“Gue udah jarang banget nonton TV, do” 

Jujur, saya sih lupa siapa yang bicara ini. Namun, yang jelas dia ini teman saya pas masih bersekolah. “Pengakuan” ini dibuatnya saat dia melihat aktivitas saya menulis soal pertelevisian di blog pribadi saya. 

Memang sih, saya jadi terasa anti-mainstream sendirian di kelas. Kalau yang lain sudah kejebak rutinitas untuk ghibah bin baperan atau main game daring di kelas yang lama-lama mirip warnet, bahkan ada yang sibuk jualan produk MLM secara daring pula, saya justru jadi doyan nulis soal televisi. 

“Pengakuan” diatas wajar-wajar saja diungkapkan mereka. Dunia digital sudah benar-benar merasuk kehidupan generasi saya. Tak lengkap hari belum posting di Snapgram atau Instastories (dua-duanya sama sama dibenarkan menurut “fatwa” gahul dengan media sosial, wkwk). Begitupun, tak lengkap hari kalau tidak menambah poin di Mobile Legends atau DOTA.  

Sementara saya? Masih berkutat di televisi, radio dan media cetak. Daring sih saya ikuti. Kalau tidak diikuti, mana bisa saya posting tulisan ini? Selain tentu, stalking di Instagram dan di banyak media sosial lain. Meskipun, jujur saya bukan pemuja digital yang militan ala-ala fansnya JKT48, yang sering dikatakan banyak pengamat dan ahli, dari pak Rhenald Kasali sampai Yoris Sebastian.  

Saya mengenal dunia daring itu, jujur, lebih terlambat daripada yang lain. Saya memang kenal internet itu pas jamannya masih dial up pakai telepon Telkom, sekitaran 10 tahunan yang lalu. Namun kenal media sosial (dan segala kegilaan dari media yang diam-diam bikin ketar-ketir media cetak ini) itu pas jaman dimana teman-teman saya sudah gahul duluan pakai Blackberry dan saya (masih) pakai HP Flexi. Kira-kira sekitar 6 tahunan yang lalu.  

Mungkin karena kenalnya telat, saya jadi tetap suka dengan media eksisting alias konvensional, meskipun saya mulai juga mengalihkan pandangan ke daring. Saya, masih suka baca buku cetak dan berita dari koran. Dengar radio juga masih saya lakukan dan nonton TV pun selalu disempatkan baik saat kerja ataupun saat senggang.  

Saya sih coba juga Scoop, salah satu penyedia majalah secara daring, ini juga karena saya penasaran dengan edisi majalah Tempo yang beberapa waktu lalu turunkan laporan soal tren Islamisasi di negeri ini. Meskipun demikian, saya tetap lebih suka yang cetak, yang di lingkungan saya kini makin susah ditemukan para loper koran dan majalah.  

Saat teman-teman mulai beralih ke daring, pada saat saya masih SMP dulu, saya masih saja berkunjung ke loper koran buat beli majalah. Entah majalah soal dunia teknologi hingga majalah soal dunia ekonomi, saya lahap juga. Dulu di dekat sekolah, ada loper yang sering jadi langganan saya. Sekarang, masih ada nggak ya? Hmm.. 

Radio, saya kenal 7 tahun yang lalu. Suatu peristiwa kurang mengenakan membuat saya akhirnya mengenal medium yang satu ini, dengan bekal radio analog merek Sony (tipenya jujur lupa), namun sudah memakai tenaga baterai, radio mudah digenggam yang bisa dilipat, masih harus di tune pelan-pelan karena masih analog dan ada antena eksternalnya yang ukurannya lebih besar dari antena HP “lokal” yang ada televisinya. Radio warisan dari (alm) kakek saya. Sementara, televisi mungkin menjadi media yang saya kenal lebih lama daripada yang lain. Mungkin sejak kecil.  

Jadi, dari paragraf-paragraf tadi, bisa disimpulkan kalau media eksisting tidak semuanya ditinggalkan oleh anak-anak muda negeri ini (apalagi melihat infrastruktur internet di negeri ini yang belum merata), seperti opini yang berkembang soal generasi saya yang katanya sudah hi-tech bahkan sejak masih di kandungan (?).  

Kemarin ini, saya baca hasil survei soal Gen-Z yang dibuat oleh media daring Tirto.id, dimana menurut sumber-sumber yang mereka kutip (katanya sih) termasuk saya juga didalam generasi ini, meski kata Yoris Sebastian di buku Generasi Langgas, saya masih masuk di Gen-Y. Entah mana yang benar, namun semua sepakat bahwa generasi Y dan generasi Z juga mengenal dunia daring dan perlahan pindah ke sana.  

Gen-Z dianggap sebagai generasi yang hi-tech. Media-media daring, seperti media sosial sudah dianggap sebagai keseharian hingga soal mencari berita. Meskipun sudah common dengan sosial media, namun rupanya media eksisting seperti televisi masih ada yang menyaksikan. Berdasarkan hasil survei yang sama, untuk akses berita, televisi dipilih generasi ini sebanyak 14,4%, sementara untuk hiburan, terutama menonton film, televisi dipilih 3,9% responden.  

Survei yang sama menunjukkan juga kalau Gen Z yang disurvei umumnya hanya menonton TV kurang dari 2 jam sehari, dimana anak SMP paling banyak menonton selama 3-5 jam sehari. Tontonannya, jika anak SD-SMP lebih suka kartun (34,6%), maka anak SMA dan kuliahan yang disurvei lebih suka sinetron atau serial (34,1%). Program berita dan musik masing-masing mendapat porsi 13,5% dan 12,5%. Sayangnya, tak dijelaskan dengan detail apakah medium mereka menonton TV itu lewat satelit seperti Indovision ataupun lewat FTA (Free-to-Air) seperti Global TV atau RCTI.  

Namun, patokan umumnya kita ambil adalah menonton TV dengan FTA. Memang, program-program sinetron dan kartun punya pangsa pasar yang cukup besar.  Program kartun seperti Upin & Ipin seringkali masuk dalam top 10-20 rating harian. Seperti pada hari Kamis 3 Agustus 2017 (ALL), program ini menempati peringkat 16 dengan TVR/TVS 2.0/15.1% dan pada hari Selasa, 1 Agustus 2017 (ALL), program ini menempati peringkat 19 dengan TVR/TVS 1.9/14.2%.  

Untuk sinetron, tentu kita paham bahwa dari jaman ke jaman, sinetron masih menjadi tayangan yang menarik. Bukan hanya menarik ibu-ibu, namun juga menarik para remaja. Makanya, beberapa judul sinetron berusaha menarik segmen remaja, seperti Anak Langit yang menampilkan geng motor sebagai bagian dari tokoh utamanya.  

Data Nielsen pada kuartal 2 tahun 2016 kemarin juga menggambarkan data yang kurang lebih sama, dimana anak-anak berusia 10-14 tahun lebih banyak menonton FTV dan remaja berusia 15-19 tahun lebih banyak suka tayangan drama. Uniknya, siaran olahraga dan hiburan lain juga termasuk didalam data Nielsen tersebut. Ada banyak judul FTV dari SCTV, EURO Cup 2016 dan acara ulang tahun NET 3.0 yang dimasukkan Nielsen di data tersebut.   

Sayangnya, konten berita belum menjadi pilihan utama Gen Z. Ya, palingan baru jadi konten utama kalau ada tugas dari sekolah, seperti pengalaman saya pada saat SD lalu, dimana saya diminta mencatat berita-berita yang ditayangkan di program berita televisi, hanya karena soal nama menteri di kabinet pemerintahan. Hehe..

Akhirnya, orang-orang seperti saya tetap saja anti-mainstream. Apalagi kalau masih doyan bahas soal pertelevisian, sementara yang lain masih saja bermain Mobile Legends.