Perkembangan dunia yang semakin pesat menjadikan tiap individu dituntut untuk dapat bersaing dalam berbagai aktivitas di dunia. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk bisa mengikuti persaingan. 

Namun terkadang hal ini terbentur oleh konstruksi sosial yang terlebih dahulu terbangun dan telah membagi-bagi peran antara laki-laki dan perempuan. Sehingga seakan membatasi ruang gerak aktivitas masing-masing individu.

Keadaan yang dianggap tidak menguntungkan tersebut kemudian direspons dengan kemunculan gerakan yang menamakan dirinya sebagai gerakan gender. Gerakan ini awalnya didorong karena dalam perkembangan dunia yang semakin pesat, namun peran perempuan masih terbatas. Bahkan perempuan tidak dapat mengakses hak yang seharusnya didapat, seperti hak untuk mendapat akses pendidikan, menduduki posisi penting publik dan sebagainya. 

Gerakan ini kemudian menyerukan tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Di mana perempuan tidak seharusnya dibatasi untuk ikut berperan dan dapat mengakses apa yang seharusnya didapat.

Perjuangan yang dilakukan oleh penggiat gender sebenarnya tidak berbicara tentang kesetaraan, namun lebih tepatnya adalah berbicara tentang keadilan. di mana penggiat gender harus memberikan pemahaman kepada publik. bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak untuk ikut berkontribusi dan bersaing dalam ruang publik. 

Sehingga masyarakat bisa berpikir lebih luwes dalam padangan minestream-nya untuk membagi peran antara laki-laki dan perempuan serta baik laki-laki maupun perempuan dapat mengakses haknya tanpa perlu bertabrakan dengan konstruksi masyarakat tentang gender.

Berbicara tentang konstruksi masyarakat tentang pembagian peran antara laki-laki dan perempuan, sebenarnya konstruksi ini dibangun sebagai alternatif pembagian tugas antara suami dan istri dalam lingkup keluarga. Hal ini memang terlihat tidak adil karena membatasi ruang gerak perempuan dalam ruang publik. 

Namun perlu diingat, bahwa pembagian tugas antara suami dan istri ini juga perlu dilakukan agar tidak ada tumpang tindih dalam menjalankan tugas rumah tangga. Namun juga perlu diingat bahwa konstruksi yang dibangun masyarakat adalah sebuah alternatif yang dalam praktiknya dikembalikan lagi kepada masing-masing keluarga untuk mengkomunikasikan perihal pembagian peran dalam keluarga.

Dari penjelasan di atas, dapat dipahami jika membenturkan gender dengan konstruksi masyarakat adalah tindakan yang kurang pas. Seperti contoh kondisi keluarga yang suami dan istrinya sama-sama orang karier. 

Dalam beberapa kasus dapat dijumpai bahwa keluarga tersebut tidak harmonis karena komunikasi yang terjalin di dalamnya kurang intens. Pekerjaan rumah juga berantakan karena baik suami maupun istri sibuk dengan kegiatan masing-masing di luar. 

Terlebih lagi ketika sudah memiliki anak, terkadang anak mereka kurang mendapat perhatian. Sehingga masyarakat membuat konstruksi gender dalam rangka membagi peran dalam keluarga.

Namun kemudian, saking masifnya konstruksi ini, menjadikannya tidak hanya diterapkan dalam konteks keluarga, namun bergeser pada pembagian tugas laki-laki dan perempuan secara umum. Hal ini menjadikan peran wanita dalam ruang publik semakin dipersempit dengan konstruksi ini.

Namun seiring perkembangan zaman, tantangan yang dihadapi oleh penggiat gender mengalami perubahan. Di mana tidak hanya memberikan pemahaman kepada masyarakat luas namun juga harus memberikan pemahaman kepada para perempuan untuk menyiapkan mental serta kemampuan untuk ikut bersaing dan berkontribusi di ruang publik. 

Dapat dilihat bahwa kini telah banyak orang yang sadar akan gender dan memberi peluang kepada perempuan untuk ikut berkontribusi dalam ruang publik, namun mungkin karena akibat dari konstruksi masyarakat yang sudah sedemikian mengakar kuat. Menjadikan para perempuan terbentuk mindset-nya bahwa perempuan tidak pantas untuk terlalu ikut campur dalam berbagai aktivitas di ruang publik. 

Bahkan tidak jarang ditemui ada beberapa perempuan yang berpandangan bahwa sebainya perempuan fokus untuk mengurusi rumah, seperti memasak, bersih rumah dan berbagai aktivitas rumah lainnya.

Dari beberapa penjelasan di atas, perlu diingat bahwa pergerakan gender adalah pergerakan yang membela hak baik dari laki-laki maupun perempuan dan tidak bisa diperoleh akibat klasifikasi jenis kelamin. Sehingga diperlukan untuk melakukan tindakan-tindakan dalam upaya mengawal distribusi hak agar dapat dinikmati oleh setiap individu. 

Namun perlu diingat bahwa setiap orang tidak sepenuhnya bebas dan juga tidak hanya memerankan satu peran saja. Dan setiap peran yang dimainkan juga memiliki berbagai tanggung jawab yang harus dilaksanakan. 

Seperti contoh dalam rumah tangga, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab sehingga perlu adanya komunikasi agar tugas-tugas rumah tangga dapat dilaksanakan dengan baik dan juga tidak hanya menguntungkan satu pihak. Sehingga sama-sama bisa mengakses hak masing-masing tanpa melupakan kewajiban serta tidak ada yang merasa dirugikan. 

Semisal dalam urusan dapur, tidak harus perempuan yang dibebani untuk mengurusi dapur. Namun laki-laki juga harus mau untuk memegang peran tersebut dan lain sebagainya.

Secara singkat dapat disimpulkan bahwa secara umum, tiap individu memiliki hak yang sama dalam berperan di ruang publik sehingga tidak perlu adanya pembatasan atas nama jenis kelamin. Namun dalam konteks khusus seperti keluarga, harus ada pemahaman bahwa baik laki-laki maupun perempuan sama memiliki tanggung jawab. 

Sehingga perlu adanya komunikasi yang seimbang antara laki-laki dan perempuan agar pembagian tugas dalam menjalankan tanggung jawab tidak tumpang tindih dan tidak ada yang merasa dirugikan.