Santri Mahasiswa
7 bulan lalu · 129 view · 5 menit baca · Agama 90692_67731.jpg
Small khadem

Generasi Millennial: Menanti Sosok “Muhammad” Masa Kini

Generasi millenial adalah terminologi yang tidak asing lagi kita dengar, bahkan istilah ini sudah menyeruak pada percakapan kita sehari-hari. Generasi millenial ini tentu juga bisa disebut sebagai generasi emas yang sangat potensial untuk menjadi generasi yang kreatif, aktif, inovatif, dan semoga benar-benar menjadi tonngak perubahan yang signifikan untuk membangun Indonesia lebih maju dan bersaing.

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin canggih dan pesat, sebagai generasi millenial kita harus benar-benar siap menghadapi semua tantangan, termasuk siap dalam mengemban misi ideologi perjuangan yang akan membawa menara peradaban bangsa Indonesia di masa yang akan datang. 

Munculnya generasi millenial ini tentu merupakan bagian dari aset penting bangsa Indonesia yang harus dijaga dan dirawat.

Hal ini sudah sering disampaikan oleh bapak Presiden Joko Widodo dalam setiap pertemuannya, untuk menyadarkan kita semua bahwa perubahan global, betul-betul ada dan sudah nyata. Moeldoko (Kepala Staf Kantor Staf Kepresidenan) juga mengatakan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia ini berlangsung sangat cepat, mulai dari teknologi robot, kecerdasan buatan, dan sebagainya. Moeldoko melanjutkan bahwa Presiden Joko Widodo mendorong terciptanya ekosistem yang tepat untuk menumbuhkan sikap adaptif dan responsif terhadap perubahan. 

Dalam konteks itu, Presiden Jokowi sangat mengapresiasi aksi-aksi dan langkah-langkah nyata yang dapat menjadi inspirasi bagi anak-anak muda yang lainnya dalam merespons perkembangan di era ekonomi digital.

Dan saat ini bisa kita buktikan bersama, betapa sangat praktisnya kita menjalani kehidupan. Maka menjadi penting untuk kemudian mengarahkan mereka kepada tataran yang lebih efektif, kontruktif dan produktif. Harus kita akui bahwa munculnya era millenial memang banyak memberikan gaya pembaharuan serta didukung oleh kekuatan globalisasi digital yang sangat luar biasa.

Dengan keberadaan generasi millenial ini tentu bukan hanya tantangan dalam menangkap sebuah peluang akan tetapi juga tantangan dalam meningkatkan kualitas moral, emosional dan spiritual. Lebih-lebih ikut serta dalam permasalahan sosial, dilanjutkan dengan memberikan solusi kepada masyarakat dalam problematika kemiskinan, kebodohan, kesehatan (ancaman berbagai penyakit) dekadensi moral, kenistaan, tirani sosial, dan penindasan (dispotisme) politik. Ini merupakan salah satu akhlak Nabi Muhammad yang patut kita teladani.

Maka sudah saatnya kita sebagai generasi millenial yang saat ini banyak terbelenggu materialisme, liberalisme dan opurtunisme untuk kembali menoleh pada tatanan sosial yang dipraktekkan Nabi Muhammad.

Lahirnya Nabi Muhammad menandai lahirnya sebuah peradaban baru di muka bumi, peradaban yang terpuji yang berdasarkan tauhid dan menyatakan keluar dalam corak sosial yang pluralis, egaliter, kosmpolit, inklusif, dan universal. Peradaban yang senantiasa mengahargai hak-hak individu dan sosial secara seimbang. Sebuah peradaban yang dilahirkan untuk membangun kembali sisa ketauhidan manusia setelah sekian lama terkubur bersama agama Nabi Ibrahim, moyang Nabi Muhammad.

Salah satu peradaban yang dibangun Nabi Muhammad yaitu peradaban yang mengangkat derajat kaum wanita setara dengan kaum pria, sesuai kodratnya (feminisme). Dihapusnya sistem perbudakan yang menjadi garis pemisah yang begitu tajam diantara kelas-kelas sosial masyarakat. Dihapuskan pula riba dan perjudian terbuka, yang telah sekian lama menghisap dan menyengsarakan masyarakat tanpa belas kasihan. Dibasmi habis perzinahan dan pelacuran yang pada zaman jahiliah itu dijadikan sebagai supremasi pria atas wanita.

Peradaban yang berjuang keras menegakkan keadilan dan demokrasi dalam kehidupan sosial, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Sehingga gerak kehidupan berjalan tampak lebih wajar, logis dan alami, sejalan dengan fitrah kelahiran manusia itu sendiri.

Seiring dengan kelahiran Nabi Muhammad, kita bangsa Indonesia sedang “mamauludkan” (melahirkan) kembali peradaban yang pernah dibangun Nabi Muhammad yang “terpuji” sehingga mampu memperoleh “pujian” masyarakat dunia. Bukankah kelahiran Nabi Muhammad adalah isyarat akan lahirnya sebuah gerakan reformasi yang gagap gempita, penuh tantangan tetapi tegak di atas keterpujian akhlak si pembawa peradaban baru itu? Nabi Muhammad sebagai tokoh utama dalam melakukan reformasi sosial, beliau sering jatuh bangun menghadapi tekanan masyarakat. Tetapi Nabi Muhammad adaah fenomena sejarah yang melampaui batas ruang dan waktunya sendiri.

Kisah Nabi Muhammad adalah cetak biru perjalanan keluhuran akhlak tertinggi yang pernah diraih oleh umat manusia. Konteks sejarah kehidupan sehari-sehari Nabi Muhammad adalah simbol teladan terindah yang terhamapar di sepanjang perjalanan hidupnya. Ia mencapai kodratnya sebagai insan kamil setelah bersentuhan dengan realitas imani dan uswatun hasanah yang dipancangkannya sebagai kehidupan sejarah.

Hampir setiap mata dunia yang yang pernah memetik buah perjuangan dan pengorbanan hidupnya, memandangnya dengan gelora simpati yang meluap-meluap, juga hampir semua hati yang terang yang sempat menelan “air” ajaran dan tuntunan moralnya, menilainya dengan penuh ketakjuban, bahkan selalu terucap pujian untuk sebuah jiwa yang hanif  dalam bingkai sejarah yang elok.

Menuturkan keluhuran Nabi Muhammad laksana melukiskan keindahan alam nusantara yang menggetarkan nurani siapapun yang pernah tercelup darah fitrahnya. Menjelaskan kearifan nurani Nabi Muhammad ibarat menceburkan pandangan ke samudera yang luas tak bertepi serta tak terukur kedalamannya.

Menghayati sikap maaf Nabi Muhammad bagaikan menikmati telaga biru yang diterpa sinar matahari pagi di kaki bukit, jernih, bening, dan sejuk. Tutur katanya selalu menimbulkan harapan dan kegembiraan. Amal perbuatannya senantiasa menciptakan ketenteraman dan kesejahteraan. Sungguh pun demikian, bagi hati yang gelap, Nabi Muhammad adalah saingan, dan bahkan dianggap sebagai lawan yang patut ditundukkan.

Sikap sinisme adalah aroma harian yang menghiasi kehidupan masyarakat yang tak lagi terselimuti oleh cinta kebenaran. Bagi mereka, kebenaran menjadi kebenaran manakala kebutuhan dan kepentingan mereka tidak terhalangi oleh dakwah Nabi Muhammad.

Kini, kita hidup di zaman yang lebih banyak memberikan penegasan akan masa lampau, betapapun sahih, toh masa lampau itu telah berlalu dari bentangan realitas sosial masyarakat kita yang kian berkembang. Sungguh pun memperingati cetusan peristiwa sejarah kiprah Nabi Muhammad yang layak diteladani itu, yang begitu agung dan terpuji, namun makna peristiwa itu belum dihargai sebagai roh dan jiwa bagi masa kini yang akan menentukan masa depan. Karena, “setiap sejarah yang benar adalah sejarah masa kini,” begitulah kira-kira yang ditegaskan oleh Benedetto Croce seperti dikutip W.F. Wertheim dalam kata pengantar untuk buku Harry J. Benda, “Bulan Sabit dan Matahari Terbit”.

Jadi mestinya Nabi Muhammad yang ada dalam gambaran benak dan mata batin kita adalah adalah Nabi Muahammad masa kini yang bisa memberikan jalan keluar bagi penyelesaian kemelut sosial-ekonomi bangsa, bagi terpeliharanya persatuan dan kesatuan Tanah Air, bagi terwudnya perdamaian dan kesejateraan dunia, bagi penegakan keadilan dan tercapainya kesejahteraan sosial, bagi pelaksana demokrasi dan penghargaan hak asasi manusia. Nabi Muhammad masa kini bukanlah Nabi Muhammad dalam nama dan ucapan, melainkan dalam amal dan bakti. Sehingga apapun sinisme orang terhadap kehadiran Nabi Muhammad dalam mewadahi kuantum sejarah, hasilnya akan tetap sama dari apa yang ingin dikejar oleh sejarah itu sendiri, yaitu menibak kebenaran dari keterselubungan yang melingkupinya.

Semoga kita masih punya waktu unruk terus berbenah diri. Dalam hati kecil kita masing-masing, tentulah ada harapan untuk meniti hari esok lebih baik. Namun di depan, arah menuju seberkas sinar terang berada jauh di seberang sana, terhampar jalan terjal berliku-liku. Mungkinkah kita bisa melewatinya dengan selamat?

Tantangan dan peluang yang membentang luas di hadapan generasi millenial, medan wilayah yang terbentang luas yang harus dijalani, diarungi dan didaki untuk mencapai puncak peradaban manusia Indonesia seutuhnya, baldhatun thoyyibah warabbun ghafur. Semoga penantian sosok nabi Muhammad masa kini dari seorang anak manusia ini tidak menyasakkan dada para generasi millenial, tapi sebaliknya justru memberikan inspirasi untuk tetap berkreasi dan mengembangkan diri di tengah-tengah hamparan peradaban peradaban manusia yang semakin hari semakin semakin kebablasan dan tak tentu arah ini untuk menuju puncak peradaban yang hakiki.