Kehidupan di muka bumi senantiasa mengalami perubahan. Siang berganti malam, malam berganti siang. Cuaca di pagi hari cerah, namun ketika sore tiba hujan turun mendera. Manusia lahir dalam bentuk seorang bayi, seiring waktu ia menjadi remaja kemudian menjadi remaja, dewasa, tua sampai akhirnya meninggal dunia.

Ada kalanya kita berada dalam kejayaan, namun ada waktunya kita jatuh dalam kemalangan. Ada masanya segala hal berjalan seperti yang kita kehendaki, namun ada saatnya kebahagiaan berubah menjadi penderitaan.

Tapi bisa juga sebaliknya. Penderitaan bisa berubah jadi kejayaan, kemalangan bisa berubah menjadi kebahagiaan. Tentu saja, dalam setiap perubahan selalu muncul gejolak-gejolak, seperti diungkapkan oleh Orhan Pamuk dalam novelnya The Black Book (Kara Kitap), sejarah terjadi di pintu-pintu.

Perubahan adalah sesuatu yang niscaya, betapapun kita berupaya menyangkalnya. Tak peduli apakah kita percaya alam semesta diciptakan dari tiada menjadi ada ataukah alam ini azali (qadim) dan abadi, tapi perjalanannya senantiasa berisi perubahan-perubahan.

Planet-planet dan bintang-gemintang tak pernah menetap di satu tempat, melainkan bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Pergerakan mereka memengaruhi hidup kita, sehingga gerak adalah hakikat kehidupan.

Jika kehidupan adalah pergerakan dan gerak melahirkan perubahan, maka segala sesuatu mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tak ada yang menetap. Begitu seorang filsuf Yunani kuno bernama Heraclitus (535-475 SM) menyatakan.

Akan tetapi, di tengah segala perubahan itu, ia melihat adanya satu entitas atau satu kesatuan. Entitas itu disebutnya Akal Universal (logos) atau kita boleh menyebutnya Tuhan.

Akal Universal itulah yang menuntun jalannya perubahan yang terjadi pada alam ini. Dengan kata lain, segala perubahan terjadi dalam ruang lingkup suatu tuntunan. Barangkali kita dapat memadankan gagasan ini dengan apa yang kita kenal dengan hukum alam atau sunnatullah. Memang benar seluruh benda-benda langit bergerak, tapi toh gerakan mereka tetap pada orbit-orbitnya.

Bila perubahan-perubahan itu tidak dapat lepas dari suatu tuntunan atau hukum tertentu, maka hakikatnya tidak ada perubahan. Tidak ada yang disebut dengan perubahan aktual, demikian dinyatakan filsuf Yunani lain, Parmenides (515-475 SM). Apa yang kita saksikan sebagai perubahan tak lain hanyalah persepsi indrawi, sementara indra-indra kita tidak mampu memberikan gambaran yang tepat dan menyeluruh tentang dunia.

Ini bukan berarti tidak ada perubahan sama sekali. Perubahan yang ditandai oleh segala kejadian di dunia dan kehidupan kita tidaklah aktual. Perubahan hanyalah partikularitas dari dunia universal yang azali dan abadi. Karena itu, kita harus menyingkirikan persepsi ilusif tentang perubahan dan menempatkan kesadaran kita pada gagasan bahwa kehidupan kita adalah bagian dari dunia yang universal tadi. Kesadaran itu dapat dicapai dengan rasio atau akal.

Tampaknya apa yang dinyatakan Parmenides itu selaras dengan ide Plato (428-348 SM) tentang dunia ide. Baginya, realitas hakiki adalah apa yang ada dalam dunia ide, dunia gagasan. Apa yang kita persepsi melalui pengalaman hanyalah bayang-bayang belaka dari realitas hakiki di dunia ide tadi. Sementara Heraclitus sepertinya diamini oleh Aristoteles (384-322 SM) yang mengakui perubahan-perubahan di dunia material itu nyata.

Aristoteles adalah filsuf yang juga menetapkan kemenduaan wujud. Setiap benda memiliki dua dimensi: substansi (zat) dan bentuk atau aksiden. Baginya, gerak hanya terjadi pada aksiden-aksiden, yaitu tempat, ukuran, kualitas, dan lain sebagainya. 

Adapun substansi tetap tak berubah, sebagai suatu dasar pendukung gerak yang menciptakan suatu proses perubahan kontinyu. Jadi, substansi diam sekaligus memiliki potensi untuk menggerakkan.

Mungkin pemikiran-pemikiran di atas terkesan hanya berlaku pada benda-benda alam, sedangkan kehidupan manusia tidak sesederhana itu. Tapi para filsuf tampaknya bersepakat bahwa manusia adalah alam kecil atau acap kali disebut mikrokosmos. Sebagai bagian dari alam besar atau makrokosmos, manusia juga bergerak seperti halnya benda-benda alam yang diyakini juga terdiri dari badan, nalar, dan jiwa.

Kalaupun kita memerlukan dasar filosofis lain untuk menegaskan keniscayaan perubahan dalam kehidupan manusia, kita dapat merujuk pada pemikiran Hegel (1770-1831 M). Filsuf besar asal Jerman ini menyatakan bahwa segala sesuatu, entah itu benda, kejadian atau peristiwa, akan dihadapkan dengan realitas lain yang menjadi lawannya. Realitas pertama disebut tesis dan yang kedua disebut antitesis.

Bukannya saling menyingkirkan, pertentangan tesis dan antitesis justru akan melakukan dialog dan saling tukar-menukar bentuk hingga lahirlah apa yang dinamakan sintesis. Gerak dan perubahan  sejarah kehidupan berada dalam ruang lingkup dialektika tesis-antitesis-sintesis ini. Walhasil, tiada yang tetap diam. Segala sesuatu senantiasa berubah dan mengambil bentuk yang baru.

Sebenarnya konsepsi Hegel ini sudah didahului oleh filsuf muslim Shadr al-Din al-Syirazi atau yang lebih dikenal dengan Mulla Shadra (1572-1641 M), namun dengan konsep yang lebih tegas dan melampaui. Struktur dasar perubahan dalam kehidupan adalah apa yang disebutnya gerak substansial (al-harakah al-jauhariyah).

Sebelumnya Aristoteles – yang diikuti oleh Ibnu Sina – menyatakan hanya aksiden yang berubah, sedangkan substansi diam tak bergerak. Mulla Shadra lebih jauh mengatakan justru substansi-lah yang bergerak dan menghasilkan perubahan-perubahan.

Fazlur Rahman dalam The Philosophy of Mulla Shadra (terj., 2000) menjelaskan hal itu karena gerak tidak dapat terbangun dari entitas yang diam. Entitas semacam itu memang memiliki esensi yang tetap tapi wujudnya selalu mengalami perubahan dan perpindahan.

Ilustrasinya kira-kira begini: si Fulan yang biasanya malas menulis kini rajin menulis artikel. Perubahan diri si Fulan bukan hanya terjadi dalam bentuk perpindahan kualitas dari malas ke rajin. Perubahan itu terjadi karena si Fulan yang sekarang rajin menulis telah berbeda dari si Fulan yang dulu malas. Wujud si Fulan telah bergerak dan menghasilkan perubahan pada sifat dan kualitasnya.

Demikianlah yang terjadi dalam segala perubahan dalam konsepsi gerak substansial. Perubahan sifat-sifat (aksiden) disebabkan oleh pergerakan zat (substansi). Dalam konteks penciptaan dan kepengurusan makhluk oleh Tuhan, perubahan alam didasari oleh zat Tuhan yang senantiasa bergerak. Akhirnya, hal ini semakin menegaskan keniscayaan perubahan dalam kehidupan yang tidak dapat kita elakkan.

Karena perubahan dalam kehidupan itu niscaya, bahkan sampai substansi pun berubah, kita tidak dapat berpegang pada satu keadaan saja. Jika keadaan yang kita alami saat ini melahirkan penderitaan, kita bisa berharap akan adanya perubahan dan masa depan yang lebih baik. Jika keadaan saat ini dirasakan sebagai kejayaan, kita harus sadar bahwa akhirnya akan ada perubahan. Karena alam senantiasa bergerak, kita pun akan senantiasa berubah.

Sebagai catatan akhir, kita tidak dapat mengabaikan fakta bahwa di dunia modern ini, dan di tengah luasnya masyarakat yang menghuni bumi, segala perubahan hidup, atau sejarah dalam arti luas, dipengaruhi oleh faktor-faktor dan kondisi-kondisi materi. Seberapapun kuatnya kita menutup mata dengan nilai-nilai idealisme, pengaruh kondisi-kondisi materi akan selalu terasa.