Perlahan tapi pasti generasi Y membawa perubahan besar dalam lanskap sosial-politik Indonesia kontemporer. Generasi ini mempunyai mindset dan tingkah laku yang khas, berbeda dari generasi-generasi sebelumnya.

Beberapa tahun belakangan ini kita menyaksikan suatu perubahan besar dalam perilaku berpolitik. Saat ini mungkin mayoritas pejabat dan tokoh publik mempunyai media sosial untuk menyampaikan ide, visi, program dan hasil dari pekerjaannya.

Dalam pemilu, bahkan penyampaian ide dalam kampanye sudah tidak lagi melulu konvensional dan monoton. Banyak elit politik saat ini ramai-ramai menggunakan website dan media sosial untuk menciptakan kampanye yang kreatif, menarik dan inklusif.

Perubahan ini sebagian besar diakibatkan oleh perkembangan pesat dari teknologi digital. Namun, banyak orang seringkali melupakan bahwa kehadiran generasi Y, yang menjadi salah satu mayoritas usia penduduk dominan Indonesia (16-34 tahun), mempunyai andil besar terhadap dorongan perubahan itu.

Generasi Y adalah generasi yang terbiasa untuk membaca dan belajar, menyampaikan pendapat, beradu argumen, menulis petisi dan mendorong terciptanya transparansi lewat dunia maya. Perilaku dan tingkah laku mereka tersebut mau tidak mau mempengaruhi cara dan perilaku berpolitik tidak hanya para elit politik namun juga sebagian besar masyarakat Indonesia.

Apakah perubahan mendasar yang dibawa oleh generasi Y di dalam lanskap sosial-politik Indonesia? Namun, sebelum menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya didiskusikan karakteristik dari generasi Y untuk memberikan latar belakang dan pemahaman yang lebih komprehensif terhadap generasi ini.

Karakteristik generasi Y

Istilah generasi Y atau sering disebut generasi millenial pertama kali diperkenalkan oleh sejarawan William Strauss dan Neil Howe dalam karya seminalnya berjudul Generations: The History of American Future, 1584-2069. Di dalam karya itu, Strauss dan Howe memberi label generasi Y bagi orang-orang yang lahir dalam rentang waktu tahun 1980an awal sampai 2000an awal. Sebelum generasi Y terdapat generasi X (lahir antara 1961-1981) dan generasi baby boomers (1943-1960).

Strauss dan Howe mendefiniskan generasi sebagai agregat dari semua orang yang lahir selama rentang waktu sekitar dua puluh tahun atau sekitar satu rentang fase kehidupan: anak-anak, dewasa muda, usia pertengahan dan usia tua.

Masing-masing generasi mempunyai kecenderungan karakter, kepercayaan, nilai dan tingkah laku yang berbeda, dibentuk dan dipengaruhi oleh periode sejarah tertentu dimana mereka tumbuh dan menjadi dewasa. Umumnya peristiwa besar serta tren sosial-kebudayaan mengubah secara fundamental zeitgeist generasi itu tumbuh dibesarkan.

Dalam membantu untuk menjelaskan setiap karakteristik generasi, Strauss dan Howe menemukan sebuah pola berulang yang mempengaruhi pola pikir dan perilaku generasi Y. Pola itu berupa siklus empat tahap yang disebutnya sebagai turning (belokan), berputar diantara: episode high (puncak), awakening (kebangkitan), unravelling (terurai) dan crisis (krisis).

Generasi Y, menurut Strauss dan Howe, tumbuh dan menjadi dewasa di masa unravelling dimana situasi pada zaman ini dalam banyak hal adalah lawan dari masa high. Masa unravelling mempunyai ciri dimana institusi tidak kuat dan tidak dipercayai sementara individualisme menguat dan subur. Menurut Strauss dan Howe setidaknya ada dua tren kebudayaan besar yang mempengaruhi generasi Y: pertarungan budaya (culture wars) dan postmodernisme.

Bila merujuk ke sejarah Indonesia, generasi Y dibesarkan di dalam masa transisi dari era Orde Baru ke era reformasi. Pada masa transisi ini institusi negara begitu lemah sebab terjadi “pertarungan politik” selama transisi yang membuat situasi keamanan dan politik tidak stabil.

Saat berjalannya reformasi, meskipun ada upaya penguatan dan reformasi kelembagaan namun kenyataannya institusi negara masih saja lemah karena integritas institusi negara digerogoti oleh perilaku koruptif dan tidak terpuji dari elit politik.

Transisi rezim secara jelas menyiratkan terjadinya benturan budaya antara nilai-nilai tradisional dan konservatif melawan nilai-nilai liberal dan progresif. Benturan budaya tersebut mewarnai tumbuh kembang generasi Y. Selain itu, secara global pandangan postmodernisme yang mempromosikan gagasan pluralisme: tidak ada kebenaran tunggal, ada banyak cara untuk mengetahui dan menghargai perbedaan pandangan, berpengaruh besar membentuk pola pikir generasi Y.

Hal yang paling mencolok yang membedakan antara generasi Y dan generasi sebelumnya adalah generasi Y tumbuh dalam lingkungan serba digital. Generasi Y adalah generasi yang terhubung hampir 24 jam sehari dengan teknologi digital dan sangat bergantung kepadanya. Mereka percaya bahwa teknologi digital mengubah hidup menjadi lebih praktis, efisien dan inovatif.

Bila diakumulasikan, semua faktor tersebut membentuk generasi Y menjadi generasi digital, efisien, terbuka, optimis, inovatif, kritis, pragmatis dan egaliter.

Perubahan yang dibentuk

Dengan pola pikir dan karakter generasi Y tersebut, pengaruh yang paling jelas dari generasi Y di dalam lanskap politik adalah berpindahnya medium berpolitik dari dunia nyata ke dunia maya. Namun, bila dianalisis secara lebih dalam perubahan yang terjadi ternyata tidak sesimpel itu. Dalam hemat saya, pandangan dan karakteristik generasi Y yang kritis tapi pragmatis, optimis, inovatif dan terbuka mendorong secara perlahan terciptanya transformasi kultur politik yang transparan, dialogis, kreatif dan terbuka terhadap pendapat baru.

Saat ini sudah tidak zaman lagi para elit melakukan manuver politik semaunya karena dengan penguasaan generasi Y terhadap internet mereka bisa mendorong aksi kolektif menciptakan perlawanan di media sosial. Sebagai langkah antisipatif untuk mengetahui dan memilih pemimpin, generasi Y bahkan secara kreatif menciptakan beragam website (jariungu.com, checkyourcandidates.org, votecerdas.org) yang berisi rekam jejak para calon wakil rakyat dalam pemilu 2014 lalu.

Kecurangan terhadap pemilu agaknya semakin sulit terjadi sebab generasi Y mendorong terciptanya transparansi informasi publik melalui teknologi digital. Kemunculan situs kawalpemilu dan kawalpilkada adalah salah bukti kuat dari desakan generasi Y untuk menciptakan kultur politik yang bersih dan transparan.

Generasi Y adalah generasi yang tidak percaya perubahan bisa diciptakan oleh partai politik. Kegagalan partai politik untuk mendorong situasi menjadi lebih baik ditambah kondisi partai yang hierarkis, oligarkis dan kurang visioner memaksa mereka untuk mencari cara berkontribusi dengan cara lain. Generasi Y lebih tertarik menciptakan perubahan dengan membangun perusahaan start up atau bekerja di lembaga non-profit.

Keterbukaan pikiran generasi Y terhadap isu-isu politik yang sensitif, seperti pelanggaran HAM masa lalu, kesetaraan jender, pernikahan sesama jenis serta terpenuhinya hak kaum minoritas, menyiratkan adanya kemajuan berpikir dari generasi sebelumnya.

Memang tidak seluruh generasi Y mempunyai pemahaman pengetahuan yang kuat terhadap isu-isu yang diabaikan tersebut. Meskipun demikian, pandangan progresif  atau liberal dari generasi Y memang memaksa para elit politik hari ini mau tidak mau berbicara tentang isu-isu yang selama ini sebisa mungkin mereka hindari.

Masih kita temukan saat ini perbedaan generasi antara para elit politik dan generasi muda memunculkan kesulitan dalam mendialogkan isu-isu tersebut dengan pikiran lebih terbuka. Namun, kebebasan berpendapat dalam era reformasi, pesatnya perkembangan media digital dan keterbukaan pikiran dari generasi Y akan mendorong semakin banyaknya isu-isu sensitif tersebut dibicarakan dalam ranah publik.