Gen sebagai unit dasar kehidupan makhluk hidup sangat unik dan spesifik dalam menjalankan fungsinya. Setiap organisme hidup mengandung gen yang bervariasi satu sama lain. Tugas yang diemban oleh gen begitu rapi dan tersistem pada masing-masing organisme. “Adakah yang dapat menggantikan peran gen?” adalah hal yang mustahil dan kemungkinannya tidak akan ada.

Begitu pentingnya peran gen sebagai sandi terbentuknya organ-organ tubuh, seperti ekspresi penyakit bahkan pengatur sifat manusia. Manusia pemarah, peramah, pemalas, perusak, penolong dan lain sebagainya. Sesuatu yang terbentuk oleh karena kerja sebuah gen, tidak ada penyebab lain.Gen penyandi ini dapat dianalogikan sebagai bagian penting di sekitar lingkungan, di mana bagian ini memberikan dampak positif bagi kehidupan.

Hutan merupakan bentuk kehidupan yang terorganisir dari abad ke abad lamanya. Hutan menjadi mediator bagi kehidupan beraneka ragam makhluk. Flora dan fauna bahkan mikroorganisme kasat mata. Manusia juga merasakan keuntungan kehadiran hutan di lingkungan mereka. Homeostatis iklim adalah peran nyata ekosistem hutan bagi manusia. Namun, sekelompok manusia tidak menyadari akan hal ini.

Sangat menyedihkan ketika melihat kejadian pembalakan hingga pembakaran hutan yang terjadi di Indonesia. Nafsu akan uang menyebabkan tindakan-tindakan manusia sudah dalam batas ketidakwajaran. Manusia berpendidikan dan non-berpendidikan bukan menjadi tolak ukur penyebabnya, sekarang ini keduanya bahkan saling membagi tugas untuk melaksanakan misi merusak hutan.

Walaupun sudah banyak amunisi untuk membentengi kejadian ini, tetap masih saja marak terjadi kerusakan hutan. Lembaga swadaya masyarakat hingga pemerintah pun dianggap sebagai polisi tidur yang dibuat tidak berkutik untuk menyelesaikan permasalahan ini.

Satu contoh kasus yang terjadi tahun 2017 adalah pembalakan liar yang terjadi di Riau. Kapolres Meranti, AKBP Barliansyah dalam keterangannya kepada detikcom, Kamis (16/2/2017), menjelaskan, di lokasi ditemukan banyak barang bukti kayu yang sudah menjadi bahan papan. 

Kemudian kejadian lain adalah pembalakan liar di Suaka Margasatwa Kerumutan, Pelalawan, Riau. Kepolisian Resor Pelalawan berhasil meringkus dua pelaku pembalakan liar. "Keduanya ditangkap sedang beraktivitas memotong kayu di dalam hutan," kata Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Riau Komisaris Besar Guntur Aryo Tejo dalam keterangannya kepada tempo.co, Kamis malam, 9 Maret 2017.

Yang lebih ironis lagi para penegak hukum menjadi penyebabnya, kepolisian hutan dengan tangan ringan menjadi bagian suksesnya kejadian ini. Sungguh di luar akal sehat, penegak hukum yang seharusnya membantu masyarakat dan pemerintah tidak menjalankan tanggung jawab yang semestinya.

Padahal pembalakan liar dan pembakaran hutan berdampak buruk pada terjadinya erosi dan banjir yang menimbulkan banyak korban. Tak hanya itu, aksi ini sudah pasti memiliki dimensi yang begitu luas. Di dalamnya bukan sebatas aspek ekonomi bahkan memasuki wilayah sosial, politik dan lingkungan hidup.

Kebutuhan ekonomi membuat masyarakat tidak takut untuk merelakan hijaunya hutan. Pembukaan lahan pertanian sampai kepada pembangunan perusahaan dengan tujuan mencari keuntungan sebesar-besarnya yang mengabaikan bioetik dan kepentingan publik.

Pengaruh imingan uang dari pengusaha yang berusaha mencari keuntungan lebih melalui bisnis mengharuskan untuk merayu kelompok masyarakat menjual hutan demi membangun lahan bisnis mereka. Sehingga dengan lapang masyarakat pun merelakan hutan yang seharusnya mereka jaga.

Berangkat dari permasalahan ini, penulis berpikir bahwa diperlukan unit-unit khusus yang perannya sama dengan gen penyandi organ tubuh kita, mata berhasil melihat oleh karena adanya gen penyandi, hidung pesek hingga mancung ada gen yang menyandikan. Fakta ini dapat dianalogikan dalam menciptakan bumi yang hijau melalui kelestarian hutan. Menjadi pertanyaannya, siapakah yang menjadi gen penyandi itu?

Gen Penyandi: Sebuah Perspektif dalam Tiga Dimensi

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa kehidupan akan saling berkoordinasi untuk saling memperlengkapi. Bumi yang kita pijak seiring berjalannya waktu semakin terpuruk kondisinya karena ulah dari manusianya itu sendiri. Oleh karenanya ada tiga dimensi yang sangat berpengaruh terhadap kemungkinan fluktuasi proses perubahan iklim di dunia, ini dapat tergambar dalam piramida di bawah ini. Ketiga dimensi ini berperan sebagai gen penyandi yang membuat hijaunya bumi.

Piramida Gen Penyandi Hijaunya Bumi

1.  Keluarga

Sebelum kita bersekolah keluarga adalah guru dini yang mengajarkan kita banyak hal. Terjadi proses pembelajaran yang alami di dalamnya, orang tua sebagai moderator pola hidup akan terasa membekas hingga kita menjadi manusia dewasa.

Dari keluarga ini semua kemungkinan dapat terjadi, mulai dari rasa untuk peduli, acuh tak acuh, hingga rasa persatuan dan toleransi. “Nak, mari menanam pohon di sekitar pekarangan rumah,” kata seorang Ayah. Anak pun dengan rasa percaya kepada orang tua akan mengikuti arahan itu.

Alangkah indahnya jika rasa kepedulian itu tumbuh dimulai dari lingkungan keluarga. Hanya saja orang tua wajib memberikan contoh terlebih dahulu sebelum mereka mengajak anak-anak terjun langsung.

Keluarga sebagai satu dari banyak gen yang menyandikan terciptanya bumi hijau perlu dioptimalkan sebelum seorang anak terpapar gen jahat yang tidak menuntun ke arah positif. Misalnya saja ajakan di luar lingkungan keluarga, sahabat mereka sendiri contohnya. Akan membuat pertimbangan sendiri bagi seorang anak.

Oleh karena itu, mari kepada semua orang tua untuk menuntun dan mengarahkan anak-anaknya sedini mungkin untuk peduli dengan lingkungan demi kesejahteraan bersama. Dan yang belum menjadi orang tua, mari kita belajar bersama untuk saling mempedulikan satu sama lain, karena jika tidak dimulai dari diri sendiri, hal itu akan sulit kita terjemahkan kembali kepada orang lain, terutama kepada anak-anak kita kelak.

2.  Pendidikan 

“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas,” ujar Bung Hatta, Bapak bangsa yang pendiam tapi cerdas itu. Betapa besar ketidakrelaannya jika bangsa ini terus terjajah dari berbagai aspek kala itu, mulai dari ekonomi, politik hingga lingkungan.

Pendidikan adalah cakar yang menggali potensi setiap manusia, dengan pendidikan manusia akan lebih mengerti dan memahami arti kesungguhan diri melewati setiap proses.

Termasuk proses hidup di tengah permasalahan lingkungan, melalui pendidikan manusia telah dibekali etika lingkungan. Etika ini dijadikan refleksi kritis terhadap norma-norma yang berlaku. Pendidikan menjadi relasi kuat yang menjembatani keterbelakangan terhadap etika lingkungan.

Menjadi harapan suara-suara Bung Hatta masa kini akan kembali terdengar, khususnya para pemegang tongkat estafet bangsa. Mulai dari siswa hingga mahasiswa diharapkan mampu mengadaptasikan ilmunya dalam lingkungan bermasyarakat.

3.  Teknologi

Perkembangan teknologi di Indonesia khususnya termasuk dalam masa penjajakan. Yang sebenarnya dapat dijadikan partner dalam mengelola lingkungan bukan merusak lingkungan. Teknologi terkini bahkan sudah sampai pada pendekatan molekuler dengan mendeteksi kekerabatan gen.

Laporan Voice of America atau VoA (2012) “tes DNA untuk pohon dilakukan untuk menyaring kayu-kayu hasil penebangan liar dan diharapkan dapat mengurangi praktik ilegal tersebut.” Seperti manusia dan hewan, pohon juga memiliki DNA yang spesifik dan tidak akan sama satu sama lain.

DNA tersebut ada di setiap sel produk kayu dan siapa pun tidak dapat memalsukannya. Teknologi ini akan menjadi protokol dasar terhadap solusi terbarukan bagi permasalahan pembalakan liar.

Ketiga dimensi ini menjadi gen penyandi yang akan membentuk bumi hijau dengan teralisasinya hutan lestari, sehingga hutan lestari tidak hanya menjadi naungan yang nyaman bagi semua makhluk hidup tapi menjadi tabungan masa depan untuk anak cucu kita kelak.