Setelah 1998, aksi mahasiswa yang boleh jadi tercatat dalam sejarah terjadi pada September 2019. Tuntutannya adalah penundaan beberapa pengesahan RUU.

Tapi pada dasarnya aksi ini adalah protes dan kekecewaan terhadap pemerintah yang dianggap tidak memenuhi amanat reformasi. Mahasiswa turun ke jalan di berbagai kota. Teriakan lantang, jas almamater berbagai warna, poster aksi yang khas, sampai gas air mata dan water cannon mewarnai aksi ini.

Beberapa pengesahan RUU memang ditunda. Selain itu juga, menanti respons presiden terkait PERPPU untuk membatalkan UU KPK hasil revisi. Selain itu, mahasiswa juga harus menghadapi tuduhan bahwa aksi ini ditunggangi kepentingan politik.

Perdebatan dan polarisasi pilpres yang lalu sedikit banyak dikaitkan dengan isu kepentingan politik yang menunggangi aksi mahasiswa. Bisakah aksi mahasiswa ini ditunggangi?

Aksi mahasiswa bukanlah aksi yang barusan terjadi kemarin sore. Dari sejarah kita tahu bahwa tonggak-tonggak sejarah gerakan dan aksi mahasiswa terpancang dengan kokoh. Semuanya adalah sejarah tentang perubahan.

Pada 1966, Tritura mendesak Soekarno, kemudian Soeharto diguncang Malari 1974 dan juga protes pada akhir 1970-an. Dan yang paling fenomenal adalah pada 1998.

Apa yang menggerakkan mahasiswa bisa kita runut jauh bahkan pada masa sebelum kemerdekaan, hal yang melandasi serta menjadi motivasinya?

Persinggungan dengan Pendidikan Barat; Benih Inteligensia 

Boedi Oetomo adalah salah satu garis sejarah pergerakan yang dipelopori anak muda dari kaum terdidik STOVIA pada 1908. Selanjutnya adalah peristiwa Sumpah Pemuda 1928. Jika dirunut, kehadiran kaum terdidik tidak lepas dari politik etis yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda.

Awalnya hanya upaya balas budi pada daerah koloni. Perubahan struktur sosial dan politik dan hadirnya kaum liberal di Belanda juga turut serta mendorong politik etis. Memberikan pendidikan pada pribumi juga bagian dari kebutuhan pemerintah kolonial Belanda untuk dipekerjakan di berbagai sektor.

Pendidikan yang hadir di tengah-tengah pribumi ternyata tidak hanya membuat mereka bisa baca tulis, tapi juga bisa membaca zaman. Ide-ide kebebasan dalam pendidikan Barat mewarnai cara berpikir generasi awal yang menikmati pendidikan modern dan juga generasi selanjutnya.

Persinggungan dengan pendidikan Barat pada politik etis ini melahirkan inteligensia yang mendorong ide dan gagasan perubahan. Inteligensia dan intelektual sendiri acap kali dipertukarkan dalam defenisinya.

Dalam bukunya, Inteligensia Muslim dan Kuasa (2012), Yudi Latif menjelaskan bahwa baik intelektual maupun inteligensia menunjuk pada seorang individu atau kelompok individu yang berurusan dengan dunia ide-ide, dan menjalankan peran sosialnya sebagai para pemikir ide-ide.

Bukan berarti pula bahwa sebelum lahirnya generasi inteligensia tidak ada pemikir yang melahirkan ide-ide. Sebelumnya, tentu peran ini juga dijalankan oleh kiai, ulama, dan juga pandita.

Lebih lanjut, Yudi Latif menjelaskan penggunaan istilah ‘intelektual’ dan ‘inteligensia’ serta istilah turunannya dalam konteks Indonesia modern merujuk pada sebuah formasi sosial dan trayek historis yang spesifik, yang muncul sebagai akibat dari diintrodusirnya sistem pendidikan Barat di negeri ini.

Intelegensia tidak hanya terdidik, tetapi menempati strata sosial sendiri dan memiliki fungsi sosial. Mereka memiliki respons kolektif yang sama terhadap suatu “panggilan”.

Pemerintah kolonial yang represif menumbuhkan respons kolektif ini pada anak muda generasi inteligensia pertama dan juga generasi-generasi selanjutnnya. Mereka bangkit melawan. Dan Mahasiswa hari ini sebagai kaum muda terdidik pun ikut melawan sama seperti pendahulunya.

Pemikir dan Gagasan tentang Kemajuan

Dari politik etis pula lahir tokoh-tokoh muda seperti Kartini yang merupakan salah satu pelopor tentang kemajuan. Keluarganya merupakan generasi pertama politik etis. Kartini pulalah yang pertama-tama menegaskan bahwa kita dijajah.

Pemikiran Kartini kemudian mewarnai ide-ide pembaru, salah satunya pada Roekoen Peladjar Indonesia (Roepi), organisasi mahasiswa yang terbentuk di Belanda, dan juga Poetri Mardika yang merupakan organisasi perempuan pribumi pertama di Hindia.

Tokoh lainnya adalah Abdul Rivai dengan gagasan tentang Bangsawan Pikiran yang berasosiasi dengan koem moeda. Keduanya juga termasuk dalam intelegensia generasi pertama.

Catatan sejarah tentang gerakan mahasiswa juga dapat dilihat pada Manifesto Cordoba 1918 di Argentina. Sebuah langkah besar dalam sejarah gerakan mahasiswa di mana untuk pertama kalinya dideklarasikan hak-hak mahasiswa. 

Pengalaman mahasiswa Amerika Latin mengajarkan bahwa tuntutan-tuntutan akademis dan aktivitas politik adalah dua hal yang saling melengkapi, bukannya saling bertentangan. Landasan-landasan historis ini bagai tali-tali yang merentang sekaligus terjalin dan menyimpul untuk membuat gerakan mahasiswa tetap pada jalurnya, setidaknya sampai hari ini.

Gagasan akan kemajuan sejak dahulu memang dipelopori oleh kaum muda. Mereka hadir sesuai warna zamannya. Dalam aksi September yang lalu, mahasiswa hadir dengan ciri khasnya. Mereka berdemo dan juga memanfaatkan kekuatan media sosial. Mahasiswa juga bisa kritis dan juga ekspresif.

Aksi mahasiswa pada September kemarin boleh jadi menjadi catatan sejarah. Dan pada sejarah, berbagai makna dan keteladanan kita petik.