Suatu waktu penulis menghadiri sebuah pernikahan seorang janda dengan duda karena sang janda adalah tante dari sahabat penulis. 

Lazimnya di daerah ini, pernikahan dua orang yang sudah pernah menikah tidaklah diselenggarakan terlalu meriah. Namun yang terjadi, disewakan sound system dan musik berbunyi sepanjang hari. Tentang sound system itu, pihak keluarga tidak mengetahui sama sekali. Dan ternyata itu diprakarsai oleh pasangan pengantin.

Keluarga rata-rata menyesalkan bahkan ada yang menangis. Bukan hanya karena acara terlalu meriah, tapi juga karena pada bulan berikutnya sang keponakan (tentu saja masih gadis) akan menikah. 

Anggapan masyarakat terutama para tetangga adalah: keluarga terutama yang disepuhkan tidak menyayangi dan membedakan perlakuan terhadap si keponakan. Dengan alasan dia yang notabene masih gadis dinomorduakan daripada yang sudah pernah menikah.

Logikanya terkesan tidak masuk, tapi begitu adanya. Omongan dan perlakuan tetangga pada hari pernikahan itu sedemikian rupa sehingga membuat sang keponakan menangis tanpa sudah dan menyembunyikan diri di rumah sahabat penulis yang tersekat satu rumah dari lokasi pernikahan sampai malam hari.

Siang hari setelah menyalami sang pengantin, penulis duduk di teras masjid dekat lokasi pernikahan bersama sahabat penulis yang satunya lagi, yaitu calon suami sahabat penulis. Dua orang itu sahabat penulis. Kami lekas membicarakan kejadian hari itu dengan nuansa terheran-heran.

“Apa salahnya jika pernikahan janda dan duda diselenggarakan dengan meriah?” Begitu tanya penulis.

“Menurutku, tak ada salahnya sih. Tapi mungkin karena sebulan setelahnya ada kerabat lain yang baru pertama kali akan menikah jadi terkesan tidak elok.” Begitu responsnya.

“Tidak elok di bagian mana sih?”

“Aku juga enggak tahu.”

“Tetangga, kan, yang nganggap begitu?”

“Iya. Keluarga juga.”

Terlihat sekali di sini masyarakat terutama di pedesaan masih sangat terpengaruh budaya feodal yang aristrokatis. Bahwa seseorang adalah bagaimana dia dilihat oleh masyarakat lain. 

Mereka sangat bergantung dengan anggapan masyarakat, dalam hal ini adalah tetangga. Dan itu menjadi semacam kesepakatan bersama tidak tertulis di antara anggota masyarakat, namun sangat dipatuhi. Maka jika ada kejadian seperti di atas, pihak keluarga akan sangat malu, apalagi sang keponakan.

Sorenya kami masih di rumah sahabat penulis. Di sela perbincangan ringan yang akhirnya menjurus ke topik utama itu juga membuat sahabat penulis mengatakan, “Keluarga dari Magelang juga diminta datang. Kalau udah datang sekarang, ya udah. Padahal sebulan lagi ada nikahan lagi di sini.” Penulis heran, juga dengan sahabat penulis yang satunya.

“Apa salahnya jika kerabat dari Magelang datang kembali dalam satu sebulan lagi?” Begitu apa yang membenak pada kami.

Penulis lekas berpikir. Apa ketidakpahaman penulis dan sahabat penulis ini dilantari ketidakpedulian kami terhadap tradisi? Tapi itu bukan tradisi, itu adalah stereotype. Tapi jika dipikirkan lagi, kami juga hampir tak paham sama sekali apa yang dianggap tradisi seperti bagaimana cara menentukan hari pernikahan, apa yang elok dan apa yang tidak elok.

Kami yang tidak peduli dan cuek, atau para orang tua yang tidak memberi pemahaman secara teoretis? Karena menangisnya keluarga saat pernikahan di atas adalah bentuk pengajaran aplikatif terhadap para anak. 

Bisakah meneruskan tradisi tanpa meneruskan stereotype? Atau memang pada dasarnya para anak muda sekarang yang mulai mendewasa adalah generasi cuek? Lantaran memang dibesarkan oleh zaman yang dibingkai oleh paham individualisme?

Setiap saat di media sosial atau di situs internet lain, para pengakses dicekoki pemahaman untuk jangan termakan omongan orang, terus maju, lakukan apa yang menurutmu baik, lakukan apa yang membuatmu jadi kamu banget. Dengan kata lain, kita digiring untuk berpikir bahwa tak perlu pusingkan anggapan orang lain.

Ditilik dari sejarah, bukankah memang sudah banyak tradisi dan stereotype yang mulai tidak berlaku atau setidaknya sudah tidak terlalu “disakralkan” lagi? Semisal dahulu bayi yang lahir tidak boleh dibawa keluar dari rumah sebelum tujuh hari. Tetapi karena sang Ibu melahirkan di Rumah Sakit dan ingin pulang pada hari ketiga, maka sang bayi pun ikut keluar rumah.

Tradisi dari Nahdlatul Ulama yang mengadakan selamatan untuk kerabat yang meninggal, yang dahulu para pendoa selalu dibawakan nasi berkat, sekarang makin marak berganti dengan berkat berupa bahan mentah seperti gula pasir, kopi sachet, beras satu kilo, minyak goreng, telur, dan lainnya. Termasuk juga makanan kecil semacam jeruk, gorengan, dan hidangan pendamping dimasukkan juga ke dalam plastik.

Di wilayah lain, hidangan nasi yang biasa dikeluarkan dengan piring untuk para pendoa untuk dimakan setelah selamatan selesai, sekarang dimasukkan ke dalam wadah sterofoam, dijadikan satu ke dalam kantong plastik tempat berkat bahan mentah tadi. Yang masih disuguhkan sama seperti beberapa tahun ke belakang adalah segelas teh pahit untuk tiap pendoa.

Salah satu sebab berubahnya tradisi itu adalah lantaran makin sibuknya orang—bahkan orang-orang desa sekalipun di masa industri sekarang ini. Tak ada waktu untuk bicara satu dengan yang lain. Para pendoa lekas pulang kala plastik berkat dibagikan. Tak terdengar imbauan atau protes dari para ulama wilayah itu.

Semua yang melakukan itu rata-rata umuran orang tua dari para generasi milenial—yang dibesarkan oleh paham individualisme. Pun sudah mengalami gejala perubahan tradisi karena satu lain hal semacam kesibukan dan efisiensi. 

Lantas, akan sampai sejauh apakah generasi milenial yang cuek ini akan mengubah tradisi dan acuh terhadap anggapan?

Padahal tidak selamanya tradisi dan anggapan berpengaruh buruk. Bahkan dua hal itu dapat memberi orang atau golongan identitas—sesuatu yang sangat sukar untuk dicari di masa ini. Tradisi Selamatan akan menyematkan pelakunya dengan Nahdlatul Ulama. Tradisi Tedak Siten (turun tanah) untuk bayi menyematkan pelakunya pada Jawa dan tradisi-tradisi lainnya.

Anggapan elok tak elok kadang memang terkesan tak masuk akal. Namun tak ada hukum pula yang melarang untuk menurut dengan anggapan itu. Keputusan untuk menuruti anggapan elok tak elok sepenuhnya ada pada pelaku, termasuk juga konsekuensinya. Toh ada banyak hal selain anggapan, yang lebih tidak masuk akal terjadi di dunia ini.

Maka laju tongkat estafet tradisi dan anggapan berada pada sesi perpindahan. Dari para orang tua ke tangan sibuk para milenial—anak-anaknya. Sudah se-eloknya untuk orang tua mengajarkan dengan saksama tentang tradisi dan anggapan yang beredar di daerahnya. Anak-anak sekarang pikirannya aktif dan gemar bertanya, “Mengapa?” Tak elok untuk menjawab, “Udah, nurut aja.”

Tapi sudah se-eloknya diberi penjelasan semantapnya. Itu akan membuat para anak puas dan mungkin saja bisa bangga dengan tradisi dan anggapan tersebut. Para generasi milenial juga gemar membuat kejutan. Salah satu contoh tak terbantah adalah kala marak berita RUU KPK tahun lalu.

Generasi ini yang dianggap apatis dan pesimis terhadap politik ternyata berbondong menyerbu markas dewan di Senayan dan daerah. Maka bukan tak mungkin generasi secara mengejutkan ini juga bersedia untuk melanjutkan tradisi dan anggapan, bukan? 

Hanya perlu sebuah pantikan tak terbantahkan untuk mereka. Bahwa hilangnya tradisi dan anggapan adalah hilangnya pula sekepingan dataran identitas mereka sebagai manusia yang terus dilumat era industri tanpa henti.