Bangun tidur scroll TikTok, mau belajar scroll TikTok, lagi rebahan scroll TikTok, lagi kumpul bareng teman scroll TikTok, dan mau tidur pun scroll TikTok. Itulah yang kebanyakan remaja masa kini lakukan, ya remaja Generasi Z.

Bahkan tidak hanya remaja loh, anak-anak pun melakukannya. Rasanya seperti tidak bisa sehari saja tidak scroll TikTok. Scroll TikTok untuk healing katanya, padahal aslinya memang demam TikTok.

Demam TikTok juga terjadi di lingkungan pertemanan dan rumah saya, Contohnya saja ketika saya dan teman saya sedang kumpul yang di mana hanya sekadar main, kami sibuk scroll TikTok dan kemudian diakhiri dengan membuat video TikTok yang sedang viral.

Contoh lain adalah ketika saya sedang menyapu teras rumah, banyak anak kecil kompleks yang asyik berjoget sambil merekamnya, tentu saja saya bertanya kepada mereka, “Eh dek asyik banget jogetnya.”. Mereka menjawab, “TikTokan kak, ayo ikutan.” See? TikTok lagi TikTok lagi.

Saya sendiri merasa ada yang kurang apabila tidak membuka TikTok satu hari saja. Ya bagaimana lagi, dengan scroll TikTok mood saya langsung membaik. Apalagi banyak konten-konten lucu yang menghibur dan membuat perut geli. 

Memang dengan scroll TikTok sangat asyik hingga bisa lupa waktu, itu bagi saya sih, apakah bagi kalian juga? Saya yakin pasti banyak yang seperti saya. Apalagi bagi kita yang merupakan Generasi Z.

Lalu apa sih Generasi Z itu? Gampangnya, Generasi Z adalah generasi digital yang mahir atau canggih akan digital dan teknologi. Dengan kemampuan yang mereka miliki, informasi ataupun lainnya akan mereka dapatkan dengan cepat dan tentunya mudah. 

Mereka sangat canggih dan terampil dalam menjalankan aplikasi. Nah salah satunya adalah aplikasi TikTok. Kalian pasti sudah sangat tidak asing dengan nama aplikasi yang satu ini. 

Seperti yang saya ceritakan di awal, pengguna TikTok pasti ada di sekitar kalian, bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa kalian sendirilah yang merupakan penggunanya. Karena pada faktanya Generasi Z sendiri mendominasi pengguna aplikasi TikTok.

Tanpa kalian sadari, sebenarnya aplikasi TikTok ini menimbulkan banyak sekali perdebatan akan manfaatnya. Bahkan sebagian orang beranggapan bahwa aplikasi TikTok ini sangat merugikan. Banyak faktor yang menjadi alasan mengapa aplikasi TikTok sangat merugikan, antara lain :

1. Membuat Pengguna Lupa Akan Waktu

Bermain TikTok sesungguhnya memang sangat asyik, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu akan memakan waktu yang banyak sehingga terbuang sia-sia. Contohnya saja ketika orang-orang terlalu fokus dan bersemangat untuk membuat konten yang sedang viral

Mereka lupa akan waktu pastinya, karena sibuk untuk membuat konten agar fyp. Padahal waktu yang mereka habiskan untuk bermain TikTok dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti membantu orang tua.

2. Menimbulkan Hoax

Sebenarnya banyak berita yang dibawakan oleh konten kreator di TikTok. Apalagi kreator tersebut memiliki cara penyampaian yang di mana seolah-olah bahwa informasi yang mereka sampaikan adalah benar. 

Pasti orang-orang akan mudah percaya dengan informasi berita yang disampaikan, padahal belum dipastikan kebenarannya. Lalu, dengan mudahnya berita hoax tersebut tersebar di lingkungan masyarakat.

3. Timbul Kasus Bullying

Tidak sedikit konten TikTok yang berisi sindir-menyindir antar kreator. Bahkan dengan pedasnya mereka menyindir dengan kata yang dapat menyakiti perasaan sang kreator yang disindirnya. Selain itu, banyak komentar-komentar pedas yang dilontarkan oleh pengguna TikTok terhadap sang konten kreator.

Bahkan ada anggapan bahwa “lo ga good looking, lo ga aman” yang berarti bahwa walaupun kamu menunjukkan suatu bakat tetapi kamu tidak berparas bagus, kamu akan tetap dihujat. Bukankah itu merupakan suatu kasus bullying? Sangat disayangkan.

4. Aplikasi yang Tidak Ramah Anak di Bawah Umur

Saat ini pengguna TikTok tidak hanya kalangan remaja dan orang dewasa. Anak di bawah umur yang seharusnya belum dikenalkan pada aplikasi ini pun turut mengonsumsi konten yang tersedia. 

Apalagi konten-konten yang ada di TikTok sangat beragam, salah satunya adalah konten yang negatif. Sang anak sendiri masih belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Bisakah kalian bayangkan jika anak di bawah umur melihat konten tersebut? Anak di bawah umur cenderung meniru apa yang mereka lihat. Jadi sangat disayangkan jika sang anak kemudian meniru apa yang mereka lihat di TikTok.

Sebenarnya bermain TikTok itu tidak salah, namun bagaimana sikap dan cara kita dalam menghadapinya agar tidak berdampak negatif pada diri kita sendiri. Kita perlu berpikir jangka panjang dalam langkah yang akan kita ambil. Apalagi bagi kita yang merupakan Generasi Z yang akan menjadi generasi penerus bangsa.

 Kalau bukan kita siapa lagi yang akan membangun bangsa ini agar maju? Jangan sampai masa pertumbuhan kita hanya dihabiskan dengan hal-hal yang negatif yang dapat merugikan diri sendiri.

Alangkah lebih baiknya bahwa kita mengisi masa pertumbuhan kita dengan hal-hal yang positif. Seperti mengasah bakat yang kita miliki, jangan sampai bakat yang kita miliki terpendam secara sia-sia. 

Dengan begitu kita akan berkembang secara maksimal. Sehingga di masa yang akan mendatang kita dapat berperan aktif dalam membangun bangsa Indonesia.