Mahasiswa
5 bulan lalu · 48 view · 4 menit baca · Ekonomi 60643_39421.jpg
inews.id

Gencarnya Bank Korea Selatan Bidik Industri Perbankan Indonesia

Korean Wave atau dikenal juga sebagai gelombang Korea merupakan istilah yang diberikan untuk tersebarnya budaya Korea pada berbagai negara di dunia. Indonesia termasuk salah satu negara yang sedang terkena demam Korea. 

Negara dengan julukan negeri ginseng ini telah menjadi trendsetter, mulai dari fashion, makanan, film drama, sampai dengan grup musik K-Pop. Bukan hanya gaya hidup yang terkena pengaruh budaya Korea, akan tetapi, di tengah persaingan bisnis dan globalisasi saat ini, pasar finansial Indonesia juga memikat para investor asing asal Korea Selatan.

Dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan ini, Korea Selatan mulai gencar membidik industri perbankan di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), telah menunjukkan Korea Selatan merupakan investor asing terbesar keenam di Indonesia pada tahun 2017 yang mana menyumbang sebanyak 6,3% (enam koma tiga persen) dari total investasi langsung asing.


Berdasarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 56/POJK/03/2016 tentang Kepemilikan Saham Bank Umum, Pasal 2 ayat (2) mengatur bahwa badan hukum lembaga keuangan bank dapat memiliki saham bank sampai dengan 40% (empat puluh persen). Namun pada Pasal 6 ayat (1) membuka peluang bagi para investor asing untuk memiliki saham melebihi 40% (empat puluh persen) pada suatu bank dengan ketentuan sepanjang memperoleh persetujuan Otoritas Jasa Keuangan. 

Regulasi POJK tersebut dapat tafsirkan bahwa investor asing dimungkinkan untuk menguasai saham pada suatu bank di Indonesia sampai dengan 99% (sembilan puluh sembilan pesen). Peraturan kepemilikan saham pada bank tersebut memberikan peluang besar kepada investor asing untuk semakin gencar meramaikan industri perbankan di Indonesia. 

Tidak dapat dimungkiri saat ini bahwa Indonesia menjadi salah satu destinasi negara yang diminati oleh Korea Selatan untuk mengembangkan ekspansi bisnisnya, mengingat Indonesia memiliki letak geografis yang strategis dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat di kawasan Asia Tenggara. Alasan Korea Selatan membidik industri perbankan sampai ke Indonesia tidak lain dan tidak bukan karena Indonesia memiliki keunggulan potensi profitabilitas yang menggiurkan dalam hal perolehan Net Interest Margin dan penyaluran kredit.

Saat ini sudah ada beberapa investor asing asal Korea Selatan yang turut membidik serta meramaikan industri perbankan Indonesia, di antaranya adalah KEB Hana Bank, Woori Bank Korea, Shinhan Bank dan Apro Financial Ltd. Selain itu, ada beberapa investor asal Korea Selatan yang juga sedang dalam proses turut serta meramaikan industri perbankan Indonesia dengan cara mengakuisisi bank lokal, seperti Industrial Bank Korea yang akan mengakuisisi Bank Agris, Kookmin Bank yang akan mengakuisisi Bank Bukopin, bahkan yang terbaru rumornya Korea Development Bank sedang mengincar untuk menguasai saham Bank Panin.

Apabila dibandingkan dengan investor asing lainnya dalam industri perbankan memang Bank asal Korea Selatan yang paling mendominasi meramaikan bisnis perbankan di Indonesia. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kepercayaan dan kedekatan hubungan baik dengan Korea Selatan. Kedekatan hubungan antara Indonesia dan Korea Selatan dibuktikan dengan hubungan diplomatik yang sudah berjalan sangat lama sampai dengan 45 tahun.

Korea Selatan sebenarnya dapat dikatakan merupakan salah satu mitra strategis yang penting bagi Indonesia. Hubungan dan kerjasama antara Indonesia dengan Korea Selatan yang dilakukan secara bilateral meningkat tajam dalam dekade terakhir ini sejak ditandatanganinya Joint Declaration on Strategic Partnership pada tanggal 4 Desember 2006 yang mencakup 3 (tiga) pilar kerjasama, yaitu: 1) kerjasama politik dan keamanan, 2) kerjasama ekonomi, perdagangan dan investasi; 3) kerjasama sosial budaya.


Belum lama ini juga, dalam kesempatan kunjungan Presiden Joko Widodo ke Korea Selatan pada tanggal 10 September 2018 lalu di Blue House, Seoul, kedua negara menyatakan kesepakatannya dan saling setuju untuk lebih mempererat hubungan diplomatik, khususnya di bidang ekonomi dan investasi. Menargetkan peningkatan pencapaian perdagangan sampai dengan USD30 miliar pada tahun 2022 mendatang dengan nilai potensi investasi sampai dengan USD6,2 miliar.

Perbankan merupakan industri yang memainkan peranan penting dalam perekenomian suatu negara yang apabila tidak diatur dan diawasi secara ketat akan berdampak sistemik, dikarenakan industri perbankan merupakan lembaga keuangan yang memiliki fungsi sebagai agent of development, yaitu melakukan mobilisasi dana untuk pembangunan suatu negara. Adapun yang menjadi alasan OJK membuka peluang yang cukup besar kepada para investor asing untuk menguasai permodalan perbankan Indonesia karena diharapkan dapat membantu pengembangan bank-bank kecil lokal yang selama ini sulit untuk berkembang.

Walapun Indonesia membuka peluang besar bagi investor Korea Selatan dalam bidang perbankan, negara selaku state actor atau negara merupakan aktor yang memiliki peranan penting dalam sistem internasional dan relatif memiliki kebebasan untuk menentukan kebijakan yang diambil. Dalam hal ini, negara selaku pembuat dan penentu kebijakan hubungan kerja sama investasi asing pada bidang perbankan harus memperhatikan kepentingan nasional (national interest) guna mencapai tujuan-tujuan Indonesia terkait kebutuhan bangsa/negara sebagaimana telah diamanatkan dalam konstitusi Republik Indonesia, khususnya pada Pasal 33 ayat (3): menciptakan masyarakat Indonesia yang makmur.

Otoritas Jasa Keuangan selaku regulator industri perbankan Indonesia harus tetap selektif dalam pemberian perizinan dan melakukan pengawasan ketat bagi investor asing yang menjalankan usaha perbankan di Indonesia. Otoritas Jasa Keuangan seyogyanya bukan hanya terpaku kepada pemenuhan persyaratan administratif, namun harus juga menuntut komitmen yang tinggi dari para investor Korea Selatan. 

Hadirnya investor bank asal Korea Selatan diharapkan dapat mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan alih teknologi guna meningkatkan efektivitas perbankan nasional di Indonesia. Oleh karena itu, di tengah kondisi ekonomi global, khususnya perbankan yang tidak menentu, maka menjadi suatu yang sangat penting bagi Indonesia dan Korea Selatan untuk terus melakukan penguatan kerja sama ekonomi.


Artikel Terkait