"Yaelah, gitu aja baper"

Cukup sering kita mendengar kalimat tersebut, baik di dalam lingkungan pertemanan maupun lingkungan kerja. Seolah-olah, kata "maaf" telah tergantikan dengan kalimat "Yaelah gitu aja baper" dan membuat orang yang bersalah bisa berlindung dibalik kata "baper" sehingga tidak perlu meminta maaf. 

Dengan maraknya penggunaan kata "baper" atau "bawa perasaan" di kalangan anak muda saat ini, mereka menganggap permasalahan telah selesai. Orang yang bersalah menganggap orang baper adalah orang yang sensitif sehingga cepat tersinggung. 

Padahal, kita tidak pernah tahu kedalaman hati seseorang, apa permasalahan yang sedang dihadapi, dan bagaimana mereka menjalani kerasnya kehidupan sehingga berpotensi untuk menyakiti hati orang tersebut. Agak miris, memang. 

Bisa dibilang, generasi saat ini sedang darurat toleransi. Saya cukup setuju terhadap ajakan melawan intoleransi yang terpampang di baliho salah satu sudut kota Surabaya. Saya lupa tulisan lengkapnya, namun yang terekam di pikiran saya adalah tulisan "...Melawan intoleransi, Melawan radikalisme, ..." dengan latar baliho berwarna kuning.

Tidak, saya tidak akan membahas intoleransi dalam hal agama, seperti yang sedang hangat dibicarakan akhir-akhir ini, ataupun radikalisme, karena menurut saya isu-isu tersebut cukup sensitif dan rawan memicu perdebatan.

Yang saya akan bahas di sini adalah pandangan saya mengenai keadaan intoleransi bermasyarakat saat ini. Untuk bisa bertoleransi, dibutuhkan rasa empati. Namun, sebelum membahas lebih jauh mengenai intoleransi, alangkah baiknya kita sama-sama meluruskan pemahaman mengenai toleransi dan empati terlebih dahulu.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi /to·le·ran·si/ adalah sifat atau sikap toleran; batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan; penyimpangan yang masih dapat diterima dalam pengukuran kerja.

Sedangkan empati /em·pa·ti/ adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dalam keadaan perasaan atau pikiran yang sama dengan orang atau kelompok lain.

Mayoritas generasi X, generasi dimana orang tua kita lahir, dikenal memiliki empati dan jiwa sosial yang tinggi sehingga memiliki tingkat toleransi yang tinggi pula. Misalnya, ketika tetangga mengalami kesulitan, biasanya mereka akan dengan senang hati membantu dan tak sungkan untuk mengucapkan "terima kasih" ataupun "maaf" ketika melakukan kesalahan.

Lain halnya dengan generasi Y atau generasi milenial yang kita banyak jumpai di masyarakat saat ini. Ketika saya berada di kos-kosan, sering saya amati ketika mendekati jam tidur, tetangga kosan masih aktif menonton film, mendengarkan musik maupun bermain game. Tentunya hal ini sedikit mengganggu bagi orang yang memiliki rutinitas tidur lebih awal. 

Dalam kasus lain, misalnya, generasi milenial juga kerap mengucap kata "bucin" atau “budak cinta”, yang artinya seseorang terlalu memprioritaskan cinta sehingga dia akan melakukan apapun demi seseorang yang dicintainya. Biasanya, ini terjadi ketika seorang anak muda sedang kasmaran. 

"Kok kamu bucin banget, sih" sering dilontarkan ketika teman si "bucin" menganggap dia tidak seperti dulu. Mereka sedikit kesal karena sudah sulit diajak bermain bersama. Padahal, di sisi lain, mereka tidak tahu betapa sulitnya ketika temannya berusaha move on dari masa lalunya dan merasakan kembali bagaimana mencintai seseorang. 

Lain halnya di dunia nyata, lain pula di dunia maya. Saya termasuk salah satu yang kerap mengamati komentar para netizen di media sosial, khususnya di Instagram. Ketika sekelompok netizen tidak menyetujui isi salah satu postingan yang memberitakan tokoh masyarakat atau pimpinan tertentu, seringkali mereka saling menjatuhkan dan merasa pimpinan atau idolanya adalah yang paling benar.

Atau jika ada yang bertanya di salah satu postingan tertentu, jawaban yang saya dapati adalah jawaban cenderung menjatuhkan si penanya karena kurang wawasan, seperti, "Googling dulu dong". Bukankah dengan bertanya, kita bisa meningkatkan kemampuan berpikir kritis?

Sikap intoleransi yang sudah saya ilustrasikan di atas sekiranya bisa dicegah sebelum terlambat. Bila sikap intoleransi ini dibiarkan terus-menerus, tentunya bisa membuat generasi selanjutnya menjadi generasi intoleransi yang tidak memiliki empati, tidak peduli terhadap sesama dan cenderung menyepelekan orang lain. 

Lantas, bagaimana cara membangun toleransi? Untuk membangun toleransi, setidaknya perlu memiliki empati. Empati antar individu bisa dibangun dengan membiasakan kata "maaf" dan mengurangi kata yang menjatuhkan seperti "baper", “bucin”, dan lain sebagainya. Dengan memiliki empati, kita bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain, sehingga kita bisa lebih peka dalam menjaga perasaan dan perilaku orang-orang di sekitar kita.

Memang untuk bertoleransi tidaklah mudah, karena selain membutuhkan empati juga dibutuhkan kesabaran. Dengan memiliki toleransi, harapannya, kita menjadi tidak mudah menjustifikasi segala hal yang berbeda dengan nilai maupun prinsip yang kita anut sehingga bisa memandang segala sesuatu dari sudut pandang orang lain.