Mahasiswa
2 minggu lalu · 170 view · 8 min baca · Budaya 11439_25228.jpg
Kitabisa.com

Gerakan Literasi dan Ironinya

Saya yakin semuanya setuju bahwa membaca itu penting. Bisa dipastikan masyarakat umum pun setuju, walau hanya demi alasan-alasan praktis, seperti membaca larangan parkir atau membuang sampah sembarangan. Tapi semua pasti tahu, yang melanggar aturan-aturan sederhana itu sebagian besar melek huruf juga. 

Menulis? Setidaknya yang terpenting sekarang mungkin menulis lamaran atau permohonan ke instansi-instansi terkait. Alasan paling umum kenapa baca-tulis begitu penting juga agar tidak ketinggalan zaman, tidak kampungan, dan lulus SD pastinya. 

Tapi ketika kita berbicara tentang literasi, bukan hanya membaca dan menulis saja yang dimaksud, melainkan juga kemampuan berpendapat, menyimak, berpikir kritis, dan lain sebagainya yang juga berkaitan erat dengan membaca dan menulis. 

Aksara dan Peradaban

Aksara merupakan awal dari peradaban besar manusia. Begitu pula seorang anak yang sedang dipersiapkan untuk berbaur dengan masyarakat. 

Awal dari minat baca biasanya akan timbul sejak pertama kali seorang anak mengenal huruf. Mengenal huruf adalah langkah pertama seorang anak untuk berbaur dengan masyarakat dan dunia. 

Tulisan sangat berpengaruh pada peradaban manusia. Tulisan melampaui ruang dan waktu, sebagai wujud dari suara hati, ingatan, dan mimpi. 

Manusia tak perlu lagi mengingat tiap detail dari kejadian masa lampau. Cukup mengingat poin penting darinya dan menyimpan makna yang berhasil ditangkapnya untuk disampaikan lagi secara lisan. Detail-detail tersebut bisa disimpan dalam bentuk buku dengan tulisannya, kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. 

Bermacam-macam individu, dari berbagai macam peradaban, dari zaman ke zaman, memiliki berbagai macam pandangan, mimpi, dan pengalaman yang membentuk peradaban masa kini. Semuanya tidak akan mampu menghampiri telinga kita tanpa aksara. 

Sementara simpanse masih berkomunikasi melalui bahasa yang terbatas dan hidup dengan kelompok-kelompok kecil. Manusia mampu mendominasi dunia, dengan lisan dan tulisan yang terus berkembang seiring waktu, dengan sistem yang dibuat dan juga disampaikannya melalui tulisan.

Sampai di sini, cukup jelas mengapa literasi begitu penting. Suatu peradaban besar selalu memiliki literasi yang baik. Dan literasi yang rendah merupakan gejala untuk mundurnya suatu peradaban.


Sebuah Potret

Lalu bagaimana kabar peradaban kita? Pada zaman di mana informasi hanya sejauh jarak jempol ke touchscreen smartphone, kita tidak perlu menunggu selama berhari-hari agar kabar tentang siapa pemimpin terbaru di negeri ini sampai di telinga (atau mata) kita. 

Tulisan makin mendominasi pemandangan kita. Kabar baik hingga kabar buruk, semuanya melalui tulisan dan visualisasi sebagai penambah daya tarik. Semudah itu hingga dengan mudahnya tulisan menjadi alat untuk membodohi masyarakat. Atau mungkin masyarakat yang terlalu bodoh untuk mengantisipasinya.

Kabar burung atau kabar miring mungkin bukan hal baru pada peradaban manusia. Tapi ketika penyebarannya begitu masif dan mudah dipercaya melebihi akal sehat, maka peradaban tadi sedang mengalami pembusukan secara perlahan. Hoaks yang menyebar dengan mudah adalah gejala yang perlu diwaspadai.

Saya akan kembali mengingatkan betapa mirisnya negeri kita, terutama di bidang literasi. Salah satunya adalah hasil kajian dari Program for International Student Assessment (PISA) yang cukup ramai diperbincangkan dan diangkat di media massa. Bahwa tingkat membaca pelajar Indonesia menempati urutan ke-62 dari 70 negara (2015).

Selain itu, ada World's Most Literate Nations yang diumumkan pada Maret 2016, produk dari Central Connecticut State University (CCSU). Pemeringkatannya dibuat berdasarkan 5 indikator: perpustakaan, koran, input pendidikan, output pendidikan, dan ketersediaan komputer. Di sini, Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara yang diriset. 

Menurut Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), Muhammad Syarif Bando, jumlah perpustakaan di Indonesia belum ideal jika dibandingkan dengan banyaknya sekolah dan kabupaten/kota. Berdasarkan hasil sensus PNRI, jumlah perpustakaan secara nasional adalah 164.610.

"Jumlah itu sebenarnya masih jauh dari cukup. Karena kalau dihitung infrastruktur sekolah saja, untuk sekolah keagamaan ditaksir 300.000, ditambah sekolah negeri dan swasta 300.000. Kita belum bicara tentang 84.000 desa, kemudian PTN, PTS, dan 512 kabupaten/kota," kata Syarif kepada Bisnis, Selasa (23/4/2019).

Sensus PNRI mengungkap, ada 42.460 perpustakaan umum, 6.552 perpustakaan khusus, 113.541 perpustakaan sekolah/madrasah, dan 2.057 perpustakaan Perguruan Tinggi yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Sebanyak 47,89% perpustakaan berada di Jawa, 23,55% di Sumatra, dan 11,62% di Sulawesi.

Selain menyoroti jumlah perpustakaan yang kurang, Syarif juga menaruh perhatian pada kurangnya pasokan buku baru setiap tahunnya di Indonesia. Produksi buku baru di Indonesia saat ini tidak melebihi 60.000 judul.

"Standar UNESCO mengatakan, setiap tahun orang membaca minimal 3 buku baru. Sementara di Indonesia, boleh saya berani katakan, 1 buku ditunggu 5.000 orang. Karena penduduk Indonesia 250 juta sementara jumlah buku yang terbit setiap tahun tidak lebih dari 60.000 judul."

Awal yang Buruk

Gambaran selanjutnya adalah pandangan umum, sesuatu yang sering jadi bahan perbincangan, sebuah ironi yang sering ditemui di abad-21.

Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, awal dari minat membaca seorang anak adalah ketika dia mulai mengenal huruf. Pada masa itu, orang tua atau wali berperan penting dalam pembentukan kepribadiannya. Kini, kita tahu bagaimana gawai telah sampai ke tangan remaja hingga anak usia dini menggantikan peran buku. 

Buku bukan lagi teman yang baik di waktu luang, melainkan gawai dan berbagai macam fiturnya. Orang tua yang larut dalam kesibukan lebih memilih gawai yang lebih praktis sebagai hiburan bagi anak-anaknya. 


Beranjak ke sekolah, anak-anak diberi label pintar dan bodoh berdasarkan target yang sudah ditentukan. Jika tidak memenuhi nilai sekian bagi mata pelajaran tertentu, anak tersebut terancam tidak lolos dengan bonus label bodoh yang menempel di jidatnya. 

Selain itu, tidak asing lagi bahwa uang pun mampu mengubah hasil yang tertulis. Pintu belakang masih terbuka bagi anak yang berasal dari keluarga mampu. 

Pendidikan yang kaku dan hambar itu makin diperparah dengan buku-buku yang tidak menarik. Buku-buku yang hanya akan disentuh dengan penuh kekhawatiran menjelang ujian, demi hafalan-hafalan yang akan segera dilupakan ketika lulus nanti. 

Sudah menjadi budaya di sekolah, membaca buku hanya untuk memecahkan soal yang ada. Perpustakaan sekolah hanya sebatas gudang untuk buku-buku resmi dari lembaga pendidikan. 

Kompetitif itu perlu. Tapi jika jiwa kompetitif itu dibarengi dengan sikap individualis dan ketidakpedulian, maka aroma peradaban yang makin membusuk itu makin tajam. Itulah yang diproduksi dari sekolah-sekolah kita. Melahirkan orang "normal" yang takut pada narkoba, tapi dibius dengan bangga oleh kemajuan teknologi dan budaya populer.

Budaya Literasi dan Dunia Maya

Internet sudah menjadi dunia kedua yang berhubungan erat dengan dunia nyata penggunanya. Ragam budaya dengan mudahnya menyebar dan memengaruhi kalangan remaja. Sayangnya, banyak konten-konten pembodohan dengan kemasan menarik yang bertebaran dan meracuni remaja di sana. 

Mulai dari teori konspirasi yang mudah sekali dipercaya kalangan remaja, hingga intoleransi yang mengancam kerukunan. Lebih buruk lagi, sebagian besar informasi dari konten-konten tersebut berisi logical fallacy yang mengarah pada pembodohan pula. 

Seseorang yang gemar membaca buku umumnya tidak mudah menelan informasi mentah-mentah. Buku sebagai jendela dunia menjadikan pembacanya tidak merasa asing dengan dunia, tidak mudah kaget dan terprovokasi dengan hal baru. Maka budaya membaca adalah cara terbaik agar tidak tenggelam dalam pembodohan dunia maya. 

Namun apakah internet harus dimusuhi untuk itu? 

Sekali lagi, literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tapi juga menyampaikan gagasan, berdialektika, memahami, dan berpikir kritis. Sekolah adalah tempat terbaik untuk membudayakan itu dan keluarga adalah awal yang baik untuk menanamkan semangat itu. 

Apakah hanya buku satu-satunya cara untuk mewujudkan itu? Bagaimana dengan mereka yang cukup sulit untuk memahami sesuatu melalui tulisan? 

Seseorang yang tidak tertarik lagi terhadap buku bukan berarti tidak mampu belajar lagi. Gaya belajar manusia sendiri bermacam-macam. Ada yang lebih mudah memahami sesuatu melalui visualisasi, ada juga yang lebih mudah memahami sesuatu melalui suara.

Sesungguhnya dunia maya mampu menjadi wadah untuk itu. Seperti yang kita ketahui, banyak remaja masa kini yang lebih banyak menghabiskan waktu di Internet. Selain itu, mereka mudah menerima sesuatu melalui ragam konten dengan visualisasi yang menarik. 

Begitu pula cara berita miring dan pembodohan menyebar. Jika dunia maya menjadi ladang pembodohan akibat ramainya konten-konten tidak mendidik dengan kemasan yang menarik, maka cara yang sama bisa dilakukan sebagai alternatif untuk menangkal arus pembodohan tersebut, yakni dengan menyajikan konten mendidik dengan konsep yang menarik. 


Apresiasi dan Tambahan Opini

Ada banyak usaha untuk meningkatkan literasi di Indonesia yamg juga perlu diapresiasi dan mungkin bisa menjadi inspirasi untuk yang lainnya. Misalnya Pustaka Bergerak bentukan Nirwan Ahmad Arsuka yang kerap menyerbu pelosok Indonesia dengan buku gratis dan, yang terpenting, menarik tentunya. 

Selain itu, ada sekitar 4 gerakan literasi yang menggunakan perahu sebagai sarananya; Armada Pustaka bentukan Ridwan Alimuddin yang mengarungi pesisir Sulawesi Barat sejak 2016, Perahu Pustaka Bakauheni di lampung yang diinisiasi oleh Radmiadi sejak 2016, Perahu Pustaka Danau Sentani yang merupakan hasil dari sumbangan PT Sarana Multi Infrastruktur dan PT Terasa Geosinindo pada tahun 2017, dan Perahu Pustaka Kali Cisadane bentukan Kang Ion yang beroperasi sejak 2017 di pesisir kali Cisadane, Tanggerang.

SMA N 1 Banyuwangi memiliki cara yang unik untuk ini. Sejak tahun 2015, sekolah menerbitkan buku yang berisi kumpulan tugas dari para siswa. Cara yang efektif dan patut ditiru untuk meningkatkan minat terhadap literasi, mengingat sekolah adalah tempat terbaik untuk membudayakan literasi. 

Tidak hanya komunitas dan lembaga pendidikan. Dari Yogyakarta ada Sutopo, tukang becak yang mengampanyekan literasi dengan memodifikasi becaknya dengan menambahkan rak buku tepat di atas sandaran kepala penumpang. Juga ada Sugiarto, sopir angkot dari Malang yang memodifikasi angkotnya bagai perpustakaan agar para penumpang dapat membaca di dalamnya. 

Masih banyak lagi usaha yang dilakukan pegiat literasi dari berbagai kalangan untuk membudayakan literasi di seluruh Indonesia. Tentunya akan sangat membantu jika pemerintah memberi perhatian lebih mengingat budaya literasi di Indonesia yang masih rendah. 

Sedikit tambahan mengenai minat baca yang mungkin perlu diluruskan. Melihat hasil survei internasional membuat banyak orang mempertanyakan betapa rendahnya minat baca di Indonesia dan menimbulkan opini bahwa anak Indonesia tidak suka baca buku. 

Satu yang perlu diperhatikan, data dari Program for International Student Assessment mengambil sampel dari 540 ribu anak sekolah usia 15 tahun. Data tersebut tidak dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar anak-anak Indonesia tidak memiliki minat baca. Mengingat masih banyak anak Indonesia yang tidak mampu secara finansial untuk menerima pendidikan yang layak, juga melihat betapa antusiasnya anak-anak di pelosok ketika dihampiri pegiat literasi. 

Menurut Nirwan, pelopor Pustaka Bergerak, ada beberapa faktor yang membuat anak-anak tidak membaca. Misalnya akses ke buku-buku yang sulit, terutama di pelosok, dan buku yang tidak menarik. Menurutnya, buku milik pemerintah dan kementerian itu kurang menarik dan merusak imajinasi anak.

Maka survei internasional baiknya dijadikan alarm untuk mengingatkan kita dan pemerintah. Masih banyak harapan dan potensi untuk membangkitkan budaya literasi di Indonesia. Kembali pada kita untuk bersuara dan bergerak menyebarkan virus kesadaran literasi kepada masyarakat luas. 

Artikel Terkait