images_1_5.jpg
Kesehatan · 4 menit baca

Gendut itu Cantik
Fat Discrimination

Lagu All About That Bass karya Meghan Trainor menjadi sangat popular di awal kemunculannya. Nyaris terdengar setiap hari di telinga para pendengar di seluruh penjuru dunia. Pertama kali di kumandangkan lagu ini sontak menjadi fenomenal dan awet menduduki posisi teratas tangga lagu terpopuler dunia.

Lagunya sangat sederhana, tidak ada nada-nada yang terdengar “njlimet” dan olah vocal yang tinggi. Alunan musiknya mudah dinikmati dan mudah untuk diingat. Tidak ada akrobatik skill berlevel tinggi bahkan terasa tak ada aura intelektualitas jika sepintas kita mendengar lagunya.

Justru lagunya terdengar konyol, terasa penuh banyolan dan sangat anak muda. Video klipnya pun tak begitu mengesankan dan tidak ada adegan serta desain yang muluk-muluk. Hanya ada adegan remeh temeh yakni laki-laki gendut menepuk pantatnya. 

Namun dalam liriknya mengandung makna yang dalam dan mempunyai maksud yang spesifik. Di bait pertama lagu ini mengungkapkan Yeah it's pretty clear, I ain't no size two bahwa "Yeah jelas sekali, ukuranku bukan nomor dua". Ukuran nomor dua yang dimaksud ialah ukuran wanita langsing pada umumnya.

Dan adapula lirik yang menyatakan I see the magazines working that Photoshop, We know that shit ain't real yang berarti "Ku lihat majalah menggunakan Photoshop, Kita tahu semua itu bohong belaka". Di bagian refrennya menyatakan Yeah, my momma she told me don't worry about your size yang artinya Yeah, ibuku, dia bilang jangan pusing dengan ukuranmu.

Serta You know I won't be no stick-figure, silicone Barbie doll, artinya Kau tahu aku takkan bertubuh lurus, seperti boneka Barbie silicon. Boneka barbie adalah mitos wanita seksi di alam pikir masyakarat barat yang di simbolkan melalui boneka mainan anak-anak perempuan. Artinya mitos wanita seksi di konstruksi sejak kecil kepada anak-anak perempuan melalui boneka Barbie.  

Dan lagu ini mencoba melakukan kritik atas citra perempuan yang selama ini terbangun. Terutama kritik atas tubuh perempuan yang selama ini dikonstruksi. Selama ini perempuan berambisi mengejar dan berlomba-lomba untuk menggapai apa yang disebut imaginary body, yakni sebuah “tubuh yang dibayangkan” yang diyakini sebagai tubuh ideal perempuan.

Tubuh yang ideal itu digambarkan sebagai tubuh yang langsing, sekaligus sebagai penanda terkait konsep wanita cantik. Tubuh yang langsing inilah yang kemudian menjadi logosentrisme, yang menjadi pusat rujukan ketika kita memaknai kata “cantik” pada diri perempuan.

Konsep tubuh yang langsing ini menjadi “arus utama” yang mendefinisikan dan menentukan kriteria kecantikan. Sehingga kerapkali memunculkan upaya-upaya normalisasi dan pendisiplinan atas tubuh.

Banyaknya program diet, obat pelangsing tubuh dan senam kebugaran perempuan merupakan bentuk dari upaya normalisasi dan pendisiplinan atas tubuh. Konsep tubuh yang dianggap berada di luar konstruksi “arus utama”, seperti tubuh gendut, dianggap abnormal dan perlu didisiplinkan serta penyeragaman agar terwujudnya keseragaman bentuk dengan merujuk standar tubuh ideal yang sudah ditentukan.

Pengakuan kecantikan hanya untuk mereka perempuan yang betubuh langsing. Sehingga mau tak mau, tubuh gendut menjadi momok yang menakutkan bagi setiap perempuan.

Seringkali ketidakmampuan seorang perempuan dalam memiliki tubuh yang langsing akan dianggap sebagai kegagalan dalam mendisiplinkan diri sehingga ia diposisikan sebagai perempuan kelas dua, yang juga seringkali dianggap sebagai perempuan yang gagal dalam semua aspek kehidupannya.

Wacana tentang bobot tubuh seringkali menjadi bayang-bayang yang menghantui setiap perempuan. Ia menjadi hantu yang bergentayangan di kepala setiap perempuan. Karena ketakutannya dengan kenaikan berat badan, maka banyak perempuan sibuk menghitung bobot badannya. 

Hal tersebut membawanya pada suatu asumsi bahwa ia harus selalu menjaga penampilan tubuhnya agar ia masih mempunyai kesempatan untuk dipilih laki-laki. Melakukan perawatan diri dengan satu tujuan, yaitu untuk memikat laki-laki.

Sehingga banyak dari perempuan yang alih-alih ingin merepresentasikan gaya hidup perempuan modern namun dalam hal pemikiran, tidak tampak adanya perubahan pola berpikir dari perempuan tradisional menjadi perempuan modern. Walaupun ia memilih gaya hidup sebagai perempuan modern yang berpendidikan, berkarier dan bergaya hidup perempuan masa kini, namun ia tak mampu melepaskan diri dari jerat “kolonialisasi” atas tubuh mereka.

Konstruksi tubuh ideal dan konsep kecantikan semacam ini seringkali dibentuk oleh media massa, seperti televisi, majalah wanita dan lain sebagainya. Seperti yang di ungkapkan dalam lirik lagu All About That Bass ini yakni I see the magazines working that Photoshop, We know that shit ain't real.

Tubuh yang tinggi dan langsing seperti tubuh para model pada sampul depan majalah-majalah atau tubuh bintang film Hollywood, adalah tubuh yang cantik dan diidamkan. Perempuan selalu dituntut atau merasa dituntut untuk selalu berusaha menguruskan tubuh yang montok dan menyamarkan tanda-tanda tubuhnya agar jauh dari kerutan dan lemak. Hal ini dilakukan demi memperoleh stempel kecantikan dari wacana yang berkuasa.

Dan konstruksi tubuh perempuan ideal dan konsep kecantikan acapkali dikaitkan dengan produk yang di konsumsinya. Kriteria tubuh perempuan yang ideal dikaitkan pada pengkonsumsian terhadap berbagai produk. Sehingga perempuan menggunakan apa yang dikonsumsinya untuk membentuk subyektifitas mereka. Subyektifitas mereka ditentukan oleh produk yang dikonsumsinya.

Mereka mengkonstruksi identitasnya dengan pola konsumsinya. Tubuh cantik tidak pernah dideskripsikan di luar konteks komoditas yang dipakai untuk membungkus tubuh. Kriteria tubuh perempuan cantik selalu dihubungkan dengan dandanan, pakaian, dan aksesori lainnya yang menghias tubuh, jadi konsep cantik yang digambarkan tidak pernah lepas dari komoditas mahal yang dikonsumsi oleh tubuh.

Cantik disukai dan berkuasa atas yang tidak cantik, dan yang tidak cantik, harus tahu diri untuk membiarkan dirinya ditindas oleh yang cantik. Sehingga relasi kuasa justru beroperasi diantara perempuan itu sendiri. Adanya logosentrisme terkait gambaran ideal tubuh perempuan bukan hanya menyebabkan pengakuan yang timpang. Namun seringkali menimbulkan rendahnya kepercayaan diri.

Sehingga banyak perempuan yang jatuh pada kepasrahan yang menganggap kecantikan sebagai pemberian alam daripada sebuah konstruksi. Maka benar apa yang disampaikan dalam lirik All About That Bass bahwa Every inch of you is perfect from the bottom to the top

So, don't worry about your size….