75145_71193.jpg
Sumber: youthmanual.com
Pendidikan · 5 menit baca

Generasi Milenial: Relate, Relevan, dan Instan

Pesan yang disampaikan di Surat Kepada Redaksi beberapa waktu lalu itu menggambarkan keheranan sekaligus keresahan; keresahan seorang anggota masyarakat senior. Diceritakan keheranan orang tua tersebut atas fakta yang menggambarkan ketidaktahuan seorang pelayan sebuah restoran berusia milenial soal pelajaran Geografi.

Ujung dari surat itu mengkritik tentang pendidikan dan sistemnya, sistem yang gagal mencerdaskan generasi muda, setidaknya dalam pemahaman orang tua tersebut. Pendidikan tidak memberikan modalitas yang cukup bagi generasi muda untuk berkembang. Begitu kira-kira pesan utamanya.

Padahal pertanyaannya sederhana, masih menurut orang tua itu. Pertanyaan adalah di manakah negara Nigeria? Apa itu Boko Haram yang berada di Sudan?

Pelayan muda itu menjawab tidak tahu. Orang tua itu terheran-heran. Benarkah sistem pendidikan kita telah salah dalam memproses generasi milenial ini, sehingga hal-hal sepele seperti itu, yang sangatlah sederhana, tidak bisa dijawab?

Membayangkan kejadian tersebut, timbul sebuah imajinasi tentang kejadian sebenarnya. Orang tua itu keheranan dengan ketidaktahuan pelayan muda itu. Si pelayan muda itu heran dengan pertanyaan orang tua itu. Untuk apa juga mengerti soal Nigeria dan Boko Haram. Dua sisi yang berbeda dan saling berlawanan di dua generasi dengan rentang usia puluhan tahun.

Orang tua itu terkenang dengan sistem pembelajaran yang dialami ketika muda dulu. Pelajaran Geografi. Di pelajaran ini, negara-negara, ibukota-ibukota, pulau-pulau dan segala sesuatu tentang lokasi di bumi ini menjadi bahan yang diulik.

Meskipun itu tidak terkait langsung dengan diri sendiri. Apakah itu berhubungan langsung dengan diri sendiri tidak menjadi penting. Segala sesuatu yang disajikan guru akan dilahap langsung tanpa ada protes dan pertanyaan lebih lanjut. Pokoknya, benamkan dalam-dalam dan ingat seumur hidup. Peta buta terlihat terang benderang.

Sementara generasi terkini, generasi milenial, cenderung tidak perduli dengan segala sesuatu yang tidak dekat dan lekat dengan diri sendiri dan kehidupan sehari-hari. Sesuatu yang dipandang tidak bersentuhan langsung tidak akan masuk dalam radar pencarian mereka. Sesuatu itu harus berhubungan dengan dirinya (relate) secara logis dan relevan dengan kebutuhannya.

Coba tawarkan pengetahuan tentang, katakanlah, tips and trick menggunakan gawai. Dengan segera mereka akan mengejar dan mencari tahu proses hingga mendalam. Sebabnya, itu terkait langsung dengan kehidupan. Itu soal eksistensi.  

Jika pun ada sesuatu yang tidak dipahami, google akan dengan setia dan cepat mencarikan jawaban bagi mereka. Tidak perlu menghafalnya. Tidak bermanfaat juga menghafalnya. Menghabiskan memori otak. Jika nanti diperlukan, segera saja dunia digital akan menjadi batu penjuru.

Di samping itu, faktor relevansi tadi harus dibarengi dengan faktor instan. Kecepatan untuk mendapatkan dan mewujudkan. Artinya, pengetahuan yang akan dicari adalah yang langsung bisa didapatkan dan diterapkan.

Pada zaman pembelajaran dahulu, apa yang dilakukan adalah mengetahui banyak hal, tetapi tidak mendalam. Murid-murid dulu bisa berbicara tentang banyak hal di luar dirinya, tetapi dalam tataran konsep generik.

Jika diuji kedalamannya, maka akan mengalami shocked. Karena yang diberikan di ruang-ruang kelas hanya permukaannya saja. Dalam bahasa anak gaul tahun 2000-an, mirip dengan lagu The Moffat: Too much time but so little to do.

Terlalu banyak waktu yang dihabiskan untuk mendapatkan hal yang sangat sedikit. Terlebih lagi sumbernya hanya satu, yakni guru. Guru menjadi semacam dewa yang tidak bisa salah. Guru merupakan segala sesuatu tentang ilmu pengetahuan itu. Guru menjadi tempat bertanya dan mendapatkan jawaban. Tetapi, jawabannya tidak bisa ditanggapi, karena guru adalah sekelas dewa. Guru mendapat tempat tinggi di masyarakat. Guru tidak ‘in touch’ dengan murid.  

Anak-anak milenial tidak akan bisa diperlakukan seperti itu. Ketika mempelajari sesuatu di kelas, pertanyaan pertama adalah mengapa mempelajari pelajaran itu. Perlu alasan yang kuat. Lalu, dengan gawainya, anak-anak itu akan membandingkan penjelasan guru dengan informasi yang didapatkan dari dunia maya. Informasi yang cepat dan penjelasan yang lebih luas dengan data dan contoh yang lebih kekinian.

Kemudian pendapat guru dan informasi dari dunia maya itu akan dipertentangkan. Jika jawaban guru cukup memuaskan, maka murid akan dengan rela untuk belajar. Tetapi jika guru tidak memberikan jawaban yang memuaskan, alamat guru tidak akan menjadi sumber ilmu lagi. Anak-anak hanya hadir secara simbolis. Mendengarkan guru yang bersusah payah menjelaskan. Sementara di benak anak-anaknya tertulis, “Ntar gue googling. Beres dah!”.

Berargumentasi juga menjadi kebiasaan di dalam kelas terutama di kota-kota besar dengan penetrasi internet yang tinggi. Kepercayaan kepada guru menjadi berkurang dan tidak mendapatkan tempat yang seharusnya di mata anak-anak murid.

Guru hanya wujud simbolis dari institusi pendidikan. Ilmu sebenarnya bisa dicari di ruang-ruang maya yang menyajikan lebih banyak informasi. Informasi yang lebih up to date. Mendapatkan dengan segera dan cepat. Dengan syarat, terhubung dengan internet.

Sehingga pelajaran—pelajaran yang diminati menjadi pelajaran-pelajaran yang terkait dengan bersinggungan dengan teknologi dan dunia internet. Jika guru tidak menggunakan teknologi dan informasi serta media visual di dalam proses pembelajarannya, alamat guru tersebut akan ditinggalkan begitu saja.

Guru harus bisa memberikan pemahaman bahwa segala sesuatu yang diberikan berkaitan dengan diri murid tersebut, digali lebih dalam dengan menggunakan internet dan tersaji secara langsung. Ruang-ruang debat juga diberikan. Tidak melulu guru berusaha menjadi sumber ilmu. Lebih cenderung menjadi fasilitator.

Kecepatan murid-murid sekarang dalam mencari informasi jauh lebih dari kemampuan guru melakukannya. Berbagai sumber dapat mereka temukan di internet berupa teks, grafis, suara, video dan gambar. Seluruh media menjadi berkelindan dalam memberikan pemahaman yang nyata dan cepat.

Seperti ketika mengajarkan tentang tumbuhan, sebagai sebuah misal. Jika guru hanya mengatakan rizoma adalah akar tinggal, dan hanya sebatas itu, maka guru tidak akan mendapatkan appresiasi di mata anak-anak.

Tetapi jika diberikan gambar visual yang menarik, memberikan penjelasnnya, jenis-jenisnya serta dimana ditanam, seperti apa prosesnya, dalam berbagai format yang dijelaskan tadi, proses belajar akan jauh lebih menarik. Jika mengajak anak-anak langsung menyentuhnya, akan lebih baik.

Terlebih jika dikatan bahwa tanaman rizoma itu bisa menyembuhkan jerawat, misalnya. Maka akan semakin besarlah minat dari anak-anak tersebut.

Informasinya relevan dengan kehidupan mereka. Informasinya digali dengan cepat menggunakan internet. Semuanya relate dengan isu-isu terkait di lingkungan mereka, maka proses belajar mengajarnya menjadi akan menarik.

Satu sisi ini menjanjikan. Murid-murid akan lebih mandiri dalam belajarnya. Di sisi lain, proses yang serba instan akan memberikan mereka cara berfikir dan bersifat pragmatis. Proses mempertanyakan hanya untuk mendapatkan jawaban dengan cepat, membandingkan dan tidak merupakan suatu proses pembelajaran yang ideal.

Jadi, jika seorang sepuh itu menanyakan dimana letak planet Pluto, maka wajah keheranan dan ditekuklah yang menjadi jawaban. “Apa pula pentingnya tahu posisi Pluto? By the way, pluto itu apa, yah?