Gagasan awal tentang evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin secara umum menyampaikan bahwa evolusi adalah pertarungan untuk bertahan hidup. Tapi saat kita menemukan ada kerja sama, pengasuhan dan pengorbanan diri dalam kehidupan setiap hewan termasuk kita Homo sapiens, sejenak kita menjadi skeptis dengan pandangan Darwin. Tapi tulisan ini akan sedikit menjelaskan.

Saya akan berangkat dari argumentasi bahwa, Kita – manusia – dan semua hewan lainnya yang ada di permukaan bumi adalah mesin kelestarian yang diciptakan oleh gen kita sendiri. Gen adalah unit pewarisan sifat yang dalam perjalanan evolusinya membentuk mesin kelestariannya sendiri. Secara fisik gen berupa urutan DNA, yang menempel pada dinding protein.

Pada awal mula kehidupan, setiap gen yang bertebaran dalam lumbung gen berusaha untuk terus bertahan hidup dalam ketatnya seleksi alam. Maka dari itu setiap gen harus bisa membuat sistem pertahanan yang kuat agar terhindar dari seleksi. 

Berawal dari urutan DNA, setiap gen terus mengembangkan sistem pertahanan yang pada akhirnya membentuk apa yang kita sebut hewan dan tumbuhan. Keduanya adalah mesin kelestarian gen.

Mesin kelestarian ini mempunyai satu tugas utama yaitu terus mempertahankan kehidupan gen yang ada di dalam dirinya. Bukan hanya itu tapi mesin kelestarian juga bertugas untuk menyalin gen yang ada dalam dirinya ke generasi berikutnya agar gen tersebut bisa bertahan hidup. 

Dengan kata lain, gen terus membuat salinan dirinya sendiri pada setiap generasi, begitulah cara gen menyebar seluas-luasnya dan bertahan melalui setiap generasi makhluk hidup.

Homo sapiens (Manusia) -saya tidak memakai kata manusia, karena manusia terlalu jumawa, tinggi hati menganggap bahwa dia adalah pemuncak rantai makanan dan enggan untuk di samakan dengan hewan- juga adalah mesin kelestarian gen, awalnya kita semua mempunyai satu nenek moyang, yang artinya juga berasal dari satu gen yang sama. Tapi walaupun kita berasal dari satu gen yang sama, bukan berarti kita semua menjadi sama secara keseluruhan.

Untuk menjelaskannya saya ingin menggunakan analogi pencetakan kitab suci – tulisan ini tidak membahas soal moral – percetakan kitab suci tidak hanya menggunakan cetakan aslinya untuk mencetak semua kitab suci yang menyebar di seluruh dunia, melainkan cetakan salinan dari cetakan awal akan di gunakan untuk mencetak cetakan yang lain, begitu seterusnya. 

Dan dalam pencetakan untuk membuat salinannya tersebut, terdapat kesalahan-kesalahan. Sama seperti kata “perempuan muda” yang di salah cetak menjadi “perawan”, sehingga munculah nubuat: “lihatlah perawan yang mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki”. 

Kesalahan cetak ini telah membuat perubahan besar, walaupun sampai saat ini tidak ada yang bisa membuktikan apakah Maria perawan atau tidak ketika mengandung. Tapi bagi seorang evolusionis, kesalahan-kesalahan dalam membuat salinan inilah yang disebut sebagai evolusi.

Dari kesalahan penyalinan inilah terdapat banyak perbedaan di antara Homo sapiens mulai dari perbedaan sifat, karakter, keinginan, apa yang tidak disukai, bagaimana cara memimpin dan bahkan bentuk negara. Perbedaan-perbedaan ini juga dipicu oleh proses adaptasi mesin kelestarian (survival machine) untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan disekitarnya.

Perbedaan ini memicu terjadinya interaksi sosial. Contohnya dalam Bagaimana seorang ibu mengasuh anaknya, seorang bapak bekerja demi keluarga, bahkan orang tua yang rela mati demi anaknya. Semuanya adalah kepentingan gen untuk bertahan hidup. Dan inilah Altruisme.

Secara umum altruisme adalah sifat mementingkan kepentingan orang lain atau kelompok daripada kepentingan diri sendiri. Contoh interaksi antara orang tua dan anak adalah contoh altruisme yang disadari oleh mesin gennya, mereka saling mengenal satu sama lain dan tinggal dalam lingkungan yang sama. Lalu bagaimana dengan orang yang tidak saling mengenal satu sama lain? Mungkin ini pertanyaan yang muncul.

Gen, dalam penyalinannya menciptakan “replikator” yang berbeda, begitupun dengan salinan yang lain. Jika setiap mesin gen yang tidak saling kenal berinteraksi, akan ada dua hal yang terjadi, kerja sama atau konflik.

Serangga sosial saya pikir cocok untuk menganalogikan kerjasama antar replikator. Dalam satu kelompok serangga sosial terdapat dua sifat yang serangga yang berbeda, yang keduanya mempunyai tugas masing-masing. 

Ada yang bertugas untuk membuka tutup lilin dan yang lain berperilaku membuang tempayak. Sama juga seperti pedagang dan konsumen, keduanya saling bekerja sama untuk kepentingan yang sama. Fakta di atas membuktikan bahwa gen bekerja sama terhadap perilaku mesin kelestarian komunal.

Dan untuk menganalogikan konflik saya mengambil contoh revolusi oktober 1917. Penindasan kelas – yang di dominasi oleh kaum borjuasi – atas dan kelas bawah, membuat kelas bawah proletar membuat gerakan perlawanan menentang sistem. 

Konflik ini terjadi karena terdapat kepentingan yang berbeda yaitu kelas atas ingin memperkaya diri dan kelas bawah ingin terlepas dari sistem pengisapan yang di lakukan kelas atas. Peristiwa ini membuktikan bahwa perbedaan sifat antar salinan gen, yang terjadi akibat kesalahan salinan maupun adaptasi dapat memicu konflik kepentingan walaupun kepentingan gennya sama.

kita bisa melihat bahwa keegoisan Gen untuk terus bertahan hidup dapat membuat kita mesin kelestariannya saling bekerja sama, mengasuh, bahkan mengorbankan diri. 

Kita bisa menjadi Altruistis karena sifat egois gen yang menetap dalam diri kita. Kita juga berkonflik karena sifat egois gen. Semuanya apapun itu adalah untuk kepentingan gen dalam bertahan hidup. Dan sekali lagi kita hanyalah mesin kelestarian-nya.