Politik ibarat pisau yang memiliki dua sisi. Dimana sisi tajam lah yang menjadi inti dan cirikhas sebuah pisau. Dari sisi tajam ini pula menunjukkan siapa yang bertindak, apa yang ditindak, dimana, kapan dan bagaimana tindakan itu berlangsung. Maka muncul berbagai pemikiran orang mengenai kata politik baik segi proses maupun hasilnya.

Politik berasal dari bahasa Yunani yaitu “polis” yang artinya negara-kota. Kemudian diturunkan menjadi kata lain seperti polities (warganegara), dan policy (kebijakan). Sedangkan secara terminologi, Bernard Crick menyatakan dalam buku In Defence of Politics, 2000: “politics is the solution to the problem of order which chooses conciliation rather than violence and coercion”. Politik merupakan sebuah solusi untuk sebuah penyelesaian masalah tanpa kekerasan dan paksaan. Maka politik dapat dikaitkan dengan kebijakan (policy )sebagai hasilnya, atau dapat disebut keputusan formal yang menetapkan sebuah rencana tindak bagi masyarakat.

Kebijakan yang merupakan hasil dari proses politik minimal mengalami perubahan berkala setiap 5 tahun. Mengapa demikian? Jelas karena gaya berpolitik para pengambil kebijakan yang berbeda disetiap periode. Perubahan kebijakan mencakup segala aspek kehidupan baik sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, bahkan teknologi. Seperti halnya kebijakan mengenai teknologi dan ketenaga nukliran di Indonesia yang tak luput dari perubahan, menjadi sorotan dan menuai pro kontra.

Nuklir berasal dari bahasa latin “nucleus” yang artinya inti atau lebih khususnya inti atom, kata ini berhubungan erat dengan istilah keilmuan dan teknologi sehingga menjadi sebuah kesatuan frasa yang umum disebut “teknologi nuklir”. Istilah ini kemudian berkembang menjadi lebih kompleks yaitu “ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir” yang berarti segala ilmu pengetahuan dan teknologi yang berorientasi pada pendayagunaan dan pemanfaatan sifat-sifat inti atom suatu unsur.

Pada dasarnya teknologi nuklir sama seperti politik, keduanya ibarat pisau. Teknologi berbasis nuklir dapat menjadi sumber kesejahteraan manusia apabila dikelola secara baik dan dengan tujuan baik, sebaliknya dapat menghasilkan efek yang buruk pula jika berada pada tangan yang salah.

Tak dapat dipungkiri bahwa dalam masa 50 tahun terakhir teknologi yang bertumpu pada IPTEK nuklir telah banyak berperan dalam meningkatkan nilai tambah suatu produk industri, mengungkapkan fenomena alam, menghasilkan produk pertanian unggul, mengungkap berbagai kejanggalan organ tubuh sehingga berbagai penyakit dapat disembuhkan dan meningkatkan diversivikasi energi.

Namun, kita kembali lagi harus menyadari pentingnya mengkaji secara continue dari sebuah teknologi supaya hal-hal yang tidak diinginkan tidak terjadi lagi seperti Bom Atom Hiroshima, tragedi Chernobyl dan melelehnya reaktor nuklir daya di Fukushima Jepang.

Berbicara masalah keberadaan teknologi nuklir tidaklah lepas dari masalah kebijakan, khususnya masalah PLTN yang hingga kini masih menjadi impian para ahli nuklir Indonesia. Perkataan “Go nuklir” sesungguhnya sudah dimulai dari awal kemerdekaan yaitu pada masa pemerintahan Ir.Soekarno. Hal ini dibuktikan dengan dibangun dan diberikannya ijin operasi Reaktor Atom Bandung 250 KW pada tahun 1964.

Kemudian adanya rencana pembangunan reaktor Serpong dari Rusia – IRT 2000 KW yang gagal karena meletusnya peristiwa sejarah G 30 S. Pada tahun 1975 juga direncanakan pembangunan PLTN di daerah Lasem-Rembang Jawa Tengah, namun lagi lagi hanya sebatas wacana. Hingga pada tahun 1980 bertepatan saat kedatangan B.J.Habibie dimulailah perancangan dan segala kebutuhan untuk berdirinya Reaktor Serpong.

Reaktor ini resmi beroperasi dengan nama Reaktor G.A Shiwabessy tahun 1997. Adapula kejadian pada tahun 1976 yaitu dipindahkannya teras reaktor Bandung ke Yogyakarta, hingga pada 1979 reaktor diresmikan oleh Presiden Soeharto dengan nama Reaktor Kartini.

Sekilas sejarah membuktikan bahwa sesungguhnya Indonesia sudah mulai belajar berbagai teknologi berbasis nuklir untuk keperluan riset jauh-jauh hari. Menelisik lebih jauh lagi, Indonesia juga sudah beberapa kali melakukan uji tapak Reaktor dan PLTN di sebagian daerah seperti Lasem dan Jepara. Namun pemikiran masyarakat mengenai nuklir sudah terlanjur cacat, artinya teknologi ini dipandang lebih banyak memberikan dampak buruk bagi kelangsungan hidup manusia serta lingkungan.

Maka PLTN gagal dibangun di daerah tersebut karena adanya penolakan masyarakat sehingga segala sesuatu yang telah direncanakan menjadi sedikit terbengkalai. Bagaimanapun proses dan hasilnya nanti pada hakikatnya tergantung dasar atau fundamen, dalam kasus ini dasar terlaksananya pengembangan teknologi nuklir khususnya PLTN adalah kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

Adapula satu kondisi yang telah banyak diketahui, bahwa peneliti bidang ini rata-rata sudah dalam umur pensiun. Kita ambil contoh di Reaktor Kartini Yogyakarta, ketika berkunjung ke kawasan nuklir yang kini disebut Pusat Sains dan Teknologi Akselerator ini akan terlihat bagaimana penampakan tenaga ahli yang resmi sebagai peneliti dengan ijin khusus didalamnya.

Sangat kontras kiranya, misal dalam satu tahun untuk PSTA sendiri Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) hanya mengambil 2-3 orang pegawai baru, sedangkan jumlah tenaga ahli yang pensiun sekitar 5 orang. Bagaimana mungkin kaderisasi para ahli nuklir selanjutnya dikatakan memenuhi syarat.

Maka bukan BATAN yang harus dijadikan titik tekan dalam masalah tersebut, karena penentuan jumlah pegawai dan tenaga ahli yang diterima bukanlah kebijakan BATAN. Artinya disini lembaga hanya “menerima” dari apa yang diberikan sebagai bentuk nyata kebijakan pemerintah dan instansi khusus yang menanganinya.

Lalu bagaimana nasib para ahli terdahulu?

Beberapa putra-putri negeri ini dahulu disekolahkan Indonesia ke berbagai negara maju untuk menimba ilmu teknologi nuklir. “Katanya” ketika kembali ke tanah air, beliau-beliau ini akan menjadi ahli ataupun teknisi berbagai project teknologi nuklir yang telah direncanakan untuk membantu memecahkan masalah krisis energi. Namun sayang sekali, barang kali ada satu dari para ahli itu yang berkata “Saya dulu diberangkatkan di Jepang, dijanjikan ketika pulang nanti akan menjadi operator PLTN, tapi nyatanya sampai saya hampir pensiun PLTN tetap belum ada”

Terbangunnya sebuah PLTN ataupun Reaktor Riset Nuklir tergantung pada kebijakan yang diambil Pemerintah. Kebijakan tersebut merupakan buah dari politik. Para ahli nuklir dari zaman awal kemerdekaan hingga zaman 4G ini hanya sebagai eksekutor akhir yang siap bergerak apabila kebijakan mengatakan YES. Sayang sekali, kiranya itu mimpi yang terlalu tinggi. Dalam proyek 35.000 MegaWatt listrik saja, teknologi nuklir tidak dilirik. Inilah yang membuat para ahli dibidang nuklir sedikit kecewa dan cenderung kurang percaya dengan apa yang disebut “politik”.

Bagaimana dengan generasi muda nuklir Indonesia?

Generasi muda nuklir atau biasa disebut dengan nuclear agent merupakan siswa atau mahasiswa calon penerus para ahli terdahulu sebagai eksekutor pengembangan teknologi baik dari segi sosialisasi, birokrasi ataupun teknis project. Seperti yang telah kita ketahui pendidikan IPTEK nuklir di Indonesia sangatlah terbatas, maka para pengajar IPTEK nuklir juga terbatas para ahli terdahulu yang cenderung memiliki tingkat kepercayaan rendah terhadap politik negeri. Maka sedikit banyak pemikiran generasi muda yang beliau didik akan terpengaruh oleh pendahulunya. Disinilah peran penting generasi muda nuklir untuk mengubah mindset mengenai politik Indonesia baik dalam maupun luar negeri.

Cendikiawan muda nuklir Indonesia hendaknya lebih melek politik dan tidak bersikap apatis. Mengusahakan diri untuk ikut andil dalam penentuan kebijakan untuk kemajuan IPTEK nuklir serta aplikasinya. Gencar melakukan sosialisasi teknologi maju ini ke seluruh lapisan masyarakat. Mengikuti berbagai organisasi dan event berpengaruh baik dalam maupun luar negeri untuk menyuarakan “GO NUCLEAR”. Tidak menutup diri dalam arti tidak hanya berbicara masalah nuklir dihadapan orang-orang nuklir.

Boleh kita mengingat sejarah masalalu, namun kiranya jangan tenggelam dalam masalalu. Para generasi muda nuklir hendaknya memulai perubahan pemikiran dari yang sedikit “alergi politik” menjadi “peka politik”. Mengapa demikian? Jelas, karena semua kebijakan dan ketentuan merupakan buah dari politik.

Untuk apa berotak Einstein jika hanya memiliki mindset pekerja, untuk apa memiliki segudang penemuan tapi kalah dengan kebijakan. Maka kembali lagi “politik merupakan sebuah solusi untuk sebuah penyelesaian masalah tanpa kekerasan dan paksaan”, dengan politik generasi muda dapat menentukan atau mengendalikan segala sesuatu untuk masa depan. #LombaEsaiPolitik