Hutan merupakan pusat oksigen dunia, bentang alam kehidupan yang di dalamnya terdapat berbagai spesies tumbuhan dan hewan. Hampir di seluruh dunia terdapat berbagai jenis hutan, mulai dari Negara Amerika sampai Asia memilikinya terutama Indonesia.

Kita masih dapat menjumpai hutan-hutan luas yang masih ada di Indonesia seperti Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dan Papua. Untuk di Pulau Jawa sendiri komposisi hutan luas sudah mengalami banyak penurunan yang diakibatkan oleh pengalihan lahan yang diubah menjadi kawasan pemukiman penduduk dan pertanian.

Pesatnya perkembangan zaman yang seiring dengan perkembangan IPTEK, mengantarkan pada evolusi pemikiran dimana manusia menganggap bahwa dirinya mampu memanipulasi alam dan lingkungan hidup. Akibat lupa bahwa pesatnya pembangunan yang terjadi ternyata tidak  semua berdampak positif terhadap perbaikan lingkungan hidup.

Banyaknya kerusakan lingkungan disebabkan oleh keinginan manusia dalam memenuhi kebutuhannya semata. Tentunya era millennial ini yang serba gadget belum menutup kemungkinan pemakaian kertas tidak diperlukan. Kebutuhan akan kertas masih sangat diperlukan.

Lingkungan sebagai sumberdaya utama manusia, baik hayati maupun hewani semua merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Apabila pengelolaannya yang dilakukan tidak sesuai dengan hal-hal tersebut maka akan berdampak buruk bagi umat manusia tanpa terkecuali.

Akibat dari pengelolaan yang buruk mengakibatkan terjadinya bencana alam yang di Indonesia seperti banjir, erosi, kekeringan, pencemaran lingkungan, kerusakan alam, pemborosan sumberdaya alam dan sebagainya. Pengelolaan SDA merupakan perkara yang sangat serius yang harus disoroti dalam penyelesaian masalah kerusakan lingkungan.

Secara umum beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan alam adalah sebagai berikut :

1. Penebangan pohon sembarangan yang melewati batas

2. Pembalakan liar (illegal logging)

3. Konversi kawasan hutan untuk pembangunan sektor non kehutanan.

4. Penjarahan yang dilakukan oleh masyarakat disekitar hutan 

5. Adanya pembukaan lahan perladangan

6. Bencana alam seperti kebakaran hutan, banjir/tsunami, tanah longsor. 

7. Permintaan industri kayu yang melebihi pasokan

8. Dampak otonomi daerah untuk mengejar peningkatan pendapatan asli daerah (PAD)

Berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa penyebab kerusakan hutan sendiri disebabkan oleh manusia. Banyaknya penebangan pohon secara sembarangan yang dilakukan oleh masyarakat menyebabkan dampak yang besar dalam kehidupan. Mereka tidak memiliki pemikiran ke depannya dampak apa yang akan terjadi.

Perlu kita ketahui bahwa tidak semua pohon yang ditebang dapat tumbuh dengan cepat. Kita tidak tahu berapa lama bibit pohon yang kecil itu untuk tumbuh besar dan mampu menggantikan peran pohon besar yang telah ditebang tersebut. Dari hal tersebut dapat kita lihat bahwa penggundulan hutan semakin luas dan peran dari bibit tersebut juga belum berfungsi dengan baik.

Mengapa seseorang tidak memilih mencari jalan alternatif produksi yang menggunaan bahan dari pohon atau kayu, misalnya seperti daur ulang perabot dari kayu yang sudah tidak terpakai lalu dijadikan serbuk kayu yang nantinya bisa diolah menjadi perabot kayu yang baru lagi. Ditengah isu global warming saat ini penebangan pohon seharusnya mulai dikurangi.

Global warming yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh asap kendaraan dan pabrik industri, namun juga disebabkan oleh semakin sempitnya lahan penghijauan seperti semakin luasnya daerah penggundulan hutan yang diekploitasi oleh berbagai pihak. Tentu hal tersebut merugikan sebagian besar orang dan lingkungan.

Sebagai contoh penggunaan kertas dalam kehidupan sehari-hari bisa menyebabkan perkara kerusakan hutan secara berkelanjutan. Mengapa demikian? Hal tersebut disebabkan karena bahan baku kertas berasal dari pohon-pohon yang tumbuh di hutan. Hampir di semua lapisan masyarakat memakai kertas dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa produk yang terbuat dari bahan baku kertas meliputi buku, kertas kado, lembar ujian, pembungkus makanan dan lain-lain. Tentunya kertas memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan zaman, kebutuhan akan kertas terus meningkat. Hal tersebut menyebabkan permintaan akan pasokan kertas juga meningkat. Mengapa bisa meningkat ? Sebagai contoh banyaknya penggunaan kertas yang sering digunakan dalam tes penerimaan mahasiswa, tes penerimaan pelamar kerja, pencetakan koran dan lain-lain. Otomatis para perusahaan ataupun pemerintah pasti akan memproduksi kertas dalam jumlah besar demi memenuhi permintaan tersebut.

Bayangkan saja berapa pohon yang harus ditebang setiap hari demi memproduksi kertas. Jika tidak dilakukan reboisasi atau penanaman kembali maka dapat dipastikan bahwa lingkungan akan semakin rusak dan ekosistem akan terganggu. Oleh karena itu, kita sebagai generasi millennial harus bisa berhemat menggunakan kertas. Semakin sedikit kertas yang kita gunakan maka semakin sedikit pula pohon yang ditebang.

Tanpa masyarakat sadari, perilaku boros kertas juga membantu laju penebangan hutan. Untuk memproduksi 15 rim kertas ukuran A4 diperlukan 1 pohon. Jika 700 eks lembar koran yang dibaca setiap harinya maka sekitar 10-17 pohon yang harus ditebang. Bayangkan, dalam satu hari sudah berapa lembar kertas yang dibutuhkan orang Indonesia. Artinya sudah jutaan pohon hutan yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas orang indonesia.

Belum lagi jika ditambah dengan keperluan bahan bangunan, bahkan jika terjadi kebakaran hutan. Ketersediaan hutan sebagai paru-paru dunia akan habis dalam waktu singkat. Perlunya reboisasi untuk menanggulangi bencana alam yang tidak diinginkan harus segera dilakukan. Akan tetapi, reboisasi sendiri membutuhkan waktu lama agar bisa kembali membantu kehidupan manusia.

Untuk itu perlunya mengurangi pemakaian kertas dalam kehidupan sehari-hari juga bisa membantu pencegahan penipisan hutan. Ada juga jalan alternatif lain yang dapat dicoba untuk menghemat kertas yaitu dengan membuat kertas dari tanaman lain. Akhir-akhir ini telah banyak peneliti Indonesia yang telah melakukan percobaan dan berhasil membuat kertas dari tanaman lain. Berikut beberapa tanaman yang dapat dibuat menjadi kertas:

Pertama, eceng gondok (Eichhornia crassipes) adalah salah satu jenis tumbuhan air mengapung. Perkembangbiakan eceng gondok sangat tinggi dan cepat sehingga tumbuhan ini dianggap sebagai gulma yang dapat merusak lingkungan perairan. Kenyataan tersebut menyebabkan eceng gondok dianggap sebagai tanaman parasit, tetapi bila kita teliti mencari peluang, tanaman ini sangat berguna dan dapat memberikan peluang usaha sebagai bahan dasar kertas.

Kedua, daun nanas ternyata memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi kertas. Di Indonesia tanaman nanas sudah banyak dibudidayakan, terutama di pulau Jawa dan Sumatera. Setelah dua atau tiga kali panen tanaman nanas akan dibongkar untuk diganti dengan tanaman baru. Oleh karena itu limbah daun nanas cukup potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuat kertas.

Ketiga, batang pisang yang biasanya dianggap sebagai limbah ternyata memiliki nilai guna yang cukup tinggi. Dikutip dari artikel repository, batang pisang juga dapat di olah menjadi kertas, yaitu setelah mengalami proses pengeringan dan pengolahan lebih lanjut. Proses pembuatannya terbilang cukup sederhana dan memberikan peluang bisnis yang cukup menjanjikan. Buktinya untuk saat ini sudah ada yang memproduksi kertas dari batang pisang dan memasarkannya secara luas seperti pengrajin art paper di Bogor.

Keempat, kertas dari kulit singkong ini sangat ramah lingkungan. Limbah kulit singkong ini ternyata sangat ramah lingkungan dan mudah dibuat. Untuk mewarnai kertas pun, bisa menggunakan bahan alami. Misalnya, menggunakan kunyit untuk warna kuning dan pandan agar warna kertas menjadi hijau.

Nah, dari beberapa alternatif kertas ramah lingkungan tersebut, kita bisa mengembangkannya menjadi suatu produk bersaing dan berkualitas yang akan membawa keuntungan tanpa merusak hutan dan ramah lingkungan. Dengan melihat kondisi hutan yang sedemikian rusaknya, maka semua elemen tokoh terutama yang memiliki hubungan dengan hutan, harus terlibat dalam pengelolaanya. Seharusnya seiring dengan perkembangan zaman kita sabagai umat manusia harus lebih bijak dalam pelestarian hutan.

Banyaknya kasus perusakan lingkungan yang sering terjadi di Indonesia telah menajdi sorotan dunia internasional. Kasus-kasus tersebut sebenarnya dapat kita atasi jika pemerintah setempat lebih tegas dalam menetapkan peraturan undang-undang. Kita dapat merawat hutan dengan menggunakan kertas. Caranya sangatlah sederhana yaitu cukup dengan kita menghemat penggunaan kertas. Dengan cara tersebut diharapakan hutan-hutan di Indonesia dapat terselamatkan dan terlindungi.