Mahasiswa
9 bulan lalu · 178 view · 6 min baca menit baca · Media 59410_66453.jpg
Sumber foto: kumparan.com

Gempa Bumi dan Gempa Informasi

Sore menjelang malam, suara knalpot di tengah-tengah kota Makassar masih nyaring. Macet di beberapa jalan raya masih awet. Tiba-tiba, sedikit getaran seperti berlalu di bawah kaki. Meski hanya sangat minim, tetapi banyak orang merasakannya dengan jelas. 

Ya, itu adalah getaran kecil efek dari sebuah gempa yang berpusat di 27 KM Timur Laut, Donggala, Sulawesi Tengah dengan magnitudo 7,4. Hal itu terjadi tepat pada tanggal 29 September 2018.

Dengan penuh kecemasan sambil berharap tak ada korban jiwa dalam persitiwa tersebut, saya terus memantau tivi dan media online yang menurut saya bisa memberikan informasi yang akurat. Tetapi kesulitan jaringan ke di lokasi gempa membuat media saat itu kesulitan untuk merinci efek gempa.

Beberapa saat setelah peristiwa itu, segeralah beredar kabar bahwa Kota Palu diterjang tsunami. Ah, sungguh duka sangat mencintai manusia. Lebih menyakitkan lagi, bahkan telah beredar foto-foto korban gempa yang katanya adalah tsunami Palu, tetapi nyatanya adalah foto korban tsunami Aceh tahun 2004 silam.

Tetapi sungguh ada bencana, Palu-Donggala-Sigi luluh lantak oleh bencana alam. Korban ada di mana-mana. Ada yang tertimbun reruntuhan bangunan, terseret air, bahkan ada juga yang harus tertelan lumpur. 

Jumlah korban meninggal dunia yang ditemukan mulanya hanya puluhan, kemudian terus bertambah setelah pemerintah dan lembaga-lembaga kemanusiaan melakukan evakulasi. Bahkan saat saya menuliskan tulisan ini (6/10/18), korban meningal dunia telah jauh menembus angka seribu. 

Tetapi selain gempa dan tsunami Palu-Donggala yang menelan banyak korban jiwa, orang-orang yang berada satu pulau (Sulawesi) dengan tempat terjadinya gempa menjadi orang yang “rawan gempa”. Bukan hanya gempa bumi, tetapi juga gempa informasi.

Tercatat, Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa pada 1 Oktober 2018 telah terjadi gempa bumi di Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan dengan kekuatan 3.1 skala Richter. Pusat gempa berada sekitar 37 KM Timur Laut Kabupaten Sinjai Sulawesi Selatan.


Gempa itu benar-benar terjadi dan getarannya bahkan dirasakan oleh warga di Sinjai. Tetapi yang lebih menakutkan dari gempa itu sendiri adalah informasi terkait “gempa” itu sendiri. Grup-grup Whatsapp dan sosial media dipenuhi informasi yang simpang siur mengenai gempa di Sinjai. Bahkan beredar pesan berantai bahwa air laut mulai mengalami kenaikan dan kemungkinan akan ada tsunami.

Saya kemudian menghubungi seorang kawan yang berada di Sinjai. Ya, benar adanya bahwa beberapa dari mereka, terutama yang berada di sekitar pinggir laut, memilih untuk meninggalkan rumah dan mencari tempat yang lebih tinggi. 

Sebenarnya BMKG sendiri telah memperingatkan bahwa tak ada potensi tsunami. Akan tetapi, banjir informasi yang simpang siur membuat mereka ketakutan. Terlebih lagi kondisi psikologis mereka tentunya berada dalam titik terendah setelah menyaksikan di tivi dan media sosial dipenuhi berita tentang korban bencana Palu-Donggala.

Dua hal yang kemudian menjadi catatan terhadap peristiwa gempa yang terjadi saat ini. Pertama, pengetahuan masyarakat tentang gempa sungguh minim. Mereka tak tahu bahwa berdasarkan skala pengukuran, sesungguhnya untuk gempa tektonik, ada ukuran tertentu yang tidak berefek ke permukaan dan tidak menimbulkan kerusakan, juga ada gempa yang dapat menimbulkan kerusakan pada skala tertentu.

Sebutlah gempa tektonik yang kurang dari 2.0 skala Richter, maka gempa tersebut tidak terasa. 2.0 - 2.9 juga tidak terasa, tetapi dapat terekam alat. Kemudian 3.0-3.9 sering kali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan. Barulah pada gempa di atas 4.0 skala Richter akan menimbulkan kerusakan sesuai besaran skalanya.

Saya curiga bahwa masyarakat pada umumnya memiliki persepsi bahwa gempa bumi sudah pasti merusak. Padahal gempa itu terjadi setiap hari di perut bumi, hanya saja, ada skala tertentu yang dapat menimbulkan kerusakan dan korban jiwa. Deskripsi di atas hanyalah satu dari sekian banyak informasi tentang gempa yang harus diketahui masyarakat.

Kedua, selain pengetahuan terhadap bencana yang kurang, verifikasi terhadap informasi juga sangat minim. Akhirnya, hoax dicerna dan bertebaran di mana-mana. Bahkan saya menyebutnya sebagai “gempa informasi”.

Di beberapa grup Whatsapp, saya menanyai mereka yang mengirim beberapa informasi yang saya yakini sebagai hoax. Mereka dengan enteng menjawab, hanya copas dari grup tetangga. Ini berarti bahwa penyebaran informasi palsu meski dibuat oleh oknum, tetapi pada dasarnya informasi tersebut “meledak” bukan karena kesegajaan untuk menyebarkannya, tetapi lebih kepada ketidaktahuan bahwa informasi tersebut hanyalah hoax.

Lantas apa yang salah dari persoalan itu? Ya, itu artinya tingkat literasi informasi atau literasi digital masyarakat kita masih rendah. Penyebaran informasi tersebut kemudian menyerang tidak terendah psikologi masyarakat – ketakutan kerisauan terhadap gempa bumi.

Sebut saja istilah “gempa susulan” atau “meninbulkan tsunami”. Diksi-diki tersebut sangat rawan menyerang psikologi orang-orang yang dekat secara jarak dengan tempat gempa sebelumnya.

Gempa di Palu-Donggala membuat masyarakat Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tenggara merasakan keresehan yang luar biasa karena informasi yang tidak bersahabat. Informasi yang tidak karuan kemudian membuat masyarakat takut terkena gempa, atau takut sanak keluarga di tempat yang jauh terkena gempa.

Peristiwa gempa Palu-Donggala yang saya hubungkan dengan peristiwa gempa bumi dan gempa informasi di Kabupaten Sinjai merupakan satu dari sekian peristiwa. Masih banyak lagi keresahan-keresahan akibat gempa informasi, seperti retaknya bendungan Bili-Bili Sulawesi Selatan yang tentu saja itu hanya hoax. Gempa di Sulawesi Tenggara dengan magnitudo 3.4 juga menyebabkan keresahan karena banyaknya informasi yang lebih menakutkan daripada sekadar gempa yang benar-benar terjadi.

Saya bukan ingin membuat masyarakat meremehkan gempa, hanya saja literasi dan verifikasi informasi harus menjadi hal yang penting dalam menghadapi situasi yang serasa serba tidak jelas. Kecenderungan informasi menjadi hiper-realitas atau hiper-informasi tidak akan menyelamatkan warga, tetapi hanya semakin membuat warga menjadi panik dan mengalami tekanan.


Lantas apa yang mesti dilakukan? Saya mengajukan dua hal, yang pertama adalah literasi mitigasi bencana dan yang kedua adalah peningkatan kemampuan literasi digital.

Literasi mitigasi bencana yang saya maksudkan adalah pendidikan kapada warga dalam menghadapi bencana alam sehingga dapat mengurangi risiko korban, baik korban materil maupun korban jiwa. Dengan kondisi alam yang beraneka ragam, pemerintah ataupun lembaga-lembaga kemanusia harus mampu menanamkan pengetahuan mitigasi bencana kepada masyarakat. Hal ini penting sebagai upaya pencegahan jatuhnya korban di setiap bencana.

Coba bayangkan betapa menyedihkannya cara berpikir kita dalam terhadap peristiwa bencana. Salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan memerintahkan dinas-dinasnya untuk meninjau ulang kegiatan ritual atau adat-istiadat masyarakat.

Saya tahu bahwa landasan berpikir mereka adalah bencana hadir karena ritual yang salah di masyarakat. Seperti yang kita ketahui bahwa juga beredar analisis yang tidak bertanggungjawab yang menyebutkan bahwa tsunami kota Palu terjadi karena adanya pelaksanaan Festival Tomoni. 

Ketimbang memberikan informasi dan pendidikan terkait mitigasi gempa, mereka justru sibuk pada analisis-analisis yang tidak rasional. Padahal, sungguh masih banyak hal penting yang mesti kita pikirkan tentang bencana alam.

Kedua adalah peningkatan pengetahuan literasi digital atau literasi informasi. Saat sebagian masyarakat sudah mampu mengakses internet, maka saat itulah tantangan tentang informasi digital muncul. Seperti kita ketahui bahwa dunia digital menyediakan banyak data, tetapi banyak juga dari data tersebut hanyalah sampah.

Melalui literasi digital, masyarakat diharapkan mampu memilah dan memlih informasi yang memiliki keakuratan. Sumber, cara penyampaian, dan metode pengumpulan data suatu informasi harus diperhatikan. Apabilah masyarakat tahu mengenai sumber, dan metode pengumpulan informasi yang baik, saya yakin mereka tidak akan termakan infromasi hoax yang dihasilkan oleh oknum-oknum pencipta hoax.

Maka dari itu, lembaga-lembaga kemanusiaan nantinya tidak hanya berperan penting di lapangan. Akan tetapi, juga memiliki andil dalam penyebaran informasi-informasi yang akurat. Lembaga-lembaga kemanusian tidak hanya terfokus pada evakuasi, penyaluran logistik, dan pemulihan fisik maupun psikis, tetapi juga membuat semacam devisi pendidikan, informasi dan komunikasi yang mampu memberikan pendidikan mitigasi bencana serta informasi yang akurat terkait bencana kepada masyarakat.

Masyarakat butuh informasi tentang mitigasi bencana, masyarakat butuh informasi tentang gempa yang bisa mengancam nyawa mereka, masyarakat butuh informasi terkait kondisi sanak keluarga mereka yang sedang mengalami gempa. Secara sederhana, kita semua butuh informasi yang benar akurat dan terpercaya, bukan informasi sebatas hoax.

Artikel Terkait