Seminggu ini mata dari seluruh dunia tertuju pada gejolak sosial yang terjadi di Amerika Serikat. Penjarahan dan bakar-bakaran menjalar dari satu kota ke kota lainnya dengan sangat cepat. Dalam satu malam beberapa kota membara. Termasuk Gedung Putih sempat lockdown karena diserbu massa.

Banyak negara yang selama ini bergesekan dengan Trump mengharapkan kejatuhannya melalui peristiwa ini. Sebutlah Cina dan Iran yang selalu berperang narasi dengan Trump di media sosial, terutama sejak virus Korona.

Peristiwa luar biasa ini dipicu oleh kejadian tragis di Minneapolis ibu kota Negara bagian Minnesota pada 25 Mei 2020 yang lalu.

Adalah George Floyd, 46 tahun, ditangkap karena penjaga toko menelepon polisi dengan tuduhan Floyd membeli rokok dengan uang kertas US$ 20 palsu. Tujuh belas menit kemudian polisi datang dan memborgol Floyd yang saat itu ada di mobilnya yang sedang parkir.

Video kejadian itu memperlihatkan ada empat orang anggota polisi di lokasi. Tiga orang menindih tubuh Floyd dengan menggunakan lutut. Satu orang di bagian kaki, satu di bagian pinggang dan satu lagi di leher, yaitu  Derek Chauvin.

Chauvin menekan leher Floyd nyaris sembilan menit lamanya dan tetap menekan lebih dari dua menit setelah Floyd sudah tidak ada respons lagi. Menonton Video itu sangat menguras emosi, antara kasihan pada Floyd dan keinginan menghantam wajah arogan Derek bangs*t itu dengan godam. Maaf, aku sangat emosional.

Sebenarnya aku tidak ingin menyebutkan ras di tulisan ini, tapi hal itu tidak memungkinkan karena kejadiannya berkembang menjadi isu rasial. Floyd sang korban adalah warga kulit hitam sedangkan pelaku adalah warga kulit putih.

Penduduk Minnesota yang terkenal dengan sebutan Minnesota Nice karena warganya selalu bersikap sopan, tercoreng dalam semalam karena protes damai tiba-tiba berubah menjadi kerusuhan massal disertai pembakaran kantor polisi, perusakan gedung perkantoran dan tempat usaha, juga penjarahan toko-toko dan mall, termasuk Target.

Video penyiksaan Floyd yang membangkitkan amarah itu menyebar sangat cepat di semua platform media sosial. Massa marah karena polisi yang membunuh Floyd hanya dipecat dan masih bebas berkeliaran.

Warga kulit hitam, baik yang di Minnesota maupun jutaan orang berbagai ras di seluruh dunia, melalui media sosial menuntut keadilan bagi warga kulit hitam. Warga menuntut dilakukan investigasi yang transparan dan independen, juga menuntut keempat anggota polisi tersebut segera ditangkap.

Sayang sekali Kepolisian Minnesota lambat menanggapi tuntutan tersebut. “Sekarang bukan waktunya bergegas menghakimi dan segera mengutuk petugas kami. Investigasi mendalam sedang dilakukan,” demikian juru bicara kepolisian memberikan keterangan pers. Pernyataan ini makin mengelorakan amarah warga.

Jam 5 sore, setelah pernyataan itu, ratusan orang mulai berkumpul di jalan-jalan besar dan di tempat kejadian Floyd dibunuh. Black Live Matter (BLM) yang merupakan pergerakan kulit hitam menjadi motor protes damai tersebut. Korupsi, intimidasi, dan kekerasan yang sering dilakukan polisi menjadi tuntutan mereka.

Arogansi polisi Minnesota terlihat lagi saat mereka menembakkan gas air mata kepada para pendemo. Warga makin marah. Keesokan harinya kejadian tidak terkendali. Massa melakukan pembakaran, perusakan, dan penjarahan. Bahkan banyak tempat usaha milik warga kulit hitam pun ikut menjadi korban.

Kejadian di Minnesota menjalar cepat bagai Covid-19 ke kota-kota lain, sebutlah Detroit, New York, Philadelphia, Boston, Washington DC, Richmond, Feyetteville NC, Dallas, Houston, Los Angeles, Salt Lake City, Denver, Portland, Seattle, Chicago, Louisville, Atlanta, Miami, Kansas City, Las Vegas, Phoenix, Omaha, Lincoln, Baverly Hills, dan lain-lain.

Bahkan Gereja St. John DC yang dibangun oleh Presiden Abraham Lincoln pada 1861 dan disebut sebagai “Gereja Presiden” juga ikut dibakar massa.

Aku pun teringat Kerusuhan Mei 1998. Kerusuhan ini diawali oleh demo mahasiswa atas krisis moneter dan dipicu oleh tragedi Trisakti di mana empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas tertembak oleh militer dalam demonstrasi 12 Mei 1998.

Kemiripan kerusuhan di USA dan Indonesia

Ada masalah rasial yang membara di bawah permukaan sejak puluhan tahun. Di USA, kulit hitam vs kulit putih. Di Indonesia, Pribumi vs minoritas Tionghoa.

Ada pemicu kejadian. Di USA, pembunuhan Floyd, warga kulit hitam oleh Derek Chauvin, anggota polisi kulit putih. Di Indonesia, empat orang mahasiswa Trisakti yang tewas ditembak tentara. Warga vs aparat.

Ada penumpang gelap. Di USA kelompok Antifa yang sering membuat onar tapi selalu dibela oleh elite politik bahkan beberapa stasiun televisi yang condong ke kiri (Demokrat). Di sayap kanan ada White Supremasi. Uniknya, secara terang-terang kaum konservatif (Republikan) menolak mendukung gerakan kelompok White Supremasi.

Di Indonesia pernah ada PAM Swakarsa bentukan beberapa elite pemerintah zaman rezim Soeharto. Hingga kini pun tiap ada demo besar di Jakarta, selalu dikhawatirkan ada penumpang gelap yang akan memanfaatkan situasi yang dapat menyebabkan kekacauan lebih besar. Tampaknya warga Indonesia sudah lebih sadar dampak buruk kehadiran penumpang gelap dibanding warga USA.  

Ada pendistribusian amunisi. Pada kerusuhan di USA, tiba-tiba banyak sekali tumpukan batu di pinggir-pinggir jalan yang siap digunakan perusuh untuk menghancurkan kaca-kaca pertokoan dan perkantoran. Ada pula mobil yang aktif bergerak membagikan bata kepada pendemo. Di Jakarta juga pernah ada kedapatan sebuah ambulance yang isinya batu.

Ada penyokong dana yang sering kita sebut bohir. Di USA setiap kerusuhan selalu saja George Soros yang dituduh sebagai penyumbang dana kelompok kiri. Sedangkan di Indonesia tuduhan selalu mengacu pada sebuah keluarga elite yang pernah berkuasa. Tapi hal gelap seperti ini selalu sulit dibuktikan dan akhirnya selalu menjadi teori konspirasi.

Pelajaran yang dipetik

Kerusuhan di USA itu sangat kompleks dalam segala hal. Pembunuhan seorang warga berkembang menjadi isu rasial, kemudian menjadi perang kelas sosial antara kaum proletar melawan borjuis. Kaum proletar menjarah dan menghancurkan harta benda kaum borjuis yang kaya raya. Mereka menjarah Target, Nike, Louis Vuitton, Macy’s, Adidas, dll

Para pengusaha yang selama ini secara publikasi menjunjung tinggi keragaman dan minoritas, akhirnya menjadi korban dari minoritas yang digerakkan oleh penumpang gelap. Ada beberapa video yang memperlihatkan kekagetan karena selama ini mereka mendukung BLM tapi kini mendapat serangan.

Perusuh tidak mengenal siapa kawan dan lawan, Dude! Mereka hanya ingin membuat rusuh sehingga pemerintahan resmi dapat ditumbangkan.

Tampaknya warga gampang menjadi beringas karena beberapa bulan belakangan dikarantina paksa karena Covid-19. Banyak yang frustrasi karena tidak bisa beraktivitas, kehilangan pekerjaan dan berkurang pendapatan. Kesempatan ini mereka manfaatkan untuk menyalurkan rasa frustrasi dan emosi pada keadaan dan pemerintah.

Banyak orang yang mengaitkan kerusuhan ini dengan pemilu presiden yang akan dilakukan November tahun ini. Politikus Demokrat mengatakan kericuhan ini adalah bukti lemahnya kepemimpinan Presiden Trump.

Lalu dibantah oleh para Republikan pendukung Trump bahwa negara bagian dan kota-kota yang rusuh berada di bawah kepemimpinan Demokrat yang berarti orang-orang Demokrat yang tidak kapabel.

Pada kejadian pembunuhan Floyd, semua orang tak pandang partai mengutuk tindakan polisi tersebut. Tapi saat menggelari pelaku, terjadi perbedaan tajam. Presiden Trump dan pendukungnya menyebut mereka thugs (penjahat yang kejam), sedangkan para Demokrat menyebut para pelaku adalah protester damai.

Lebel yang berbeda ini menjadi isu tersendiri. Presiden Trump akhirnya menyebut Antifa sebagai organisasi teroris.

Pelajaran lain yang saya ambil adalah, kita bisa membangun narasi apa pun dari kejadian ini. Ada ribuan cerita, video, gambar, kesaksian, tulisan, dan sebagainya. Tentukan narasi yang mau dibangun dan ambil data yang mendukung narasi tersebut.

Misalnya, kita mau membangun narasi kebrutalan polisi. Sangat mudah dilakukan karena ada banyak video yang memperlihatkan polisi melakukan tindakan brutal terhadap para pendemo/perusuh.

Ingin membangun narasi polisi sahabat warga juga mudah karena banyak video atau gambar polisi baik yang berpelukan dengan warga kulit hitam dan mereka saling menjaga dari amukan perusuh.

Anda mau bikin narasi warga kulit hitam adalah perusuh, sangat banyak foto atau video yang valid mendukung itu. Juga banyak video/foto di mana warga kulit hitam yang kecewa terhadap BLM karena mereka menyebabkan tempat usaha atau komunitasnya menjadi hancur.

Ada banyak kulit putih yang mendukung BLM dan mereka bersimpuh pada kulit hitam memohon ampun karena selama ini rasial. Tindakan yang akhirnya banyak dikritik kulit putih dan kulit hitam dari sayap kanan.

Foto pun bisa menipu karena hanya dua dimensi. Terlihat seperti polisi mau menembak seseorang di hadapannya, padahal polisi itu mengarahkan senjatanya ke tempat lain dan orang itu pas melintas di frame tersebut.

Dalam menganalisis suatu kejadian, kekurangan data bisa membuat kita salah membuat kesimpulan, tapi kebanyakan data pun dapat membawa kita kepada kesimpulan yang kebablasan. Semua data netral, yang membuat analisislah yang selalu bias.

Sekuat apa pun kita hendak adil dalam berpendapat, selalu saja ada hal yang membuat kita cenderung berpihak ke satu sisi. Pendidikan, pergaulan, ketertarikan terhadap suatu isu, kemampuan menganalisis, dan lain-lain akan memengaruhi pendapat kita terhadap suatu kejadian, dan itu sangat manusiawi.

Demikian juga dengan tulisan ini. Pasti banyak yang tidak setuju dengan tulisan ini. Dan itu biasa saja.