2 tahun lalu · 293 view · 4 min baca menit baca · Budaya idea1.jpg
Ilustrasi: www.estrategia45.com

Gerakan Civil Society

Ada banyak sekali gerakan civil society (warga negara) yang patut dikumandangkan. Tetapi satu-satunya yang mungkin untuk direalisasikan pertama kali adalah gerakan transformasi ide-ide.

Secara makna, transformasi ide-ide bukanlah perpindahan fisik semata, seperti seseorang berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, terlebih lagi perpindahan yang tidak menafasinya dengan tujuan. Tetapi transformasi ide-ide adalah perpindahan ide secara teori menuju ide yang terealisasi secara praktik.

Mungkin saja ada segenap pembaca yang akan memicingkan mata kepada penulis. Bahwa penulis yang menyeru untuk menggerakkan transformasi ide-ide dalam praktik, justru tampil sendiri untuk menghianati kata-katanya.

Ya, bisa jadi benar, bisa juga keliru total. Perlu untuk kita ketahui bahwa praktik tidak selamanya identik dengan berjabat-tangan langsung dengan realitas yang ada di lapangan. Diamini atau tidak, menulis juga merupakan praktik yang riil dari gerakan civil society.

Di samping mudah, kualitas gerakan lebih akan terjamin walau hanya dengan menuliskannya. Tentu kemudahan yang berkualitas ini akan sulit kita dapati dengan terjun ke lapangan langsung secara fisik. Sebab menulis butuh akal untuk berpikir secara luas, sedang terjun ke lapangan langsung secara fisik hanya butuh otot yang dominan.

Tapi bukankah kegiatan menulis lebih identik dengan perpindahan ide secara teori bukan ide yang teralisasi secara praktik? Pertanyaan semacam ini jelas hanya akan timbul di benak orang-orang yang tak mau berpikir, jika tidak pada yang banal (berpikir dangkal).

Kegiatan membaca mungkin saja dapat kita golongkan sebagai kegiatan yang berkutat pada teori bukan praktik. Tetapi membaca dengan menulis, jelas punya perbedaan yang sangat signifikan. Dengan membaca, upaya penyerapan ide-ide-lah yang paling dominan (kerja-kerja teoritis). Tetapi ketika menulis, yang kita butuhkan tidak lagi menyerap ide-ide, melainkan menuangkannya dalam bentuk tulisan, tulisan yang ber-genre apapun (kerja-kerja praksis).

Dalam menuangkan ide-ide, sebagaimana disebutkan di awal, akal pikiranlah yang menjadikannya mudah untuk kita realisasikan, sekaligus sebagai penjaga kualitas gerakan. Ia mudah sebab kita hanya butuh menyerap ide-ide melalui bacaan sebelum menuangkannya ke dalam tulisan. Dan ia berkualitas sebab lahir dari proses berpikir secara berkualitas pula.

Maka masih tepatkah untuk kita katakan bahwa menulis bukanlah gerakan transformasi ide-ide, dalam arti perealisasian secara praktik? Hanya pada yang dangkal dalam berpikir (banal) atau yang tak mau berpikir sama sekali sajalah yang akan berpandangan demikian.

Transformasi Ide-Ide: Lebih Cepat Lebih Baik

Mengingat pentingnya transformasi ide-ide ini sebagai praktik riil dari gerakan civil society, maka pemanifestasiannya pun harus diagendakan secara utama. Sebagaimana pernah diserukan Karlina Supelli dalam salah satu pidato kebudayaannya berjudul Mengartikan Revolusi Mental (2014), gerakan ini tak butuh lagi untuk menunggu datangnya kebijakan (pemerintah) sebagai dasar berpijaknya. Tetapi yang dibutuhkan adalah sesegera mungkin menjadikannya sebagai gerakan kolosal berskala nasional.

Mengapa harus sesegera itu? Salah satu alasan yang patut menjawabnya adalah derasnya arus globalisasi seperti kecanggihan teknologi. Memang, di satu sisi, dampak dari arus globalisasi ini sangat kita butuhkan dalam perkembangan kemajuan hidup bermasyarakat kita. Hanya saja, sebagian besar dari kita lebih cenderung terjerumus ke dalam ruang-ruang negatifnya ketimbang yang positif. Sebagai contoh para pengguna gadget.

Kita mungkin belum sepenuhnya menyadari bahwa gadget dicipta untuk memudahkan manusia dalam hal menjalin komunikasi dan mengakses informasi, baik yang aktual-edukatif, ataupun yang sekadar menghibur diri dari penatnya rutinitas. Tetapi sayang, kita seringkali memperlakukan gadget dengan tanpa sikap yang bijak. Untuk contoh-contohnya, silahkan bagi para pembaca untuk merenungkannya sendiri.

Sebab hal-hal negatif lebih banyak menarik hati para pengguna gadget ketimbang yang seharusnya, maka pentingnya transformasi ide-ide dalam waktu sesegera mungkin menjadi pilihan yang sangat tepat.

Selain soal desakan waktu, cakupan sasaran pun harus diperlebar seluas mungkin. Karena ini gerakan civil society, maka transformasinya harus mencakup masyarakat seluas bangsa. Ini dibutuhkan agar perilaku sosial tiap individu menjadikan keutamaan warga negara sebagai keutamaan.

Mencipta Ruang Perubahan

Lantas, bagaimana cara perealisasiannya? Ruang seperti apa yang pas untuk kita gunakan sebagai wadah perealisasian transformasi ide-ide ini?

Kita tentu sama sekali tak mau menaruh pesimis terhadap model pendidikan seperti sekolah-sekolah formal. Meski fakta memperlihatkan bahwa ia tak mampu mencipta ruang-ruang perubahan, atau istilah Karlina Supelli, “kantung-kantung perubahan” sebagaimana harusnya, bukan berarti bahwa ia harus dihapuskan atau ditiadakan begitu saja. Kita memang butuh ruang pendidikan (formal), tetapi kita tidak butuh model pendidikan yang tidak menekankan adanya proses penyadaran dan atau humanisasi—Paulo Freire menyebut model pendidikan seperti ini sebagai pendidikan “gaya bank”.

Terlepas kecacatannya, selain melalui pendidikan di sekolah-sekolah, harus pula kita sadari bahwa ada banyak sekali wadah yang bisa kita jadikan sebagai ruang-ruang perubahan. Kita hanya harus menciptanya, bukan sekadar menyandarkan nasib pada ruang-ruang yang sudah ada.

Sebagai contoh, membentuk kelompok atau komunitas diskusi; mengadakan seminar atau pelatihan, terutama di wilayah jurnalistik; dan yang lebih penting lagi adalah membuka ruang-ruang pustaka—untuk yang terakhir ini, kiranya kita patut mencontoh gerakan pustaka yang dipelopori oleh budayawan Nirwan Ahmad Arsuka, yakni Pustaka Bergerak.

Gerakan inilah yang kemudian menginspirasi lahirnya belasan gerakan pustaka di pelosok negeri, seperti yang digerakkan oleh Muhammad Ridwan Alimuddin dkk dengan Nusa Pustaka-nya di Mandar, Sulawesi Barat; atau Misbah Surbakti dengan Noken Pustaka-nya di Papua Barat; dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ya, dengan ruang-ruang perubahan seperti di atas, hanya satu modal yang paling kita butuhkan, yakni kesetiaan dalam bergerak. Kesetiaan ini harus kita wujudkan dalam bentuk kekonsistenan. Kita hanya dituntut untuk menggerakkan perubahan tanpa rasa takut—mungkin takut kalau-kalau dipandang sebelah mata atau hina; mungkin takut waktu hidupnya terporsir habis; atau mungkin takut untuk tidak dianggap sebab bukan menjadi kebiasaan umum dari masyarakat kita sendiri.

Apapun itu, jika kita benar-benar menghendaki membuminya transformasi ide-ide, ruang apapun bisa kita desain agar berdaya-guna. Sekali lagi, hanya pada kesetiaan-lah kita harus bertumpu. Tanpanya, gerakan kita hanya akan tampil secara sia-sia. Inilah wujud sejati dari gerakan civil society yang harus kita tanamkan mulai dari sekarang. Ia harus diwujudkan dalam laku kehidupan sehari-hari, terutama dalam dunia pendidikan sebagai ruang-ruang perubahan.

Selamat bergerak!

Artikel Terkait