Ketika Newton menemukan aksi, bahwa hukum “Gravitasi dan Mekanika” itu bisa mengubah jadi pengetahuan.

Saat itu apel masak jatuh di atas kepalanya. Dia berfikir, —reaksi bumi itu lebih cepat dan berpengaruh ketimbang lempeng tektonik bergerak di dalam perut bumi. Dia mengerti hukum-hukum fisika, dan revolusi saintifik, dan kimia itu bisa mengolah langsung dan memproses data mentah.

Menurutnya keingintahuan terhadap sesuatu objek, materi dan benda-benda itu bisa mengubah spesies manusia menuju Tuhan teknologi.

Kalau Revolusi Agrikultur kita mendatangkan agama-agama bertuhan. Maka revolusi saintifik melahirkan agama-agama humanis. Patut kita rayakan.

Sekarang kita tahu bahwa peran bioteknologi dan nanoteknologi itu menggabungan unsur-unsur biotik-manusia ke dalam perangkat-perangkat lunak, robot dan mekanik.  Semuanya aktifitas manusia, tidak lagi bekerja secara manual,—fisik dan paralel.

Melainkan secara online, akan dikontrol dan di kendalikan oleh mesin. Sesuai teknik robot dan sistem mekanik yang tersistematis bekerja.

Di Mesir kuno, tepatnya di Imperium Yunani misalnya, ketika abad pertengahan. Mereka tidak tahu bahwa perangkat-perangkat komputer itu adalah bukan bagian daripada CPU, Lunak, Software dan type board, melainkan genetika akal.

Biasanya di dalam genetika akal, mereka tahu betul terdapat neuron, DNA dan sel-sel yang berfungsi—melacak hakikat dan eksistensi-Nya manusia.

Namun, di abad 21 mereka sangat yakin bahwa yang menguasai dunia, dan teknologi adalah bukan Tuhan. Melainkan spesies, sel-sel, dan biotek manusia itu sendiri.

Satu juta spesies dan miliaran sel-sel itu yang aktif di dalam otak kita. Itu akan di rekam oleh jutaan neuron yang tumbuh terhadap pengalaman kita.

Kita tidak sadar reaksi kimia yang di proses dan dibentuk secara abstrak dalam pikiran, mesin dan pengalaman kita itu merupakan aliran elektrik proton yang hidup di alam bawah sadar kita.

Mungkin lebih tepatnya. Kita menegasikan itu orang yang sedang bermimpi, berharap, berimajinasi dan berprasangka baik kepada sesuatu yang superior, otentik dan yang sifatnya absolut.

Namun bagi kita itu adalah fiksi. Belum terjadi, dan belum bekerja secara nyata.

Tetapi dalam genetika akal dan mesin robotika itu memiliki sensor yang mengirimkan sinyal dan data ke pemprosesan pusatnya, ketika tenaga elektrik, —batrei itu hampir habis. Namun selama proses itu terjadi. Mesin ini tidak akan mengalami apapun.

Sebaliknya spesies manusia yang kehabisan energi, merasakan lapar dan haus. Itu harus mengambil makanan. Biar rasa itu hilang. Bayangkan saja misalnya, ketika algoritma bekerja di dalam otak kita.

Seluruh aliran elektron, protom, dan atom akan merekam aktifitas data dalam memori kita. Jadi ketika kita merasa bahagia, berarti ada semangat yang terjadi di pikiran kita. Saat-saat kita merasa hancur. Pertanda bahwa sinyal elektron yang di kirim ke perasaan kita “sedang bermasalah”, —atau elektrokimiami sedang merasa gangguan aliran, terhadap sel-sel otak dan fungsi jantung.

Namun kita harus perhatikan lagi! Bahwa jutaan miliaran sel-sel dan neuron dalam otak kita itu akan mengembalikan ulang aktifitas kita. Misalkan ketika Homer Simpson, George Bush,  Bill Clinton dan Monika Lewinsky itu sakit, depresi, dan gangguan otak. Itu merefleksikan, dan mengindikasikan adanya reaksi elektrokimiami yang dibawah dari olah pikir, memori, dan masa lalu manusia.

Contoh nyatanya. Ketika kita merasa takut, gelisah, marah, cemberut, berani, dan gigih untuk berusaha. Dengan maksud pantang menyerah sebelum bertindak dan maju untuk melangkah depan. Itu menandakan reaksi elektron sangat sensititf pada keadaan luar.

Dan bagi algoritma, dan perangkat mesin dan lunak —,akan berfungsi dan mengatur kembali aktifitas spesies manusia itu. Ketika mereka merasa cemas, takut, gelisa, cemberut dan marah-marah terhadap sesuatu yang merangsang obyektivitas luar.

Perangkat-Perangkat itu akan tahu bagaimana tubuh dan kondisi fisik manusia itu menerima data, mengolah data, menginput data, —atau menghapus data, dan menghasilkan data. Semuanya itu di atur sedemikan kompleks oleh neuron yang aktif dan yang bekerja.

Tinggal mesin dan manusia yang mengaturnya?

Pertanyaan saya! Apakah data yang di proses dan yang di input oleh jutaan miliaran sel-sel dan neuron itu berdasarkan harsat, jiwa dan fisik mekaniknya atau tidak. Tentu harus di perhatikan.

Sebab itu sangat mengancam eksistensi keberadaan manusia. Bila biotek, —gabungan teknologi dengan fisik manusia akan berlanjut.

Dan begitu juga dengan kondisi tubuh dan kekuatan manusia, ketika pengaruh genetika akal, menguasai sains. Itu sangat mengancam hakikat dan eksistensi-Nya spesies manusia. Misalnya, pengaruh obat dan Industri Covid.

Industri Covid

_Kalau boleh saya tanya; Covid-19 itu Comersial good atau pubric good?

Perhatikan!

Setiap urusan industri, saham, bisnis dan produksi obat-obatan. Kita lebih condong terhadap hasil. Urusan yang harus digunakan sebagai bahan pertimbangan produksi. Itu tidak di indahkan oleh kita.

Saya tidak tahu! Apa logika dan peran kekuasaan dunia melakukan perencanaan dan pengamatan proses seperti ini. Seharusnya vaksin, idealnya harus kita tolak untuk masuk di setiap-setiap negara kita!

Sebab, itu akan berdampak dan merusak pada kehidupan selanjutnya. Tetapi karena kita terbelakang dengan soal sains, ekonomi dan agama. Maka dengan cepat kita mengambil resiko, dan kesimpulan.

Jangan kira karena kita bermayoritas Islam dunia. Lalu kemudian kita berkesimpulan bahwa ajaran Islam akan berfikir lurus pemahamannya dan akan menang melawan Covid.  Tidak, Saya katakan tidak!

Karena hari ini Islam itu diporak-porandakan, diadu-dombakan dan dikacaukan. Yang menurut mereka bahwa—seluruh pengetahuan itu akan dikalahkan oleh sains. Agama tidak akan menang. Selain Ekonomi yang akan membabatkan kembali. Nyatanya America kalah di bidang sains dan industri obat.

Kemarin kita bisa lihat di Indonesia.  Upaya PSBB darurat. PPKM darurat, ekonomi darurat, agama darurat, politik darurat, dan terakhir yang lebih gila lagi adalah sains darurat.

Itu Covid-19 sebenarnya, dari hasil analisis AI, Biotek, dan genetika manusia adalah Artificial intelligence,—atau kecerdasan buatan. Yang memang pada dasarnya buatan manusia yang digabungkan melalui otak, sel-sel dan neuron manusia.

Sehingga proses reaksi dan pengaruhnya bisa merusak DNA manusia, menghambat pertumbuhan sel-sel manusia dan juga meyakinkan manusia tidak mempercayai Tuhan.