Ada yang tahu cara baca "hoax" yang benar? Howx, hox, hoox atau seperti biasa; Hoax? Ada yang tahu kalau hoax berasal dari kata "Hocus" dengan ejaan baru?

Apalah arti tanda baca, yakan. Tapi, bagaimana langkah-langkah proseduralnya, jika gerakan yang musuhnya sangat besar ini dan ditempatkan di Car Free Day (CFD)? Di mana orang paling-paling memilih yang lebih nyata; nyari gebetan, misalnya. Gerakan Tolak Hoax yang dipanggungkan di CFD tujuh kota secara serentak ini sepertinya juga tak benar-benar serius menghadapi hoax yang begitu massifnya. Disandingkan dengan dangdut promosi sebuah komoditas, komunitas reptil dan penjaja sosis bakar. Jika saya berada disana, mungkin saya akan pilih sosis bakar dengan toping mayones itu. 

Mau nggak pesimis bagaimana kalau kita penasaran, dan di zaman yang serba mudah. Kuota yang murah, dan wifi yang melimpah. Mau menolak bagaimana, kalau kita browsing saja kadang bacanya setengah-setengah, tidak sampai kelar. Baca pun kadang beritanya yang nanggung. Apakah berkesimpulan melalui judul berita saja sudah bisa clear?
Padahal yang biasanya a-la islami; pake "subhanallah", "astaghfirullah", malah gagal fokus dan laris.

Mau menolak bagaimana kalau kita kehausan berita, dan sulit nemuin kabar air yang jernih. Mau nggak lucu bagaimana kalau masih mencari siapa yang benar, bukan apa yang benar. Mencari siapa benar pun sulit. Sesulit melupakanmu. hmmmm

Mau mengandalkan media? Media yang mana? Media saja kadang subjektif. yang satu pendukung mana, yang lain pendukung apa. Dan kamu, malah pilih dia. Hiks

Mau memberantas situs penyedia berita hoax? Lhawong sekarang jamannya jurnalistik menjamur secara personal, Dengan akun sosmed pribadinya, kok. Apalagi kecerewetan kita juga masih belum bisa dikondisikan. Meski sudah ada program legalisasi media toh juga masih kuwalahan, baru 300-an dari 43.000-an media penjaja berita yang sudah diverifikasi. Dan sekitar 137,2 juta pengguna internet di Indonesia siap kapanpun berpartisipasi dalam lingkaran hoax. lawan kita bukan saja berita hoax, tapi pengguna internet yang cerewet.

Giliran mau menolak berita hoax, tapi media malah meliput bisnis membuat berita hoax yang menghasilkan milyaran duit. Siapa yang tak tergiur? bagi masyarakat kapitalis, ini juga ladang prospek lho !.

Ya, selama masih ada bau kentut yang tidak tahu dari silit mana berasal, selama itu secara psikologis kita belum siap menolak hoax, Kawan.

Terus, pie?

Nah, Gerakan tahan jempol dan share yang didengungkan kemarin, kiranya sudah baik sebagai langkah awal. Menjadi silent reader, menemani kamen rider membasmi dampak hoax yang semakin massif juga bagus untuk tiny-step. Tenang saja, menjadi silent reader tak selalu terlihat buruk. Ingat, ini demi kebaikan bersama. Lalu, Gerakan #masukSurgaTanpaLikeDanKetikAmin juga perlu dikaji biar kelihatan lebih mandiri.

Tapi, sebentar..

Jangan-jangan ini konspirasi. Melawan hoax untuk percaya pada suatu media tertentu agar lebih mudah "menyetir" massa. Agar media kembali ke khittah orde baru, dimana media menjadi penggiring opini rakyat.
Atau agar keuntungan media besar mampu terserap secara optimal.
Jika sudah terjadi mayoritas dan minoritas, tetap saja yang mayoritas menang. Artinya kalau mereka menyebar hoax pun no problem.
Bisa juga kita sedang diprovokasi, agar menjadi pecah-belah, bercerai-berai. Kebencian semakin merambah, kebutuhan hidup bertambah.

Atau memang tidak ada lagi yang bisa dipercaya, selain kata-kata Emak, cerita misteri, dan mitos-mitos Simbah.