Aliran atau genre adalah salah satu elemen terpenting dalam drama. Hal itu terjadi karena drama disajikan berdasarkan aliran-aliran (genre) yang ada dan telah berkembang, baik yang telah berkembang di Indonesia maupun di luar Indonesia.

Dari genre-genre yang lahir tersebut, maka pembaca atau penonton dapat memperkirakan jalan cerita yang akan terjadi dalam drama yang disajikan atau dipentaskan.

Sama halnya dengan novel dan film, drama juga memiliki beberapa aliran. Beberapa aliran drama antara lain seperti klasik, neo-klasik, romantik, realisme, simbolisme, ekspresionisme, epik, absurd, dan lain sebagainya, tergantung dari tujuan atau latar belakang si penulis drama itu sendiri. Apakah ia ingin drama yang disajikannya beraliran realis, simbolis, romantis, atau beraliran lain. 

Drama dianggap lebih istimewa daripada karya sastra lainnya karena penulis drama ingin terus berkomunikasi dengan para penonton atau penikmatnya dengan cara menghidupkan tokoh dan peristiwa yang diciptakan di atas panggung. Penghidupan tokoh dan peristiwa inilah yang dinamakan dengan teater. Teater diartikan sebagai tempat para aktor mementaskan sebuah drama yang ditonton oleh banyak orang.

Aliran-aliran drama pada dasarnya mencerminkan kenyataan, sesuai dengan istilah mimetik dalam pandangan Plato dan Aristoteles yang mengatakan bahwa karya sastra atau seni pada dasarnya merupakan tiruan dari aspek alam semesta. 

Jadi, pencerminan kenyataan atau kehidupan manusia sehari-hari tidak hanya dilukiskan dalam drama realisme saja, melainkan di drama-drama beraliran lain seperti drama klasik maupun drama romantik. Namun, tulisan ini akan lebih difokuskan pada pembahasan mengenai drama realis dan drama simbolis, juga bagaimana hubungan di antara kedua aliran drama tersebut.

Realisme, seperti yang terlihat dari kata dasarnya, yaitu “real” yang berarti nyata. Genre realisme ini berkembang sekitar tahun 1850-an di Prancis. Penulis-penulis realisme berusaha menggambarkan kenyataan kehidupan yang subjektif, yaitu berdasarkan pandangan si penulis itu sendiri, sehingga kenyataan kehidupan sehari-hari ini lah yang menjadi highlight atau poin penting dalam sebuah penyajian drama realis. 

Sesuai yang dikemukakan oleh Bakdi Soemanto dalam tulisannya yang berjudul “Realisme dalam Jagat Teater” bahwa awal gagasan realisme dalam teater adalah keinginan untuk menciptakan illusion of reality atau ilusi kenyataan di atas panggung, dan hal itulah yang akan membuat para penonton terhanyut pada penyajian drama tersebut dan lupa bahwa sebenarnya yang mereka tonton hanyalah sebuah pementasan drama.

Dalam pertunjukan teater, drama realis ini biasanya secara tidak sadar membuat para penonton ikut pula merasakan apa yang ditampilkan oleh para aktornya. Mulai dari ikut merasakan emosinya, tindakannya, maupun pikirannya. Juga membuat mereka seakan-akan berada di ruang dan waktu yang sama dengan para aktor yang sedang berada di atas panggung.

Beberapa penulis drama realis di Indonesia di antaranya adalah Utuy Tatang Sontani dengan drama Awal dan Mira, Putu Wijaya dengan drama Bila Malam Bertambah Malam, Motinggo Boesje dengan drama Malam Jahanam, dan Nasjah Djamin dengan drama Titik-titik Hitam

Naskah-naskah tersebut melukiskan permasalahan-permasalahan yang sudah sering kita jumpai di kehidupan nyata. Ihwal-ihwal yang setidaknya pernah kita rasakan satu kali dalam kehidupan, seperti percintaan, perselingkuhan, pengorbanan, masalah rumah tangga, dan lain sebagainya.

Hubungan antara Realisme dan Simbolisme

Seperti “real” yang melahirkan aliran realisme, simbol juga bisa melahirkan sebuah aliran sastra, yaitu simbolisme. Aliran simbolisme ini muncul sebagai jawaban dari adanya aliran realisme. 

Baca Juga: Pentas Seni

Jika drama realis menyajikan unsur-unsur drama sesuai referensi atau acuan para penonton terhadap kehidupan sehari-hari (seperti meja adalah benda yang memiliki permukaan datar dan kaki-kaki sebagai penyangga), maka dalam drama simbolis unsur-unsur drama yang disajikan lebih sederhana dan bahkan sangat minimalis (seperti kardus persegi panjang yang dianggap sebagai meja atau kotak buah yang dianggap sebagai kursi). 

Jadi, “kenyataan” yang hadir di dalam drama simbolis hanya bisa dipahami melalui intuisi para penontonnya karena kenyataan-kenyataan itu diungkapkan lewat simbol-simbol yang disajikan. Simbol-simbol tersebut bisa di sajikan secara tersirat atau implisit maupun secara gamblang atau eksplisit. 

Sesuai dengan yang tertulis dalam buku “Teori Kesusastraan” karangan Wellek dan Waren yang mengartikan simbol sebagai objek yang mengacu pada objek lain, tetapi juga menuntut perhatian pada dirinya sendiri sebagai suatu perwujudan.

 

Sumber Bacaan

Abrams, M.H. 1953. The Mirror and The Lamp: Romantic Theory and The Critical Tradition, Oxford: Oxford Univerity Press.

Emilia, Contessa dan Shofiyatul Huriyah. 2020. Perencanaan Pementasan Drama. Yogyakarta: Deepublish.

Hasanuddin, W.S. 1997. Drama: Karya dalam Dua Dimensi. Bandung: Penerbit Angkasa.

Soemanto, Bakdi. 1999. Realisme dalam Jagat Teater. Jurnal Humaniora No. 11.

Wellek, Rene dan Austin Warren. 2016. Teori Kesusastraan. (Melani Budianta, Terjemahan). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.