Dewasa ini kita dikejutkan atas adanya berita tindakan rasisme yang dilakukan oleh seorang kepolisian AS kepada George Floyd. Bukan pertama kalinya hal seperti ini terjadi, kekerasan yang sampai  merenggut nyawa George Floyd tersebut menjadi satu dari berbagai alasan mengapa sebagian besar masyarakat AS (berkulit gelap) memilih turun aksi besar-besaran.

Meskipun kenyataannya, entah karena kekesalan atau karena kesempatan, sangat disayangkan dalam aksi tersebut terjadi penjarahan terhadap beberapa toko yang ada di tepi sepanjang jalan.

Ketersinggungan yang Berlebihan

Rasa sentimen, rasisme, dan diskriminatif merupakan beberapa hal yang dari dulu dipertontonkan dan diperlakukan terhadap mereka. Kita semua tahu dalam deklarasi universal hak asasi manusia (DUHAM) disebutkan dengan jelas bahwa semua orang memiliki kesamaan di depan hukum, hak dan kewajiban yang sama, tidak saling mendiskriminasi, dan berhak mendapatkan perlindungan dari negara. 

Perbedaan ras, suku, agama, warna kulit, dan hal lainnya tidak lagi bisa dijadikan alasan yang pada akhirnya menggiring kita terhadap perbuatan yang tidak adil. Hal seperti ini terjadi tidak terlepas dari culture yang hidup dalam masyarakat kita. 

Hal serupa juga dialami oleh penulis. Dahulu, sebelum ada internet seperti sekarang, masyarakat desa mencari hiburan dan mengakses berita terbatas melalui radio dan televisi. Di beberapa kesempatan sering kali kita lebih suka menonton mereka yang memiliki perbedaan bentuk fisik, dan menertawakannya.

Bukan karena kesadaran atas perbedaan, pada saat itu dirasa tidak ada masalah, mengingat tujuan menonton TV semata hanya untuk mencari hiburan, suka hati pemirsa yang menyaksikannya.

Barulah tersadar ketika di bangku kuliah mendapat materi terkait fallacy (kesesatan berpikir). Seperti yang ada dalam buku argumentasi hukum yang ditulis oleh Philipus M. Hadjon dan Tatiek Sri Djatmiati, bahwa pada dasarnya ada lima bentuk fallacy, yang salah satunya menyebutkan “adalah suatu kesesatan ketika kita menerima atau menolak terhadap suatu argumen karena orang yang menyampaikan adalah mereka yang memiliki bentuk fisik berbeda dengan kita."

Contoh sederhananya seperti yang dialami oleh salah satu kepala desa di Pamekasan, Madura. Tanpa ada pertimbangan yang ilmiah, warga desa tersebut menghiraukan imbauan dari kades terkait bahaya Covid-19, karena kades tersebut memiliki bentuk fisik yang berbeda dari biasanya (berkulit gelap).

Adanya pemahaman tersebut seharusnya menyadarkan kita bahwa tidak semua kebiasaan atau budaya yang hidup di masyarakat harus dilestarikan. Timbulnya rasa sebagai kaum mayoritas mendorong sebagian orang untuk bertindak tidak adil dan mudah tersinggung.

Pada dasarnya "ketersinggungan" merupakan sesuatu yang diterima, tanpa tersadar yang mengatakan hal tersebut membuat orang lain tersinggung. Sederhananya adalah kembali ke personal kita, bagaimana cara menyikapi suatu hal yang terjadi. Makin tinggi rasa cinta (fanatik) seseorang terhadap suatu objek tertentu, maka potensi itu makin besar.

Jutaan Orang Indonesia yang Bernasib sama degan George Floyd 

Tak hanya di AS, rasa simpati terhadap George Floyd juga banyak berdatangan dari berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Sebut saja lahirnya hashtag #georgefloyd dan #blacklivesmatter di Twitter dan Instagram yang berada paling atas beberapa hari terakhir.

Terdengar begitu wajar hal itu terjadi, menandakan bahwa pentingnya rasa memanusiakan manusia masih terjaga. Melihat respons yang begitu excited-nya warga Indonesia, timbul perdebatan yang terdengar miris, “semut di seberang lautan tampak dengan jelas, tidak dengan gajah di pelupuk mata”.

Ungkapan seperti ini banyak disuarakan beberapa aktivis HAM di Indonesia. Mereka menilai tidak sepatutnya berbelasungkawa berlebihan atas kematian George Floyd, dengan mengesampingkan begitu banyaknya kasus yang sama yakni pelanggaran HAM yang dialami oleh warga Papua.

Seperti yang disampaikan oleh Amnesty International Indonesia, yang menyebutkan setidaknya ada lima permasalahan mendasar yang dialami oleh warga Papua, mulai dari ketidakjelasan nasib para pengungsi Nduga, pembatasan akses informasi, para aktivis (Papua Damai) yang mendapat proses hukum tidak adil, pelanggaran terhadap hak berserikat dan berkumpul, serta penahanan dan pembunuhan di luar proses hukum.

Sebut saja kerusuhan yang terjadi sekitar bulan Agustus-September 2019 lalu, di mana asrama mahasiswa Papua di Malang dan Surabaya dikepung dan mendapat ancaman dari warga. Parahnya lagi sampai ada perkataan yang terdengar rasis, menyebut mereka adalah “monyet”. Atas kejadian ini pula, pemerintah memutus akses internet sementara, dengan dalih untuk menekan penyebaran hoaks (berita bohong).

Terlepas segala hal tersebut terjadi karena faktor media, kenyataan yang dialami sekarang seakan menunjukkan bahwa kita hanya sebagai konsumen sejati belaka. Rasa empati muncul ketika dengan heboh di segala media massa memberitakannya meskipun berada jauh di seberang lautan sana. 

Begitu pun sebaliknya, gajah yang ada di pelupuk mata (kasus yang sama terjadi di negara kita sendiri) kita tidak dapat menyuarakannya. Tanpa tersadar sejak kecil kita sudah mengalami doktrin dan sentimen terhadap mereka yang memiliki bentuk fisik berbeda.

Entah faktor apa sehingga polisi dengan mudahnya melakukan intimidasi terhadap George Floyd, terlepas karena korban melakukan suatu pelanggaran dan/atau kejahatan, atau karena ada permasalahan pribadi, atau murni karena perbedaan bentuk fisik.

Semua sama di depan hukum (equality before the law). Ada mekanisme dan aturan hukum yang harus dilalui. Membunuhnya bukanlah solusi. Yang ada hanya menumbuhkan kembali rasa sentimen antar pihak, yang pada akhirnya menimbulkan konflik saudara.