Hih, Aku capek pengen healing”, “Kok susah banget to, kapan selesai ?”, “Tugas terus tugas terus”, “Hasss pasti susah dijalani”.  “Kenapa sih aku harus ada di posisi ini?”

Hayo siapa yang hobinya sambat nih ? atau  sedikit-sedikit suka mencurahkan isi hatinya di sosmed ? Yang kalau lagi galau, gundah, merana langsung deh mengeluarkan senjata andalan , yaitu menyalakan handphone atau laptop. Selanjutnya mulai nih muncul aba-aba. Bersedia, siap, ya. Jari jemari mulai gesit mengetik berbagai kata keluhan untuk update status di sosial media.

Tentunya istilah sambat sudah tidak asing lagi di telinga anak muda zaman sekarang, terlebih lagi dengan adanya sosial media. Fenomena ini tidak ada habis-habisnya menjadi topik perbincangan. Bahkan di sosmed  ada ruang obrolan yang dibuka untuk ajang saling berkeluh kesah.

Apa sih sambat itu ?

Sambat memiliki arti mengeluh. Istilah tersebut populer di kalangan netizen sebagai upaya pencurahan isi hati dengan cara berkeluh kesah dengan orang lain.

Sambat sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian besar orang ketika tengah menghadapi situasi yang berat atau sedang bergumul tentang sesuatu hal. Rasanya kurang afdal kalau tidak memulainya dengan menyambat. Dengan bersambat paling tidak terasa lebih plong atau lega.

Sambat tidak selalu berkaitan dengan konotasi negatif. Sah-sah saja untuk melakukan hal tersebut. Mungkin bisa dikatakan manusiawi.

Ada baiknya kita bersambat karena memang lebih baik mengutarakan daripada memendamnya sendiri atau menutupi diri dengan merasa seakan baik-baik saja di depan orang lain, padahal yang namanya perasaan tidak bisa dibohongi. Rasanya pasti tidak nyaman dan pada akhirnya membuat fisik dan batin kita menjadi tidak sehat.

Sambat bukan sesuatu hal yang salah bahkan bisa dibilang penting dan perlu untuk dilakukan loh.  Memang kedengarannya sedikit aneh tapi memang benar adanya.

Tidak cuma perihal untuk mendapat kelegaan belaka namun dengan bersambat kita juga dapat menemukan solusi dari perspektif atau sudut pandang orang lain terhadap masalah kita yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Sudahi Sambatmu

Tetapi ya jangan sambat terus-terusan karena tidak baik untuk kesehatan mental kita. Sambat yang berlebihan membuat kita semakin down dan bisa hilang kontrol. Sambat juga berpengaruh terhadap mood yang pada akhirnya mood tersebut dapat mengganggu fokus kita dalam melakukan aktivitas. Waduh, jangan sampai deh semua bubrah gara-gara banyak sambatnya.

Selain itu, sambat terus-terusan dapat menghambat potensi kita untuk bisa berkembang dan produktif loh. Kita juga akan dipandang lemah oleh orang lain. So, sambatlah secukupnya.

Milikilah prinsip “ Sambat boleh tapi kerja juga jalan”. Jangan sampai nih kita stuck gak bergerak, gak berkembang  gara- gara mengikuti suasana hati. Sayangkan ya kalau waktunya terbuang sia-sia.

Sambat juga harus liat situasi kondisi. Jangan sampai kita sambat di waktu dan orang yang salah. Waduh udah kayak judul lagu aja tuh, soalnya kenapa ?. Bisa-bisa malahan mengubah suasana yang awalnya tenteram dan damai menjadi masalah.

Misalnya, saja nih kita sambat dengan orang yang sedang banyak tugas atau yang sedang dalam kondisi capek. Bisa kita bayangkan endingnya nanti bakalan seperti apa. Lega yang awalnya diharapkan malahan masalah yang didapat. Tambah runyam bukan ?

Jadi sangat penting juga untuk melihat sikon. Usahakan juga sambat dengan orang yang tepat dan terpercaya supaya kita mendapat nasihat dan arahan yang benar sehingga ia dapat membantu kita mencari solusi dan mampu menguatkan kita.

Mengubah Mindset 

Menanamkan mindset positif  perlu dilakukan agar kita tidak menjadi generasi lemah atau istilah gaul nya mletre yang mudah terombang-ambing oleh keadaan.

Jangan jadi pribadi yang apa-apa sambat. Belum melakukan atau mencoba eh tapi sudah sambat duluan.  Baru juga dibayangkan eh malahan “SaBar” terus alias “Sambat ra Bar-bar” . Kalau begitu kapan kita bisa mengupgrade diri?

Berada di zona nyaman memang enak namun mau sampai kapan terus berada di zona tersebut ?

Terkadang kita perlu situasi yang baru dengan berbagai keadaan untuk bisa mengukur kemampuan dan mengenali diri kita lebih jauh. Banyak loh pelajaran dan pengalaman baru yang bisa kita dapat.

Tau-tau Nyaman Juga 

Mungkin awalnya yang terasa berat, sulit untuk dilalui lama-kelamaan akan terasa nyaman dan terbiasa dengan hal tersebut atau bahkan enggan untuk beralih ke situasi yang lain karena sudah terlalu nyaman? Hehe ups, seperti contohnya kuliah daring.

Di awal pemberlakuan sistem kuliah daring pasti terasa sangat berat, bagaimana tidak? segala sesuatu dilakukan secara online baik pembelajaran, diskusi dan segala kegiatan pun secara daring. Pasti kalau dipikir-pikir sangat membosankan dan susah untuk beradaptasi dalam situasi tersebut.

Namun,  tidak terasa kita sudah melewati lebih dari satu tahun situasi tersebut. Ternyata keadaan yang memaksa kita untuk menyesuaikan diri, menimbulkan rasa terbiasa yang lama-kelamaan akan terasa nyaman loh.  Ketika ditanya ulang untuk memilih kuliah online atau offline? Hayoo, kalian milih yang mana nih ?

So, nikmati saja prosesnya. Tau-tau juga selesai kok. Tau-tau jadi nyaman. Selamat berproses manusia-manusia tangguh.