Berbicara tentang kemajuan suatu bangsa, tidak terlepas dari peran generasi mudanya. Generasi muda saat ini atau yang lebih kita kenal dengan generasi milenial dan generasi Z (Gen-Z) adalah salah satu aset berharga yang dimiliki bangsa Indonesia. 

Bonus demografi menunjukkan bahwa hampir 68% penduduk Indonesia berada pada usia produktif sampai pada tahun 2030. Namun bagaikan pedang bermata dua, hal ini bisa sangat bermanfaat jika benar-benar dapat dimanfaatkan dengan baik namun akan sangat berbahaya jika negara gagal mengadministrasi kemampuan dan kreatifitas generasi mudanya. 

Salah satu daerah di Indonesia yang mempunyai masalah dengan generasi muda adalah Propinsi Papua. Papua adalah wilayah paling timur Indonesia yang masih banyak tertinggal dari daerah lainnya di Indonesia. Dari berbagai data mengenai kemiskinan, pendidikan, dan indeks pembangunan manusianya, Papua selalu berada di posisi paling buncit dari 34 propinsi yang ada di Indonesia. 

Salah satu hal yang saya soroti dalam tulisan ini adalah pendidikan. Kondisi pendidikan di Papua, khususnya pendidikan tinggi sungguh sangat memprihatinkan. Keadaan ini dibuktikan dengan sistem perkuliahan yang diterapkan begitu using dan terlalu banyak intrik antar pemangku kepentingan. Sehingga yang menjadi korban adalah mahasiswa/i yang mengenyam pendidikan di tanah Papua. 

Salah satu masalah paling mendasar adalah ketika TRI Dharma perguruan tinggi tidak terlaksana dengan baik dalam sistem perkuliahan yang ada. Disadari atau tidak dunia pendidikan Indonesia terus mengalami peningkatan, namun daerah Timur Indonesia khususnya Papua masih belum bisa keluar dari belenggu ketertinggalan tersebut. 

Salah satu universitas tertua di negeri ini yang terdapat di Jayapura, Papua yakni Universitas Cenderawasih sampai detik ini belum bisa menembus 100 besar Universitas terbaik di Indonesia. Hal ini membuktikan ada ketimpangan pembangunan pendidikan di Indonesia yang membuat mahasiswa/i Papua sulit berkembang dan sulit bersaing dalam dunia kerja di Indonesia bahkan di Papua itu sendiri.

Perlu disadari bahwa masalah diatas adalah sebagian kecil dari sekumpulan masalah yang terjadi bagi generasi muda Papua. Pendidikan yang seharusnya dirasakan sama dengan pemuda lainnya diluar Papua memang sudah menjadi masalah dari dulunya bangsa ini ada.

Namun ada masalah yang kemudian timbul di saat bangsa ini sedang gencar-gencarnya membangun infrastruktur Papua dan peningkatan pendidikan di Papua, masalah pola pikir yang konservatif menjadi tantangan bangsa ini kedepan dalam membangun SDM Papua yang diharapkan mampu membangun  Papua yang lebih baik kedepannya.

Pola pikir konservatif adalah dimana generasi muda Papua sudah nyaman dengan suatu konsep yang dibangun oleh organisasi-organisasi tertentu yang bertentangan dengan konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini menjadi masalah yang rumit, ketika generasi muda Papua masih banyak memberikan waktunya untuk hal-hal yang tidak produktif bagi kemajuan Papua kedepannya.

Generasi muda Papua selalu berfikir bahwa mereka bukan Ras Melayu, mereka selalu mengatakan dirinya adalah Melanesia, hal inilah yang akan menghambat produktifitas generasi muda Papua, sementara kondisi Papua yang semakin memprihatinkan haruslah dibarengi dengan semangat para generasi muda untuk membangun Papua kedepannya. Lalu, kenapa harus generasi muda?

Sadar atau tidak, persaingan di era teknologi saat ini dimana kita akan diperhadapkan dengan peradaban di era digital 4.0 mengharuskan kita untuk dapat menguasai teknologi agar tidak tertinggal jauh dengan negara-negara lainnya di dunia. Generasi milenial dan Gen-Z yang akrab dengan teknologi sudahlah seharusnya dibina dan dibekali sejak dini agar mereka mampu menggunakan teknologi tersebut untuk kegiatan yang lebih produktif bagi bangsa ini. 

Tidak terkecuali bagi generasi muda Papua. Memang infrastruktur teknologi di Papua masih sangat jauh bila kita bandingkan dengan saudara-saudara kita yang ada di Pulau Jawa dan Sumatera, hal ini membuat harus ada langkah konkret yang lebih kontekstual dengan permasalahan yang ada di Papua.

Bicara teknologi, belum semua generasi muda Papua khususnya Orang Asli Papua yang punya ponsel pintar android. Kondisi ekonomi, pendidikan, dan masalah lainnya membuat banyak anak muda Papua yang memiliki ponsel, namun belum mampu untuk menguasainya sepenuhnya, kasarnya hanya digunakan untuk telfonan dan komunikasi sederhana. Hal ini membuat perkembangan teknologi itu sangat sulit untuk dikejar oleh generasi muda Papua.

Bicara Papua, kita tidak dapat melihat dari sudut pandang kota-kota besar yang ada di Papua saja, sebut saja Jayapura dan Timika yang memang sudah menuju Kota yang maju dan tidak tertinggal lagi dari segi teknologi. Namun bagaimana dengan saudara- saudara kita yang ada di Perbatasan, di Pegunungan dan di daerah terisolir lainnya yang ada di Papua. 

Bagaimana kita mengubah pola pikir mereka? Jika teknologi sampai detik ini belum menyentuh kehidupan mereka. Hal ini lah yang mendorong adanya Gerakan Literasi yang digagas oleh seorang anak muda Papua yaitu Michael Jhon Yarisetauw.

Paham akan permasalahan yang dihadapi generasi Papua, ia membuat sebuah tempat baca buku gratis yang diutamakan untuk generasi muda Papua utamanya Orang Asli Papua (OAP) agar mereka juga bisa melihat perkembangan dunia ini lewat membaca buku. 

Tempatnya bernama Cenderawasih Reading Center (CRC) yang terletak di daerah Kampus Uncen Perumnas III, Waena, Jayapura, Papua. Bersama CRC, Kaka MJ, sebutan akrab untuk pemuda penuh semangat ini terus bergerilya membangun pola pikir manusia Papua khususnya generasi muda Papua agar mempunyai pola pikir yang konstruktif agar dapat menyelesaikan permasalahan Papua itu dengan kreatifitas mereka sendiri.

Dengan merangkul beberapa anak muda Papua, Kaka MJ telah melakukan berbagai program kegiatan untuk melancarkan gerakan literasi  di tanah Papua. Merangkul anak muda di Pinggiran dan terisolir menjadi fokus utamanya. Sadar bahwa mereka sulit menjangkau tempat baca CRC, maka CRC hadir diperbatasan RI-PNG untuk membagikan buku bagi anak-anak yang ada disana. 

Kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan agar budaya membaca itu bisa diterapkan dalam kehidupan mereka sehari-hari. CRC juga gencar mengkampanyekan bahwa generasi muda Papua harus menggunakan teknologi itu untuk hal-hal yang lebih produktif untuk membangun tanah Papua sehingga orang Papua menjadi tuan di tanahnya sendiri.

Selain hal diatas, CRC juga paham betul akan kondisi yang terjadi saat ini bagi generasi muda Papua, pemikiran konservatif yang saya jelaskan diawal merupakan fokus utama mereka. Membangun Papua bukan dengan membangun negara sendiri lalu tidak tahu apa yang akan dilakukan kedepannya, tetapi hal yang lebih penting dalam pembangunan Papua adalah bagaimana kita membangun manusianya. 

Minimnya jiwa nasionalisme bagi sebagian generasi muda Papua adalah buah dari permasalahan pola pikir yang berkepanjangan tersebut. Untuk memperbaiki masalah tersebut, maka CRC membuat sebuah lomba yang mengundang mahasiswa-mahasiwa Papua untuk mampu mengekspresikan pemikiran mereka dalam bentuk tulisan tentang pendapat mereka mengenai arti kemerdekaan sejati itu. Hal ini bertujuan untuk membangun semangat dan jiwa nasionalisme dan mengubah pola pikir mahasiswa dan generasi muda Papua terhadap bangsa ini.

CRC adalah satu dari sekian banyak gerakan-gerakan literasi lainnya yang ada di Papua. CRC punya daya tarik berbeda dengan gerakan lainnya yang membuatnya banyak dikenal saat ini dikalangan anak muda Papua khususnya Mahasiswa Uncen yang setiap harinya datang membaca di CRC. Namun, perhatian dari pihak-pihak terkait akan komunitas-komunitas yang memberikan solusi terbaik bagi Papua seperti CRC belum mendapat perhatian yang baik dari pemerintah atau lembaga lainnya. 

Disaat segelintir anak muda Papua menunjukkan semangatnya untuk membangun Papua yang lebih baik, sudah saatnya negara hadir ditengah-tengah mereka dengan memberikan support yang baik, agar gerakan-gerakan seperti ini terus berkembang dan menjamur di Papua. Gerakan Literasi adalah solusi nyata dari permasalahan ketertinggalan Papua saat ini dibidang pendidikan dan teknologi. 

Gerakan Literasi juga diharapkan mampu mengubah pola pikir konservatif menjadi konstruktif agar generasi muda Papua mampu memberikan solusi bagi permasalahan di Papua itu sendiri. Sehingga pada akhirnya, generasi muda Papua Diharapkan mampu mempunyai wawasan yang luas, pemikiran yang konstruktif, dan memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi demi keutuhan bangsa dan kemajuan tanah Papua kedepannya.