marhaen (Yogyakarta), Gerakan Mahasiswa Merdeka (Surabaya), dan Gerakan Mahasiswa Demokrat (Jakarta). 

Pendirian GMNI ini bertujuan menghimpun pemuda-pemuda terkhusus mahasiswa untuk merawat dan menerapkan ideologi Marhenisme, pada selanjutnya anggota gerakan mahasiswa ini dikenal dengan sebutan Marhaenis.

Pada perjalanannya, GMNI menjadi salah satu gerakan mahasiswa nasionalis yang turut mewarnai perjalanan sejarah bangsa. Di awal pembentukannya, GMNI menjadi alat media revolusi yang digaungkan Bung Karno dalam mengawal agenda revolusi ala Nasakomnya. 

Bersama organisasi induknya – PNI sebelum fusi menjadi PDI di era Orde Baru – GMNI menjadi pelopor dalam menungkan ide-ide gagasan revolusi dan menjadi wadah yang melahirkan banyak kader dan tokoh-tokoh muda yang mengisi berbagai peran penting pemerintahan Republik Indonesia. Di era-era selanjutnya, GMNI juga turut menjadi bagian dalam berbagai peristiwa transformasi massa, seperti revolusi di tahun 1966 dan reformasi di tahun 1998.

Gerakan yang Kian Usang

Di era reformasi, setelah bangsa yang besar ini mengalami kediktatoran rezim Orde Baru yang sangat masif dan dalam jangka waktu yang lama, GMNI menjadi satu-satunya gerakan kaum Marhaen yang masih eksis di permukaan sejarah pergerakan. Hal ini dipengaruhi pasca tragedi politik dan kemanusiaan di tahun 1965, Orde Baru di bawah pimpinan Soeharto mereduksi berbagai pengaruh Bung Karno dan Marhaenisme, termasuk partai-partai di bawah pengaruh tersebut maupun GMNI sendiri.

Setelah melewati tekanan panjang tersebut, GMNI sebagai gerakan Marhaenis yang masih mempunyai kekuatan dan pengaruh yang besar dan luas, bereksistensi dengan pola aktivisme yang berbeda. 

Pengalaman panjang kedekatan GMNI dengan organisasi partai politik, GMNI makin kehilangan napas murni ideologinya. GMNI semakin jauh dari semangat Marhaenisme yang dulu melahirkan gerakan ini dengan ditandai makin lesu dan redupnya semangat Marhaenisme sebagai obor pembebasan dari berbagai penindasan sistem.

Jika dulu GMNI tampil sebagai corong yang menyuarakan suara ideologi yang berpihak pada semangat nasionalisme dan sosialisme ala Indonesia, hari ini GMNI sebagai gerakan Marhaenis lupa terhadap rahim yang melahirkan. Wajah GMNI hari ini jauh dari nilai progresivitas.

Wadah intelektual yang dulu melahirkan gagasan nasionalisme dan semangat ekonomi-politik yang berpihak pada rakyat kecil, hari ini gerakan Marhaenis ini tak lebih dari wadah yang melahirkan calon pemuda-pemuda oportunis dan pragmatis yang haus akan kuasa dan jabatan. 

Kader-kader Marhaenis yang dulu dalam catatan sejarahnya paling lantang berpihak pada kaum tertindas sebagai amaliah ideologinya, hari ini bertolak belakang dengan hanya melahirkan politisi yang bersiap mendapat giliran masuk dalam lingkaran kekuasaan dan tampil sebagai pengkhianat ideologi organisasi sebagai wajah intelektual kiri dengan makin banyaknya catatan para alumni yang masuk dalam radar pelaku korupsi di berbagai instansi birokrasi.

Semangat Marhaen yang dulu menyala terang sebagai pelita pembebasan, GMNI yang menginjak usia ke-66 tahun ini kian mengantarkan dirinya sebagai gerakan Marhenis yang hanya sibuk menggemukkan dirinya. Gerakan yang haus kuasa, oportunis, pragmatis, selayak monumen besar yang kaya akan catatan sejarah namun usang dan makin kehilangan arti jati dirinya.

Marhaen mungkin akan selalu menang di hati rakyat proletar yang oleh Bung Karno disebut Marhaen dan dijadikan istilah pemikirannya, namun tidak pada gerakan Marhaenisnya, terlebih GMNI dalam tanda kutip untuk hari ini.

Digahayu GMNI.