Tak perlu menggali terlalu dalam di belantara internet untuk menemukan video, konten, atau artikel-artikel inspiratif tentang kisah kepedulian insan manusia yang tanpa pamrih. 

Berbagai cerita altruistik bisa ditemui di mana saja: dari pengorbanan seorang ibu untuk menyelamatkan bayinya saat terjadi gempa; sampai kisah seorang J.K Rowlings yang tanpa ia sadari berganti predikat dari miliarder menjadi jutawan, karena terlalu banyak mendermakan hartanya demi kepentingan orang banyak.

Altruisme ada di seluruh pelosok planet bumi. Dilakoni semua kalangan, tak pandang kelas sosial atau suku bangsa. Namun kebanyakan dari kita sepakat, jika altruisme merupakan kebajikan yang hanya dipraktikkan manusia saja. 

Padahal jika dicermati lebih jauh, altruisme dipraktikkan juga oleh spesies selain manusia. Contoh paling sederhana adalah bentuk altruisme induk hewan yang mengorbankan diri demi kelangsungan hidup anaknya.

Sebenarnya apa itu altruisme? Secara sederhana, altruisme dapat diartikan sebagai sebuah sikap mengorbankan kepentingan satu individu, demi kepentingan individu selain dirinya.

Pembahasan mengenai topik yang satu ini mungkin sudah dijabarkan tuntas oleh pelbagai bidang ilmu seperti filsafat etis, teologi, atau juga psikologi. Altruisme bahkan menjadi sorotan dan motif yang selalu menarik di untuk dihayati di dunia literasi. Sampai-sampai melahirkan istilah ideal bagi sang aktor pelakonnya (: pahlawan).

Namun bagaimana jika kini sains yang membongkar altruisme? Adakah mekanisme tersendiri dalam tubuh kita yang berujung pada sikap-sikap altruistik? Richard Dawkins memberi jawaban yang sensasional di tahun 1976, melalui bukunya The Selfish Gene.

Dalam buku ini Dawkins menjabarkan “tabiat” gen yang “egois”, yang melakukan segala upaya agar dirinya terus menerus dikopi dan diwariskan dalam bentuk keturunan dan anak-cucu.

Judul yang dipilih Dawkins tentu saja hanya upaya personifikasi dalam menjabarkan bagaimana gen bekerja. Gen sendiri tidaklah egois. Namun memiliki mekanisme teknis yang bertarget pada upaya mempertahankan keberadaannya dengan cara mereplika diri dan diturunkan pada generasi selanjutnya. 

Pertahanan gen untuk terus eksis ini, menurut Dawkins, merupakan asal muasal dari sikap altruistik yang ditunjukkan manusia dan berbagai spesies binatang lainnya.

Ambil contoh seorang ibu di Fukuoka, Jepang, yang rela mengorbankan tubuhnya untuk melindungi sang anak dari runtuhan bangunan kala gempa. Dari kacamata Dawkins, sikap sang ibu ini merupakan mekanisme gen untuk melindungi kelanjutan hidup sang keturunan. 

Si bayi yang memiliki peluang lebih besar untuk mewariskan gen lagi, menjadi prioritas sebagai individu yang harus terus bertahan hidup dibandingkan ibunya.

Altruisme akibat keegoisan gen hadir juga dalam kehidupan singa dalam kelompok (pride). Para singa dewasa di dalam suatu pride akan memberikan perlindungan bagi anggota yang masih anak-anak. Di sini altruisme melampaui batas-batas hubungan antara ibu dan anak. 

Bayi singa, sebagai agen penerus susunan genetika suatu pride, akan mendapatkan perlindungan tak hanya dari sang ibu, namun juga ayahnya dan anggota pride dewasa lainnya.

Gen, dalam hemat Dawkins, mewariskan sikap-sikap altruistik dalam tiap organisme hanya untuk tujuan mempertahankan replikanya. Pengorbanan individual dilakukan dalam rangka mempertahankan kepentingan yang, secara literal, lebih mikroskopik, namun memiliki efek yang makroskopik, karena sang Gen akan terus berkembang dalam bentuk organisme-organisme baru.

Sikap-sikap altruistik ini, tak selalu terfokus pada kedekatan darah saja. Solidaritas dalam sebuah kelompok rasial tertentu, atau sikap saling melindungi di antara individu yang berasal dari satu daerah yang sama, juga disinyalir sebagai akibat dari mekanisme keegoisan sang Gen.

Membaca perspektif Dawkins ini, wajar saja jika kebanyakan dari kita bersikap resisten. Kita terbiasa menganggap kemurnian hati seorang ibu atau ketulusan seorang dermawan sebagai bentuk tertinggi peradaban manusia. Suatu sikap yang melampaui insting naturalistik manusia dan bahkan cenderung ilahiah; bukannya diakibatkan suatu mekanisme biologis di level makro-molekular.

Lantas bagaimana sebaiknya menyikapi kenyataan mengenai sel egois ini? Perlukah kita menolak premis yang dijabarkan Dawkins yang tentunya dikuatirkan akan berujung pada terjadinya krisis moral?

Perlu dipahami, mekanisme survabilitas gen ini tak melulu dijewantahkan dalam sikap-sikap altruistik. Dawkins menjabarkan bahwa premis Gen Egois sesungguhnya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai berbagai sikap sosial yang dikembangkan manusia. Bullying dan hasrat untuk membalas dendam, misalnya, ia asumsikan sebagai sikap individual dan sosial yang juga berpangkal pada keegoisan gen.

Bullying—kita artikan saja sebagai sikap represif yang dilakukan pada individu atau kelompok tertentu, karena tak mencapai kriteria dan standar yang diberlakukan si pembully—merupakan sikap sosial yang bermuara pada tujuan kin selection atau seleksi kerabat.

Salah satu bentuk bullying massal terparah yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia adalah genosida kaum yahudi yang dilakukan rezim Hitler di Jerman. Kin selection yang dilakukan Hitler ini berpangkal pada keinginan untuk membatasi hak hidup hanya bagi mereka yang memiliki susunan genetis ras kaukasian saja. 

Dalam hal ini keegoisan sang Gen terjewantah dalam sikap individual dan sosial yang juga egois. Namun serupa dengan mekanisme altruisme, tujuan akhirnya juga berujung pada kelestarian sang Gen.

Kenyataan mengenai keegoisan gen ini tak harus membuat kita merasa diperbudak oleh kehendak gen. Sebaliknya kita bisa menentukan pilihan secara disadari. Alih-alih dikendalikan oleh otoritas gen, yang menghendaki kita untuk bersikap altruistik demi mewariskan susunan genetik pada individu selanjutnya; kita bisa memilih untuk memiliki altruisme secara rasional.

Dalam menyikapi soal motherhood, misalnya. Alih-alih hanya mempraktikkan sikap keibuan dan mencurahkan kasih sayang pada keturunan kita saja, kita bisa melatih diri untuk memiliki ketulusan serupa pada individu lain yang tak memiliki pertalian keluarga sama sekali, atau bahkan berbagi empati dengan spesies lain.

Premis Gen Egois juga bisa diaplikasikan secara positif di tengah situasi global saat ini. Jika manusia mendaya-upayakan rasionalitasnya untuk menghalau kehendak egois sang Gen, kompromi dan harmoni akan lebih mudah dicapai. 

Sekat yang membatasi identitas kekerabatan, ras, suku bangsa, ataupun gender dapat diruntuhkan, karena kita memahami, impuls kin selection yang kita miliki ternyata diakibatkan oleh suatu mekanisme makro-molekular dalam setiap sel tubuh kita.

Gen Egois, yang ditelurkan Dawkins, bukanlah landasan untuk mengamini sikap dog eat dog dan survival of the fittest. Bukan pula landasan untuk menjadi apatis karena altruisme ternyata adalah bagian dari mekanisme survabilitas gen. Manusia bisa memilih untuk membiarkan dirinya dikendalikan otoritas gen, atau menjadi subjek yang secara sadar mengambil kendali penuh kehendak dirinya. 

Kita bisa memilih untuk melakukan kin selection dan bersikap rasis sesuai dengan yang diinginkan sang Gen Egois; atau membangun peradaban manusia yang lebih terbuka, progresif, dan penuh harmoni dengan manusia (atau bahkan dengan spesies) lainnya.