Researcher
3 tahun lalu · 1174 view · 8 min baca · Buku 41gbhdxmj2l._sx328_bo1204203200_.jpg

Gender dan Perkembangan Peradaban

Review Buku

Persilangan antara Ilmu Sejarah dan Feminisme membuka banyak cara pandang baru dalam menulis sejarah. Di Indonesia, sempitnya pemahaman tentang sejarah beradu dengan pemahaman tentang feminisme yang mulai meluas. 

Perkembangan feminist theory kini berbanding lurus dengan menularnya cara pandang feminis dalam menulis sejarah. Ketika feminisme tidak lagi berbicara tentang perempuan, melainkan berbicara tentang gender, maka kajian menulis sejarah gender menjadi mungkin.

Menulis sejarah gender adalah menulis tentang peranan gender, baik perempuan, laki-laki, maupun gender ketiga. Dengan mengkaji sejarah gender kita bisa lebih leluasa melihat relasi antara perempuan dan laki-laki sepanjang sejarahnya. Kita juga bisa membaca perkembangan peradaban dalam kaitannya dengan sejarah gender.

Banyak perdebatan tentang definisi peradaban itu sendiri dan saya tidak menemukan padanan kata civilization yang tepat dalam bahasa Indonesia. Saya menggunakan kata peradaban karena artinya lebih dekat kepada civilization.Peradaban dalam bahasa Indonesia berasal dari kata adab. Adab menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti kehalusan dan kebaikan budi pekerti.

Peradaban umat manusia telah dimulai sejak 400 tahun sebelum masehi. Dimulai dengan munculnya perkumpulan manusia yang membentuk suatu masyarakat yang kemudian menghasilkan kebudayaan. Masing-masing wilayah memiliki peradabannya. Tidak ada peradaban yang murni tanpa adanya kontak dengan kebudayaan lainnya.

Penulisan Sejarah dan Feminisme. Untuk penulisan sejarah yang diharapkan objektif, mari kita buang jauh-jauh asumsi bahwa ada tolak ukur dalam peradaban melalui kebudayaan. Tulisan ini berusaha melihat bahwa sejarah mampu melihat ketidakadilan dalam relasi perempuan dan laki-laki. Juga melacak akar dari patriarki yang berkembang dan membentuk suatu peradaban.

Adalah Sejarah Dunia, salah satu aliran dalam penulisan sejarah yang mencoba melihat asal-mula peradaban di beberapa wilayah dunia. Dengan menelusuri asal mula peradaban di dunia, kita akan menemukan petunjuk awal dari kemunculan sistem patriarki di dunia. Sebuah sistem yang menjunjung laki-laki, baik ayah maupun suami, coba ditelusuri oleh para sejarawan. 

Salah satu Sejarawan yang menulis tentang Sejarah Gender dengan menggunakan penulisan Sejarah Dunia adalah Peter N. Streans, dalam bukunya Gender in World History. Dengan menggunakan komparatif studi, ia berusaha menjelaskan bahwa opresi perempuan selalu ada dalam setiap kebudayaan di seluruh dunia. Ia juga menunjukkan bahwa sistem patriarki memiliki akar yang seumur dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri.

Buku ini dibuka dengan bab perkenalan yang melukiskan bagaimana dua kebudayaan saling bersinggungan. Kebudayaan tradisional Vietnam dengan kebudayaan Prancis sebagai penjajah, memiliki standar dan peran gender yang berbeda. Dua kebudayaan tersebut lantas melakukan kontak selama masa penjajahan Prancis atas Vietnam. Banyak hal terjadi akibat kontak dua budaya tersebut.

Dalam buku tersebut juga dijelaskan bagaimana feminisme dan studi tentang gender telah membawa banyak pengaruh terhadap penulisan sejarah yang selalu dan terlalu male-centric. Ada banyak usaha untuk membongkar narasi besar dalam penulisan sejarah tentang politik dan kekuasaan melalui berbagai alternatif. Dan feminisme berperan dalam mengembangkan penulisan sejarah relasi perempuan dan laki-laki.

Peran feminisme tidak hanya sampai di situ. Pada pengantar buku ini dipaparkan kontak antara Ilmu Sejarah dengan Feminisme. Berbagai hal muncul. Ada prasangka, ada perbedaan standar tentang gender, ada diskriminasi dan pandangan eksotik, ada pula yang berpandangan bahwa paradigma marxisme dan feminisme yang ‘ala’ barat membebaskan ataupun justru melakukan opresi gender.

Semua terjadi ketika dua kebudayaan bertemu dan saling mempengaruhi. Buku ini dibagi menjadi tiga bab untuk melihat perkembangan kebudayaan dan kultur-kultur yang saling mempengaruhi, yakni; (1). From Classical Civilizations trough Postclassical Period, (2). Result of European Expansion, 1500-1900, (3).The Contemporary World.

Peradaban dan Kebudayaan Klasik. Secara linier, ukuran peradaban dimulai dengan kumpulan manusia yang berkelompok dalam jumlah kecil yang mencari makan dengan berburu dan meramu. Pola hidup seperti ini bertahan hingga setidaknya 12.000-10.000 tahun sebelum masehi. Sampai kemudian di sebelah utara Timur Tengah, pertanian ditemukan dan mengubah cara hidup manusia secara radikal.

Peradaban pertama lantas terbentuk 3500 sebelum masehi di Sumeria, di lembah sungai Eufrat dan Tigris yang kemudian diikuti oleh peradaban di sekitar sungai Nil di Afrika, lembah sungai Indus di India, dan lembah sungai Kuning di Tiongkok.

Sebelumnya, dalam hidup berburu dan meramu,  perempuan dan laki-laki memerankan peran vital yang sama: berburu dan mengumpulkan makanan. Dimulainya praktik menetap dan bercocok tanah mengubah cara hidup manusia secara radikal dan juga mengubah hubungan laki-laki dan perempuan.

Dengan dimulainya bertani, manusia bisa menyimpan bahan makanannya dan apabila ada surplus dari panen, bisa dilakukan pertukaran dengan kelompok lainnya. Pertanian juga memisahkan peran dan hubungan perempuan dan laki-laki. Tinggal menetap membuat angka kelahiran dan harapan hidup meningkat dan laki-laki mendapatkan posisi lebih tinggi karena bertani dan punya hak milik.

Pada masa ini, kemunculan agama politeistik juga menghadirkan imaji tentang dewi-dewi kesuburan yang berperan amat penting bagi pertanian mereka. Dengan pembagian peran dan meningkatnya angka kelahiran dan harapan hidup, kita bisa melihat kebutuhan untuk mempekerjakan anak di ladang.

Akhirnya, peran perempuan bergeser menjadi melahirkan dan membesarkan anak. Sementara peran laki-laki adalah bekerja di lahan pertanian, melakukan pertukaran barang dan jasa, serta mempertahankan kepemilikan. Dari sinilah gender hirarki dan sistem patriarki bermula.

Buku ini melihat bagaimana peran dan relasi gender terbentuk dan berubah seiring dengan kontak antar kebudayaan. Dengan menelusuri peradaban manusia di dunia dan menelusuri asal muasal pembagian peran antara perempuan dan laki-laki, kita melihat bagaimana perkembangan peradaban membuat sistem patriarki tertanam kaku.

Dalam kebudayaan tercantum peran dan hubungan masing-masing gender. Dan selalu ditemukan opresi terhadap perempuan walau dengan kadar dan bentuk yang berbeda-beda di setiap wilayah. Buku ini mengambil contoh empat wilayah pada masa postclassical civilization yakni: Yunani dan Helenisme, Budhisme dan Perempuan Tiongkok, Islam-India dan sub-Saharan Africa, dan Konfusianisme dan Pengaruh Tiongkok.

Penulisan ini memiliki pandangan bahwa kebudayaan utama akan mempengaruhi kebudayan di sekitarnya. Tapi tentu saja, tidak semua hal dari kebudayaan besar diadopsi. Beberapa membuat peran perempuan dan laki-laki menjadi lebih setara. Namun ada pula yang justru memberikan penindasan kepada perempuan. Misalnya kebudayaan Timur Tengah di awal kedatangan Islam.

Islam memberikan hak kepemilikan barang dan hak menggugat cerai bagi perempuan yang sebelumnya tidak ada. Penggunaan penutup kepala (kerudung) yang pada awalnya bertujuan untuk membedakan strata sosial para istri dan sahabat Nabi, dijadikan peraturan tertulis dan menjadi identitas muslimah.

Sedangkan di wilayah India, pengaruh Islam tidak berfokus pada kepemilikan barang bagi perempuan. Justru wilayah ini mempraktekan tradisi Hindu terkait kehidupan setelah pernikahan. Misalnya tradisi Purdah atau meminggirkan ruang perempuan dari kehidupan laki-laki.

Kolonialisme Eropa dan Dampaknya. Bab selanjutnya dalam buku ini memaparkan bagaimana imperialisme dan kolonialisme Eropa yang menyebar hampir ke Afrika dan Asia melalui kolonialisasi, membuka kontak dan menyebarkan pengaruh kebudayaan Eropa ke wilayah jajahannya. Kultur kontak menghasilkan banyak inovasi yang berujung pada modernisasi.

Banyak pandangan yang mengatakan bahwa modernisasi telah menghancurkan sistem harmonis dalam kehidupan pramodern. Tapi bagaimanapun, modernisasi menyumbang teknologi, ilmu pengetahuan, dan sistem nilai yang berlaku universal.

Eropa memainkan peran penting setelah tahun 1500 dalam penyebaran kebudayaannya di seluruh dunia. Ditambah penyebaran Kristen yang merumuskan hubungan antara perempuan dan laki-laki yang rigid dan terpisah. Kebudayaan Eropa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk dalam pola relasi gender.

Eropa juga terang-terangan men’judge’ budaya lain yang dianggapnya tidak sesuai. Ide-ide Kristen tentang pengendalian seksualitas dan dominasi laki-laki melalui lembaga pernikahan menyebar cepat ke hampir seluruh penjuru dunia.

Laki-laki diposisikan sebagai pekerja dan berperan di area publik, sedangkan perempuan bertanggung jawab terhadap tugas domestik. Standar ini dibuat menjadi semacam kepercayaan dan standar ‘baik’. Kebudayaan Eropa  selalu mengklaim bahwa mereka memperbaiki relasi gender negara jajahannya, terutama memperbaiki kondisi perempuan. Tetapi kesalahpahaman terhadap persetujuan relasi gender menyebar.

Sesungguhnya mereka terjebak dalam pemahaman gender yang amat terbatas. Eropa dan kekristenan kaget ketika melihat praktek homoseksual di Tiongkok ataupun di negara jajahannya. Buku ini memaparkan kontak kebudayaan Eropa dan Kekristenan, juga memberikan implikasi menyebarnya standar feminim dan maskulin yang dapat dilihat membebaskan atau justru menurunkan status perempuan dan merumuskan relasi antar gender yang tidak setara.

Bab ini memaparkan relasi gender Penduduk Asli Amerika, Kolonialisme Inggris di India, Pengaruh barat terhadap wilayah Polinesia dan Afrika, dan ditutup dengan Westernization and Gender: Beyond the Colonial Models yang mengambil contoh Jepang.

Relasi Gender dan Kebudayaan Masa Sekarang. Abad 20 merupakan babak baru bagi perjalanan Sejarah Dunia. Mulai dari adopsi kebudayaan barat oleh beberapa Negara di dunia seperti Rusia dan Jepang. Kemajuan teknologi dan transportasi membuat akses informasi dan perpindahan tempat menjadi lebih cepat. Begitu juga dengan kebangkitan perusahaan multinasional dan internet.

Segala hal yang cepat berubah ini juga memberikan implikasi pada pola relasi gender di seluruh dunia, seperti penyebaran ideologi dan organisasi internasional. Organisasi perempuan internasional bermunculan dengan tuntutan yang sama: kesamaan di hadapan hukum, kepemilikan property, akses pendidikan dan hak pilih.

Tuntutan ini menyebar secara general, bahkan Siao-Mei Djang, feminis dari negeri Tiongkok pada masa itu berkata bahwa “the problems which are universal to womanhood”. Gerakan-gerakan perempuan ini terinspirasi dari Feminisme dan juga Marxisme.

Gerakan perempuan juga menjadi salah satu gerakan dalam memperjuangkan nasionalisme dan lepas dari penjajahan seperti yang terjadi di Afrika juga Indonesia. Dengan harapan ketika rezim yang baru naik, akan memperjuangkan reformasi gender. Namun sayangnya, ketika rezim yang baru naik, rezim tersebut kembali menjadi male-dominant.

Kemunculan televisi dan media baru membuat orang-orang mampu mempelajari peran dan pola relasi gender dari jarak yang sangat jauh melalui televisi dan sinema. Mempelajari peran gender tidak lagi melalui agen misionaris ataupun orang-orang koloni luar.

Tumbuhnya perusahaan raksasa Disney dan Hollywood memasarkan imaji maskulin melalui prilaku agresif, blue jeans. Juga terbentuknya standar kecantikan dan konstruksi perempuan sebagai objek seksual. Akibatnya, di Amerika Serikat saja, kasus bulimia meningkat hingga 500%. Ini menimpa perempuan di usia 20an awal. Banyak dari mereka yang terobsesi untuk menjadi langsing seperti model atau aktris di televisi dan sinema.

Abad ini juga membuka pertumbuhan konsumerisme besar-besaran dan menyasar gender tertentu sebagai pembelinya. Bentuk baru dari jenis hiburan merepresentasikan kekuatan budaya baru yang berdampak pada relasi gender. Perubahan yang cepat ini menuntut cara hidup mana yang terbaik yang harus dipilih. Buku ini menjelaskan banyak studi kasus seperti di Afrika, Jepang, Iran, Turki, bahkan Mesir.

Pesatnya ekonomi global dan perubahan peran gender ke arah kesetaraan yang lebih universal, lebih banyak berdampak pada perempuan urban dan kelas ekonomi menengah atas dibanding kelas ekonomi bawah maupun pedesaan.

Era konsumerisme ini juga membuat pekerja perempuan menjadi lebih murah, tersedia, dan berpendidikan lebih baik yang mengakibatkan lebih banyaknya anak muda laki-laki menganggur dibandingkan perempuan. Ini akan berdampak pada, lagi-lagi, reformasi gender.

Kesimpulan. Buku ini sangat menarik dan baik untuk dibaca karena memaparkan sejarah relasi gender di seluruh dunia melalui studi perbandingan. Namun tetap saja, penulisan sejarah selalu dipengaruhi ideologi dan intepretasi sejarawan sebagai penulisnya.

Penulisan Sejarah Gender dengan ulasan Sejarah Dunia ini terasa masih menggunakan sudut pandang Amerika Serikat sebagai prespektif utamanya. Hal ini terlihat dari beberapa contoh fakta yang dikemukakan yang banyak merujuk pada Amerika Serikat.

Tapi buku ini cukup komperhensif untuk menjelaskan asal muasal patriarki, dengan bahasa inggris yang ringan dan mudah dipahami bahkan untuk orang awam sekalipun. Diharapkan dengan menambahkan analisa Sejarah dalam feminisme Indonesia mampu memperkaya studi Gender dan Feminisme di Indonesia atau bahkan keduanya.

Artikel Terkait