Gerakan Mahasiswa pada era orde baru merupakan bentuk keberanian generasi muda pada saat itu. Kita mengetahui bersama bahwa reformasi hari ini yang sedang kita rasakan merupakan buah dari perjuangan para kaum pergerakan pada saat perisitiwa gerakan besar mahasiswa dan rakyat di tahun 1998. Di masa penuh perjuangan untuk menumbangkan rezim Soeharto, mahasiswa berkumpul di pusat- pusat pergerakan hanya mengandalkan alat komunikasi yang serba terbatas.

Kunci dari pergerakan pada saat itu adalah keberanian dalam bergerak dan berkonsolidasi selebihnya mungkin saja menggunakan semacam surat, pager, atau telpon umum. Dan pada akhirnya lahirlah REFORMASI, tentu hari ini kita sebagai generasi muda berterimakasih kepada para pejuang reformasi yang berhasil menumbangkan rezim orde baru.

Slacktivism

Berbeda dengan zaman sekarang ini dimana kecanggihan teknologi tidak dapat membuat satu kesatuan aksi nyata terwujud untuk gerakan mahasiswa, mungkin ada tapi hanya beberapa saja yang efektif.

Didalam kondisi pergerakan mahasiswa sekarang, Gerakan mahasiswa lambat namun terarah mulai menjadi slacktivism bukan lagi aktifis mengutip dari Morozov (2009) Slacktivism adalah Gerakan dimana tiap-tiap orang berteriak kencang di media sosial tetapi nihil di gerakan offline (nyata). Perbedaan antara aktifis dan slacktivism dapat kita lihat dari link  http://raiactivism.weebly.com/activism-vs-slacktivism.html.

Generasi “Power Bank” not “People Power”

William Strauss dan Neil Howe dalam buku Generations: The History of America's Future 1584-2069 (Quill New York, 1991) menyajikan teori generasi. Didalam teori generasi itu dibagi menjadi beberapa lalu diberi label X, Y. Generasi Y ada setelah generasi X (lahir 1961- 1981).

Generasi Y dikenal sebagai generasi millenial atau millenium dan tumbuh besar di era teknologi informasi. Mahasiswa sekarang dapat dikategorikan masuk generasi Y, saya menyebutnya generasi power bank karena sebagian tak bisa lepas dari gadget dan power bank nya.

Tentu tidak salah tetapi jika fokusnya hanya di smartphone itu akan menjadi masalah, sebab jika kita ingin membangun suatu gerakan mahasiswa yang berbicara persoalan gerakan moral (moral force) yang membantu menyuarakan keadilan ditengah- tengah masyarakat harus dimulai dengan melangkah langsung terjun blusukan ke tengah- tengah masyarakat untuk melihat dan merasakan serta mengadakan konsolidasi bersama rakyat untuk bergerak membentuk people power.

Energi Habis di Media Sosial

Trending topic, cyber bully, hoax, retweet, hashtag, share, like, comment menjadi kata sehari- hari generasi muda sekarang.

Sherry Turkle dalam tulisannya I share, therefore I am menyampaikan bahwa di era sekarang ini akun media sosial yang kita punya sering kita pergunakan untuk mengungkapkan perasaan didalam diri kita dan merasa bahwa dengan membagi “share”  perasaan tadi, kita akan segera terhubung dengan teman lainnya sehingga membuat perasaan cemas berubah menjadi nyaman. Didalam hasil survey yang saya kutip dari wearesocial.com, tertera dari situs tersebut bahwa rata-rata masyarakat Indonesia bisa menghabiskan waktu ± 3 jam untuk berselancar di media sosial.

Generasi muda mungkin bisa saja menghabiskan waktu beraktifitas di media sosial lebih dari yang tertera di survey, mungkin bisa 4 sampai 6 jam bahkan lebih. Penyebabnya sederhana karena konten yang ada di media sosial menghipnotis kita untuk betah berlama- lama di media sosial.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan generasi muda menjadi malas bergerak dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Kalau sudah seperti itu kejadiannya maka tepat sekali yang dikatakan oleh Sherry Turkle, Connected but alone ?, terhubung lewat media sosial tetapi tetap asik sendirian saja.

Gerakan Digital

Saya mau mengulas sedikit dengan istilah gerakan digital, dipikiran saya era teknologi informasi sekarang ini yang dipenuhi oleh Generasi Y membuat perubahan pola dalam gerakan- gerakan berbasiskan masyarakat. Bersuara di media sosial menimbulkan banyak dampak positif dan negatif, dari dampak itu kemudian lahirlah sebuah konsep gerakan sosial. Saya ambil beberapa contoh kasus seperti gerakan koin peduli Prita, Save KPK, dll.

Kejadian seperti Arab Spring, Umbrella Movement Hongkong dimulai melalui jejaring media sosial. Di Indonesia gerakan kaum muda melalui jejaring media sosial telah berubah menjadi gerakan mengawal deklarasi dan memberi dukungan kepada calon kontestasi pemilu, seharusnya jika memang mahasiswa sadar yang perlu dikawal adalah Demokrasi bukan malah ikut- ikutan deklarasi.

Gerakan Digital ini pun berevolusi hingga terbentuklah konsep kelompok cyber, bisa dikatakan cara kerja kelompok cyber ini beternak akun fiktif dan fokus memantau segala aktifitas yang terjadi di media sosial, kelompok ini bisa membully secara liar, memainkan propaganda berbentuk audio dan video, dan sayangnya tiap- tiap dari kita bisa terjebak dan dijadikan target korban.

Melawan Gerakan Digital Dunia Maya

Kunci utama melawan upaya pelemahan gerakan mahasiswa adalah melalui pemanfaatan media sosial untuk menggabungkan jaringan komunikasi bersama dan membentuk ruang baru guna merealisasikan gerakan mahasiswa di dunia nyata. Pola penyatuan gerakan bisa melalui petisi, grup media sosial dan blog.

Mental anak muda harus berani dalam menyuarakan kebenaran, jika masih takut dan menghindar agar tidak di bully di media sosial maka lebih baik berhenti menjadi kaum pergerakan. Sikap generasi muda bukanlah untuk menolak perkembangan teknologi yang ada tetapi memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memperjuangkan kebenaran dalam pergerakan.

Bergerak !! Bukan Malah Sibuk di Media Sosial

Media sosial adalah benda mati yang kita pergunakan untuk menjalin komunikasi dan menjaring informasi seluas- luasnya. Hendaklah kita jangan menjadikan media sosial sebagai bentuk kepuasan untuk melampiaskan ketidakhadiran kita di tengah- tengah lingkungan masyarakat.

Yang dibutuhkan adalah tindakan nyata, kita boleh selfie , update, upload semua kegiatan kita tetapi jangan terjebak dengan rutinitas media sosial. Berdiasporalah dengan interaksi langsung melalui tatap muka. Melangkah dengan tindakan nyata lebih mulia dibanding dengan jempol like atau emoticon di media sosial.

Masa Depan ditangan Generasi Muda

Masa depan adalah milik semua orang tetapi hanya akan dikemudikan oleh generasi muda selanjutnya. Didalam investasi peradaban kedepan, investasi terbesar adalah peran generasi muda yang sekarang, jika kita sudah bicara mengenai apatisme generasi muda dengan politik maka tidak akan muncul titik temu untuk membangun peradaban.

Bagaimana mencari format kepemimpinan? Apakah cukup dengan baca buku saja? Lalu prakteknya dimana? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah organisasi. Generasi muda harus berorganisasi untuk berproses dalam pematangan pengetahuan kepemimpinan dan demokrasi. Didalam organisasi kita belajar bagaimana berdemokrasi, bagaimana memimpin dan berdinamika didalam ruang- ruang musyawarah.

Selain melatih kedisiplinan diri didalam organisasi, generasi muda dapat juga menyalurkan ide atau gagasan untuk bergotong royong membantu mengembangkan kemampuan orang lain dalam organisasi. Banyak hal positif yang didapat melalui organisasi, dampak positifnya tentu saja akan merubah diri kita, orang lain dan masyarakat keseluruhan. Sudah saatnya jika ingin membangun peradaban kita harus bergotong royong melalui organisasi.

Generasi Muda Terjun ke Dunia Politik

Mendengar kata politik sebagian dari generasi muda pasti akan langsung bereaksi negatif, kata politik seolah menjadi horor bagi kaum muda. Penyebabnya tak lain adalah tontonan yang disajikan oleh sebagian oknum para politisi yang memainkan politik tak beradab. Padahal politik itu adalah upaya investasi peradaban bukan semata investasi kekuasaan yang hanya berlangsung lima tahun sekali.

Didalam negara demokrasi satu- satunya cara untuk berpartisipasi secara langsung membangun peradaban dan memperluas jaringan untuk mengkoneksikan gagasan adalah bergabung dengan organisasi politik nasional yaitu partai politik. Instrumen demokrasi adalah partai politik, partai politik bukanlah tempat untuk beternak kekuasaan tetapi partai politik adalah tempat untuk beternak gagasan dan ide- ide besar untuk membangun peradaban. #LombaEsaiPolitik