Kita hari ini berada di zaman kacau karena kedahsyatan media dalam membentuk cara pandang hidup masyarakat. Terlalu banyak informasi justru menyebabkan orang kebingungan, lahir generasi-generasi internet.

Nicholas Carr, menyebutnya sebagai the shallows (orang-orang dangkal) yang terbiasa menyantap informasi instan dan tanpa kedalaman. (Haidar Bagir dalam Islam Tuhan Islam Manusia: Agama dan Spiritualitas di Zaman Kacau, 2018).

Orang-orang dangkal menyantap informasi secara instan akan melahap segala informasi yang ada, baik itu informasi provokasi dan berita-berita hoaks yang bisa memicu konflik sosial dan ini berbahaya bagi suatu bangsa yang masyarakatnya pluralitas seperti Indonesia yang memiliki beragam budaya, suku, dan agama.

Belum lagi ranah politik, setiap pesta demokrasi hadir dalam wajah pemilu kampanye hitam dihembuskan untuk menjatuhkan lawan politik dan yang menjadi korban adalah generasi internet yang tingkat literasinya rendah. Dari itu hidup di Indonesia diperlukan literasi yang kuat dan mendalam, bukan instan.

Nah, problem utama dan paling utama bangsa Indonesia hari ini adalah sebagian besar masyarakatnya lebih banyak berbicara daripada mendengar, lebih mengutamakan menajamkan lidah daripada menajamkan pikiran. Sementara itu membaca tidak menjadi budaya dan tingkat literasi berada di titik nol koma satu.

Melihat kondisi seperti ini, apakah kita mampu menghadapi arus informasi yang hadir di setiap detik dengan baik kalau tingkat literasi berada di titik nol koma satu? Dari minat membaca yang rendah ini menyebabkan Indonesia menjadi sarang informasi provokasi dan hoaks.

Sebelum tahun 2021, informasi hoaks di Indonesia sangat dinikmati dalam menerima informasi sehingga terjadi fitnah dan adu domba yang menyebabkan polarisasi di tengah-tengah masyarakat dan hidup laksana tahun 1965, Christoper Koch menyebutnya sebagai vivere pericoloso (hidup penuh bahaya) .

Sahrul Mauludi dalam bukunya Socrates Cafe (2018) memberikan sebuah pertanyaan, mengapa hoaks laku di Indonesia? Nah, jawabannya adalah karena minimnya literasi, rendahnya budaya membaca, kegemaran dalam berbagi cerita dan gosip.

Jadi bisa dibayangkan, bagi yang ilmunya minim, malas membaca buku, tapi suka menatap layar gadget berjam-jam dan paling cerewet di media sosial. Jangan heran Indonesia jadi konsumen empuk untuk info provokasi, hoaks, dan fitnah. Begitu dapat informasi di layar gadget langsung like dan share.

Empat Tingkat Seni Literasi

Hari ini, kita sudah memasuki alam pikiran tahun 2021, tahun perubahan dan tahun literasi untuk meninggalkan paradigma negatif dalam menyantap informasi. Dari itu, harus memantik minat baca yang kuat untuk menghadapi arus informasi yang semakin dahsyat dan menghindari santapan-santapan informasi instan.

Membaca, tentunya sudah banyak yang membahas urgensi dari membaca itu sendiri. Sejak duduk di sekolah dasar, kita sudah mendengar kata-kata sengatan listrik dari guru yang berbunyi buku adalah jendela dunia dan kunci membuka jendela dunia dengan membaca.

Menurut hemat penulis, guru mata pelajaran bahasa Indonesia mempunyai peran penting dalam memantik minat baca siswa di sekolah, mengajarkan teknik-teknik membaca secara efektif, memberi stimulus kepada siswa menjadi pembaca yang baik dan aktif.

Secara umum tujuan membaca adalah untuk kesenangan, informasi dan untuk pemahaman. Tiga tujuan tersebut, teknik membacanya pun berbeda-beda, dengan kata lain bahwa membaca mempunyai seni, yaitu seni membaca.

Buku dari Mortimer Adler dan Charles van Doren dengan judul How to Read a Book (1972) diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Seni Membaca dan Memahami Beragam Jenis Bacaan (2015) menyebutkan seni membaca adalah keahlian untuk menangkap semua bentuk komunikasi sebaik mungkin.

Paskal pernah mengatakan “Jika kita membaca terlalu cepat atau terlalu lambat, kita sama sekali tidak memahami apa pun.” Dari itu, tujuan buku ini ditulis untuk mengajak semua orang membaca dengan lebih baik, selalu lebih baik, walaupun kadang-kadang lebih lambat, dan kadang-kadang lebih cepat.

Dalam buku ini disebutkan bahwa ada empat tingkat dalam membaca. Tingkat pertama dalam membaca dinamai dengan membaca tingkat dasar atau tingkat permulaan. Orang yang sudah menguasai tingkatan ini, ia akan beralih dari buta huruf menjadi orang yang sedikitnya mulai melek huruf.

Tingkat kedua dinamakan dengan membaca secara cepat dan sistematis, tingkat membaca ini ditandai dengan penekanan khusus pada waktu, tingkat ini adalah memperoleh sebanyak mungkin informasi di dalam waktu tertentu. Nama lain dari tingkat membaca ini yaitu membaca sekilas atau pra-membaca.

Tingkat ketiga, membaca secara analitis. Membaca secara menyeluruh dan lengkap. Adler dan Charles menegaskan bahwa membaca secara analitis jarang diperlukan jika tujuan dalam membaca hanya sekedar mencari informasi atau kesenangan. Tujuan membaca secara analitis adalah untuk memahami.

Tingkat membaca keempat adalah membaca secara sintopikal, ini adalah jenis membaca yang paling kompleks dan paling sistematik atau disebut juga dengan membaca secara komparatif. Membaca secara sintopikal jelas merupakan aktivitas membaca yang paling aktif dan paling memuaskan serta manfaatnya begitu besar.

Dari empat tingkat literasi di atas, bisa kita terapkan dalam memperoleh ilmu dan informasi yang mendalam. Dari keempat tingkatan tersebut juga sebagai seni dalam membaca sehingga kita bisa menjadi seorang pembaca yang baik dan bisa menghadapi berbagai macam informasi yang datang.

Salah satu fungsi dari membaca adalah sekedar mencari informasi, maka tak dibutuhkan tingkat literasi secara analitis. Walaupun begitu, menurut penulis mencari informasi di Indonesia dibutuhkan tingkat literasi secara analitis bahkan secara komparatif untuk mendapatkan informasi yang benar dan valid.

Pra 2020, zaman kacau dengan orang-orang dangkal yang terbiasa menyantap informasi secara instan. Mudah-mudahan pasca 2020, zaman khazanah informasi dengan orang-orang Socrates yang menyantap informasi secara mendalam.

Nah, generasi internet 2021: masihkah menyantap informasi secara instan?