George dan saya adalah teman lama. George merupakan pria yang baik, punya pikiran dinamis yang keras ingin terus bergerak maju, namun ia cukup pasif dalam dunia asmara. 

Ia lahir di Bengal, India, pada 25 Juni 1903. Seminggu lalu saya lupa menuliskan ucapan Selamat Ulang Tahun untuk dirinya (sebenarnya bukan cuma saya, banyak pembaca Orwellian pun lupa).

"Maafkan kelalaian temanmu, George. Semoga kamu tidak marah dan Tuhan dan Dewa Rama senantiasa menyayangimu," ucapku padanya dalam rongga dada yang penuh asap rokok ini.

Saya berniat dengan penuh harap tulisan kecil ini bisa menjadi sebuah hadiah istimewa untuk George dan sebagai vitamin penambah kesuburan atau pemantik minat belajar bagi generasi 4.0 perihal sejarah tokoh-tokoh dunia yang banyak berkontribusi pada rumah pikiran-pikiran progresif.

***

Pria pemilik nama asli Eric Arthur Blair itu banyak menghabiskan masa hidupnya untuk mengerjakan hal-hal fundamen, di antaranya mengumpul bara api dan menaruhnya di atas kepala kata-kata dalam sepi sepanjang malam, setelah dirinya memutuskan keluar dari dunia kepolisian. 

Siang hari dipergunakannya untuk menertawakan kejenakaan hidup di sekelilingnya, teman-teman sesama tahanan dan perbudakan secara suka rela yang dilakoni para penjaga rumah jeruji besi dengan dinding warna abu-abu di kota Burma.

"Tujuan dari sebuah lelucon bukanlah untuk menurunkan derajat manusia, tetapi untuk mengingatkannya bahwa ia sudah terdegradasi," katanya. 

Saking sering menertawakan leluconan orang-orang di penjara Burma, tanggal 17 April 2019, saya, George, dan beberapa teman kami lainnya dipindahkan ke penjara Tamalanrea, di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, inDONEsia.

Dalam perjalanan ke Makassar, kami sempat berkenalan dengan seorang pria bernama Joko Wi Dijaya, pengusaha mebel dari kota Solo, yang datang ke terminal kapal laut untuk mengirim barang pesanan pelanggan-pelanggannya ke lorong-lorong kehidupan di berbagai kota di inDONEsia. Kami dan Mas Joko sempat ngobrol beberapa saat.

Joko pun tak lupa menawari kami untuk ngopi bersama dirinya di satu kedai kopi kecil yang letaknya kurang-lebih lima ratus meter dari pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, tetapi kami menolak dan kemudian berjalan meninggalkannya sendirian bersama beberapa karyawannya di pinggiran jembatan. 

Namun dari belakang, kata-katanya berlari menyusuli langkah kami; "Jangan pernah melarang siapa pun berbicara apa pun, dan terimalah sebuah penghinaan dengan penuh kedewasaan."

"Sampai jumpa di lain waktu, Bro Joko," balasan kami padanya sembari beranjak menapaki tangga kapal satu per satu.

Baru tiga hari tiba di Makassar, di suatu pagi yang dingin, saya dan George diam-diam menyusun rencana kecil untuk keluar dari kungkungan penjara yang menyebalkan ini—keluar untuk menyicipi Coto Makassar. Goerge yang saat itu sedang sakit karena tidak terbiasa melintasi lautan luas kekurangaan nyali.

"Sebaiknya kita tinggal dulu seminggu di sini. Mumpung di sini kita bisa makan tanpa perlu mengeluarkan uang seperak pun. Bila keadaan saya mulai membaik, barulah kita terbang bebas menuju alam luas," bilangnya dengan wajah yang agak lesuh dan muram durja.

Meski dirinya menantang tingkah barbar imperialisme Britania, nuraninya berulang kali dicuri orang lain. Keluar senyap dari penjara saja ia takut. Jadi, Anda tidak usah membayangkan seorang George mengorganisasi perlawanan menantang imperialiasme. Pun setiap kali melihat kesemrautan dunia yang kami berusaha pahami bersama, George selalu saja lebih memilih diam dan tidak berbuat apa-apa. 

Meski begitu, orang-orang tahunya George adalah kritikus sastra dan politik yang menganjurkan setiap pencipta kata di atas kertas untuk tidak menulis menggunakan istilah-istilah saintifik, atau jargon bahasa asing bila kita bisa menemukan persamaanya dalam bahasa sehari-hari.

Bila Anda pernah mendengar orang-orang perpustakaan menyebut Animal's Farm atau Nineteen Eighty-Four, itu harta paling bernilai yang George miliki sepanjang hidupnya hingga dirinya meninggal di Kota Oxfordshire, Inggris, 21 Januari 1950. 

Tubuh George terlalu sempit, tak cukup untuk menampung ide-ide besar yang ia miliki. Dua mahakarya itu sengaja ia sumbangkan untuk peradaban manusia sekaligus menebus dosa dan utang budinya di masa lalu.

Karyamu berumur panjang, George. Orang-orang membacanya penuh dengan harapan hidup yang membebaskan. Andai kamu masih hidup, pastinya umurmu sudah tua renta, dan saya ingin bilang padamu tentang segala persoalan manusia, tantangan, dan kerumitannya, termasuk tentang teman kita di Tanjung Priok, Joko, yang telah berubah prinsip dan sikap hidupnya.

Joko melupakan pesan-pesannya sendiri untuk kita dulu sewaktu hendak bepergian ke Makassar tentang perlawanan penindasan yang menghendaki perdamaian dan kemerdekaan hidup individu dan sosial. 

Kita bisa mengajaknya ngopi kemudian mengingatkannya agar jangan salah mengambil langkah dan lupa menjaga martabat manusia. Sayangnya kamu sudah lama tidak di sini. Saya pun kini tengah sibuk menjalani masa-masa akhir kuliah di satu kampus swasta di Kota Makassar. Kita tak punya waktu lagi untuk saling bercengkerama santai yang penuh dengan gelombang kedewasaan pikiran.

Tapi saya berjanji padamu, George, bila nanti waktu kembali membawa saya dan Joko bertemu, akan saya ingatkan dia siapa dirinya yang sejati. Saya juga akan memambahkan pesan-pesanmu tentang bentuk politik nasionalisme padanya bahwa "kaum nasionalis tidak hanya tidak menyetujui kekejaman yang dilakukan oleh pihaknya sendiri, tetapi ia juga memiliki kapasitas yang luar biasa untuk tidak mendengarnya". Dan, kebohongan dalam politik harus dihapuskan dari percakapan publik.

George, walaupun kita sebenarnya belum pernah bertatap muka secara langsung, dirimu adalah saksi hati manusia-manusia yang hangus jadi debu yang menempel di sepatu aparat imperialisme dan tuan-tuan mereka yang lebih keparat dari aparat. 

Maafkan bila temanmu ini belum matang memahamimu, George. Meskipun saya tahu bagimu "pria hanya bisa bahagia jika mereka tidak menganggap objek hidup adalah kebahagiaan", saya tetap ingin mengatakan padamu: berbahagialah di sisi Tuhan.

Selamat Ulang Tahun, George Orwell. Catatan-catatan yang kamu tuliskan dengan cinta dan keseriusan sepanjang waktu, siang ataupun malam, telah banyak melahirkan pribadi-pribadi yang merdeka dan berpihak kepada perikemanusiaan. Terima kasih atas semua itu, George Orwell. Sekali lagi, damai menyertaimu.