Penulis
1 tahun lalu · 171 view · 3 menit baca · Filsafat 17137_77335.jpg
Ilustrasi: brewminate.com

Gerak Manusia Sejarah

Sejarah bergerak dalam mesin waktu yang panjang. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan awal mula kehidupan manusia dimulai, kapan batas akhirnya, dan akan mengarah ke mana kehidupan ini.

Manusia hanya tahu dimensi sekarang dan saat ini dalam memberi makna atasnya melalui sejarah. Orang-orang hanya bisa menginginkan tentang bagaimana ia akan mati untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan lain tentang kehidupan setelah mati, jika memang kehidupan itu ada.

Manusia hanya memiliki waktu saat ini untuk melihat segala sesuatu yang mungkin, dengan menengok ke belakang untuk menemukan pelajaran berharga akan arti kehidupan ini. Semakin kita berpikir tentang prediksi-prediksi ketakmungkinan di masa mendatang, semakin kita menjadi agak primitif. Karena tidak ada yang lebih pasti daripada kesadaran akan kekinian kita.

Barangkali manusia bisa hidup tanpa agama, tetapi ia tidak bisa hidup tanpa komune. Sebagai makhluk yang hidup secara kolektif, agama bukan satu-satunya cara dalam mempermudah jalan hidup.

Faktanya, kita bisa hidup tanpanya. Namun, ada keharusan alamiah di mana manusia memiliki kehendak untuk percaya, suatu kebutuhan akan pegangan.

Nampaknya kebutuhan akan itu mengarah pada hal-hal abstrak sebagai satu cita-cita ideal dalam menunjang hidup. Lagi-lagi, kebutuhan akan pegangan itu dikendalikan oleh gerak sejarah panjang di masa lalu. Di sini tampaknya mesin waktu berputar-putar seperti roda yang merupakan pengulangan-pengulangan dari pencapaian yang ingin diraih.

Apa sebenarnya kesimpulan yang dapat kita capai tentang ‘arti sejarah’ dalam pikiran manusia dan inti aspirasinya? Misalnya, ide tentang Tuhan telah mempengaruhi miliaran manusia dalam memahami gerak manusia dalam sejarah. Tetapi masalahnya, “Tuhan” yang mana dan menurut konsep mana yang manusia anut dalam sistem keyakinannya?

Lagi pula, teologi sering kali merupakan suatu penjelasan yang tampak membosankan. Sudah banyak tragedi berdarah dan perang atas nama Tuhan yang telah melukai gerak sejarah manusia dalam pencapaian kemajuannya. Manusia modern semakin yakin bahwa untuk kemajuan dunia, Tuhan tidaklah menjadi realitas yang lebih penting dari ‘demokrasi’, misalnya, atau sistem moralitas yang ‘manusiawi’.

Ide di atas memang gila. Namun, kegilaan itu penting untuk memprediksi ketakmungkinan-ketakmungkinan dari satu jenis kebenaran yang ingin diperjuangkan. Kehendak untuk percaya meniscayakan suatu kepastian. Sebagai konsekuensinya, manusia harus berjuang mati-matian terhadap apa yang dipercayainya, bahkan jika satu kepercayaan itu harus berhadapan dengan satu juga kepercayaan lainnya.

Dalam politik, sering kali kita tidak menemukan moralitas. Kekuasaan tidak pernah menjadi satu pandangan yang menyeluruh tentang gerak sejarah, meski kekuasaan sangat berperan penting dalam menciptakan sejarah ‘versi mereka’.

Ada satu anggapan, meski ini tampak bodoh, bahwa sejarah itu milik kaum penguasa. Ini artinya pemahaman kita dipersempit oleh dimensi politik kekuasaan. Sementara manusia sering mencari titik terdalam dari ‘makna hidup’ dari fenomena-fenomena pinggiran yang bahkan tak tersentuh oleh kekuasaan.

Produk kebudayaan, seperti ilmu, seni musik, sastra, bahkan agama sering mewakili cara-cara bagaimana manusia mencari titik terdalam dari gerak sejarah mereka, suatu pencarian tentang absolutisme universal. Tapi, produk kebudayaan itu beragam. Sulit menentukan mana yang lebih memiliki kepastian ketimbang sikap subjektivisme belaka. Mengapa yang kita cari tidak relativisme saja, yang senyatanya sudah ada di depan mata?

Itulah manusia. Mereka merasa mewakili makhluk yang paling unggul di alam raya ini, meski batas-batasnya belum bisa diketahui pasti.

Ada apa sih dengan ‘kepastian’ yang menjadi penyakit terbesar sepanjang sejarah umat manusia? Manusia terlalu memiliki hasrat yang sangat tinggi terhadap ekspresi dan imajinasi kebenaran agama. Padahal, hasrat ini akan tenggelam dalam gerak sejarah yang menegasikannya.

Sejarah itu sifatnya ‘negasi atas negasi’. Penyangkalan demi penyangkalan dan penghapusan demi penghapusan tidak pernah membuat manusia lelah untuk menunggu satu kepastian yang tidak pernah ada. Kalau memang ada, mungkin kita bukan termasuk darinya, hanya keyakinanlah yang tersisa.

Namun, setiap bentuk penghayatan yang bervariasi tentang tema-tema universal dalam gerak sejarah memperlihatkan kecerdasan dan kreativitas yang amat tinggi akan imajinasi yang mencoba mengekspresikan tentang keberadaan wujud inti dari kehidupan ini.

Meski sifat dari imajinasi itu, seperti ungkapan puitik, cinta, dan kedalaman, menunjukkan karakteristik yang sama dan bersifat mengulang-ulang. Sering kali ini mewujud dalam ekspresi imajinatifnya tentang Tuhan yang menyejarah

Paling tidak, sabda Tuhan telah membentuk sejarah peradaban kita. Meski wacana tentang Tuhan bukan sesuatu yang mudah. Gerak sejarah umat manusia banyak diisi oleh ekspresi realitas transenden yang mau tidak mau harus diterima sebagai bentuk pencarian terhadap titik sejarah.

Kita tidak pernah benar-benar tahu tentang kemungkinan masa depan, maka cara-cara bagaimana kita akan melaluinya harus menggunakan akal sehat.

Kita tidak boleh saling menghakimi antarumat manusia karena perbedaan. Kita memiliki status yang sama di hadapan alam semesta di mana kita berpijak. Gerak sejarah harus dilihat sebagai satu perjuangan bersama dan kita tidak boleh mereduksi nilai hidup bersama.