Akhir tahun 2018 ini, sekaligus menyambut pergantian tahun, warga Kampung Miliran, Muja Muju, Umbulharjo, Yogyakarta, menyelenggarakan gerakan budaya dengan nama "Reresik Sarean Miliran #3: Titir Keliling Kampung, Mengusir Aura Jahat". 

Dalam informasi yang disampaikan secara langsung oleh Dodok Putra Bangsa melalui WhatsApp (30/12/2018, 12:02), Warga Miliran akan membunyikan kenthongan (alat musik atau alat bunyi tradisional) secara terus-menerus yang disebut titir sambil berjalan mengelilingi kampung pada hari Senin, 31 Desember 2018, dimulai pada jam 15.00 WIB sampai selesai, dari Pos Ronda RT 13, Miliran menuju Pemakaman Miliran.

Titir keliling kampung tersebut akan dilanjutkan dengan Reresik Sarean atau berisih-bersih pemakaman di kampung Miliran. Bagi warga kampung Miliran, sarean atau pemakaman adalah tempat belajar. Di dalam pemakaman, tidak memandang perbedaan suku, golongan, agama, dan apa pun. Pemakaman akan menerima jasad siapa saja manusia yang meninggal dunia. Acara tersebut akan diakhiri dengan berdo’a untuk para leluhur di kampung Miliran, para pendahulu kampung yang sudah beristirahat untuk selamanya.

Reresik Sarean Miliran pada tahun 2018 ini adalah yang ketiga kalinya sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 2016. Dalam kepercayaan warga, aktivitas itu dilakukan untuk mengusir aura jahat atau negatif. Harapan mereka adalah agar hari-hari esok yang sudah berganti tahun 2019, aura baik atau positif menjadi lebih banyak lagi, bagi kampung, kota, maupun bumi atau alam semesta yang lebih luas. 

Acara ini diselenggarakan dengan maksud untuk merawat bumi, mendidik generasi yang lebih muda, dan juga selalu mengingat para leluhur.

Dodok Putra Bangsa, Sang Pemberdaya Warga

Penggerak warga kampung Miliran adalah Dodok Putra Bangsa, seorang seniman yang aktif mengkritisi situasi ruang publik di Yogyakarta, khususnya pembangunan yang tidak mengindahkan kepentingan publik. Dodok lahir dan besar di Miliran pada tahun 1977. Terlibat aktif dalam gerakan sejak tahun 1996/1997 melalui Kaum Jalanan Merdeka, dan berhasil mengadvokasi untuk pemberian Kartu Tanda Penduduk (KTP) bagi anak-anak jalanan di Yogyakarta.

Tahun 2014, Dodok melakukan aksi di depan sebuah hotel, yaitu mandi menggunakan pasir untuk mengkritik keberadaan hotel yang menguras air warga dan menjadikan sumur warga menjadi kering. Tahun 2016, Dodok melakukan aksi Jamas Diri, mandi dengan air dari tujuh mata air di Miliran di depan gedung Balai Kota Yogyakarta. 

Dodok aktif bergabung dalam gerakan Jogja Ora Didol (Jogja Tidak Dijual), sebuah gerakan mengkritisi pembangunan Kota Jogja yang hanya mengakomodasi kepentingan komersil, di antaranya melalui #JogjaAsat (Jogja Kering). Dalam berkesenian dan beraktivisme, Dodok bekerja sama dengan seniman, akademisi, musisi, hingga warga kampung.

Reresik Sarean Miliran Menggantikan Merti Kampung yang Gagal

Menurut Dodok, ide awal Reresik Sarean Miliran adalah sejak dua tahun yang lalu (2016) ketika menyelenggarakan doa lintas iman di pemakaman untuk mendoakan para leluhur. Kemudian Dodok mendapatkan ide untuk meneruskan kegiatan tersebut menjadi acara tahunan. 

Menurut Dodok, ada beranekaragam perbedaan di kampungnya. Apa pun perbedaannya, baik pandangan politik, agama, suku, golongan, dan sebagainya di kampung Miliran, leluhur mereka dikubur di tempat yang sama, yaitu di pemakaman Miliran. Bagi Dodok, kampung Miliran adalah miniatur Jogja, dan Jogja adalah miniatur Indonesia. 

Artinya, menurut Dodok, aksi-aksi budaya seperti itu secara otomatis juga sebagai tolak bala adanya intoleransi tanpa harus teriak-teriak menolak intoleransi. Berkeliling kampung dengan bunyi-bunyian (titir) itu menolak bala apa pun, mengusir aura negatif di hari akhir tahun 2018 dan berharap besok tahun 2019 dan seterusnya, akan lebih banyak aura positif. Dan ini harus dilembagakan menjadi festival budaya ke depannya, setidaknya dengan menjadikannya acara rutin.

Reresik Sarean Miliran ini sudah yang ketiga kali diselenggarakan. Menurut Dodok, di kepala warga akhir tahun ya titir. Tidak ada alasan untuk menolak acara itu karena budaya nyekar (tabur bunga di makam) dan mendoakan leluhur itu budaya Jawa, budaya Jogja. 

Untuk mewujudkan kesadaran warga seperti itu, pada tahun 2016, Dodok membutuhkan waktu selama tujuh sampai delapan bulan untuk mempelajari dan mengorganisir acara itu. Dimulai dengan mendekati tokoh-tokoh masyarakat di kampung, tokoh-tokoh agama dengan menemui mereka langsung di berbagai rumah ibadah, para preman, dan semua warga. Dodok mendatangi 15 Ketua Rukun Tetangga (RT) dan empat Ketua Rukun Warga (RW).

Dodok mengatakan bahwa proses itu tidak hanya sekali jadi. Mendatangi semua pihak dan menyampaikan maksudnya hanyalah langkah pertama. 

Langkah keduanya, Dodok menyebarkan dan menyampaikan undangan resmi secara tertulis ke semua pihak. Dan langkah ketiganya adalah menyebarkan dan menyampaikan poster acara tersebut. Semua proses itu dilakukannya sendirian, door to door

Namun, itu bukan satu-satunya pendekatan, karena Dodok menyatakan bahwa itu di luar pendekatan lainnya. Dodok mengakui bahwa belum semua pihak mau dan mampu bergabung dengan acara yang digagasnya, baginya itu butuh proses yang dialektik.

Reresik Sarean Miliran #3 tahun 2018 ini sudah bisa disiapkan oleh beberapa kader-kader muda di kampungnya. Bahkan inisiatif awal di tahun ini adalah dari mereka. Dodok hanya mengawalnya saja dan menuntaskan beberapa hal yang tidak selesai. 

Menurut Dodok, ini adalah pengganti gerakan Merti Kampung yang tidak bisa dilanjutkan karena terlalu berat imajinasinya. Merti Kampung menjadi berat untuk dilanjutkan, karena dalam sejarahnya, memang pesta raya yang gede atau besar-besaran. Sehingga, kalau tidak membuat acara atau menyelenggarakannya tidak sesuai dengan yang dulu pernah ada atau setidaknya mendekati, maka tidak akan berbunyi. Berbeda dengan Reresik Sarean yang sekarang ini belum pernah ada dalam kehidupan masyarakat yang cenderung modern.

Gerakan Budaya Jogja Ke Depan

Dodok menargetkan dalam 10 tahun ke depan, kampungnya punya julukkan “Jogja Jaman mBiyen”, atau representasi Jogja di masa lalu yang ada di masa sekarang. Dodok berpikir bahwa secara visual, kita sudah tidak bisa lagi kembali ke jaman dulu, tapi culture and javanis feel still in their heart. 

Tahapan ini harus melekatkan kegiata budaya, target-target antaranya sudah ditemukannya dengan semedi (Dodok pun tertawa ha…ha…haa…). Di antaranya dengan menyelenggarakan “Festival Dolanan Jaman mBiyen” dan “Festival Among Tanduran Latar”. Menurutnya, sudah banyak yang dipikirkan dan melekat di kepala, dan kegiatan-kegiatan yang sudah pernah dilakukan dengan mudah akan diteruskan. Baginya, hanya perlu penanda agar lekat menjadi kegiatan bersama.

Ketika ditanya mengapa sekarang lebih aktif dalam gerakan budaya, Dodok menyatakan bahwa “Aku hanya ingin melakukan sesuatu di kampung tanah airku”. Mengapa dengan budaya yang menurutnya amat sangat sederhana ini, pertama, “karena kemampuanku memang baru segitu”. 

Kedua, emosi yang terjalin sekarang dengan warga kampung sangat berbeda dengan dulu ketika Dodok lama berada di jalanan. Terakhir, mentalitas warga di tingkat kampung harus dikawal dengan kuat untuk menghilangkan cara berpikir kolot para sesepuh kampung yang serin kali tidak mudah untuk diajak berubah.