Dalam riset yang dilakukan oleh UNESCO dalam pengurutan negara perihal literasi, realitanya Indonesia berada dalam urutan ke-2 paling bawah dari negara-negara yang dijadikan subjek riset tersebut. Lebih tepatnya Indonesia berada dalam urutan ke-60 dari 61 negara perihal minat baca. Miris dan memalukan!

Namun perihal kepemilikan gadget, Indonesia berada dalam urutan ke-5 terbesar di dunia. Artinya masyarakat Indonesia lebih memilih bermain gadget daripada membaca buku. Apakah masyarakat Indonesia membaca buku lewat gadget yang dimilikinya? Dan patutkah masyarakat Indonesia berbangga diri atas prestasi sebagai negara yang paling banyak memiliki gadget namun minim dalam membaca buku? Jawabannya akan ketemu dalam pembahasan kali ini.

Masih banyak orang yang enggan membaca buku, bahkan menganggap membaca buku merupakan kegiatan yang membuang waktu. Benarkah itu? Ya benar, jika orang-orang yang berpikir seperti ingin Indonesia stagnan dan lambat untuk maju.

Buku merupakan pusat distribusi ilmu pengetahuan dan sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Didalamnya terdapat jerih payah penulis yang ingin menyebarkan buah perenungannya kepada khalayak umum. Sebuah buku terlahir dengan berbeda maksud dan tujuan yang mengharuskan pembaca membacanya sampai tuntas.

Setiap waktu akan terlahir buku-buku yang baru dan hal itu merupakan kodrat manusia yang sedari hidup dalam goa telah menulis, meskipun dengan simbol-simbol dalam dinding goa. Maka dari itu, menulis yang merupakan benih lahirnya sebuah buku akan selalu ada, meskipun entah pembacanya bertambah atau malah sebaliknya, berkurang!

Membaca buku memang kegiatan yang membutuhkan ketabahan dalam melakukannya, bahkan melebihi ketabahan yang dimiliki oleh seorang pemancing yang sedang memancing ikan. Butuh waktu dan tenaga(pikiran) untuk memahami maksud yang disampaikan oleh penulis dalam sebuah buku.

Namun dari membaca buku, seorang pembaca setidaknya akan merenung dan berpikir kembali setelah membaca bukunya itu, seperti pemburu yang telah menemukan rusa gemuk di hutan belantara. Pembaca buku akan menemukan pencerahan dan setidaknya akal sehatnya kembali bekerja setelah beristirahat sekian lama.

Akan tetapi, mengapa Indonesia berada dalam negara ke-2 paling bawah dari riset yang dilakukan oleh UNESCO? Ada dua hal fundamental yang mendasari itu pertanyaan tersebut. Pertama, kebudayaan di Indonesia saat ini sendiri tidak ada satupun yang menanamkan budaya gemar membaca akibat penajajahan colonial yang menyebabkan masyarakat berada dalam kebodohan.

Padahal sebelum Indonesia dijajah oleh imperialisme, Indonesia merupakan bangsa yang gemar belajar, hal tersebut dapat dibuktikan dengan pesatnya ilmu pengetahuan agama-agama yang datang ke Indonesia dengan pesat.

Kedua, harus kita akui sebagai warga negara Indonesia bahwa sistem pendidikan yang ada di Indonesia, dari pendidikan yang paling dasar hingga pendidikan tinggi juga tidak menanamkan rasa gemar membaca yang menyebabkan banyak disfungsi ilmu pengetahuan serta lambatnya proses dinamika sosial di Indonesia yang seharusnya tidak perlu dan tidak penting untuk terjadi.

Padahal, tercatat dalam sejarah bahwa gemar membaca merupakan sebagian modal pesatnya suatu peradaban. Tidak perlu jauh-jauh berkhayal tentang Baitul Hikmah perpustakaan terbesar yang pernah ada dan menjadi simbol kemajuan peradaban Bani Abbasiyah itu.

Dalam sejarah Indonesia sendiri, terdapat beberapa peradaban yang maju dengan gemar membaca dan belajar sebagai simbol kemajuannya. Seperti pada saat berdirinya kerajaan Sriwijaya yang bahkan membuat orang-orang dari India nun jauh diseberang samudera belajar kepada para Biksu yang tersohor di kerajaan Sriwijaya pada masa itu.

Hal demikian juga terjadi pada masa Majapahit menguasai sebagian besar wilayah Indonesia saat ini. Hal tersebut, terbukti dengan banyaknya para pujangga yang telah menghasilkan kitab-kitab yang menandakan pada masa itu masyarakatnya juga gemar membaca. Diantaranya yang paling terkenal ialah kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca dan kitab Sutasoma karya Mpu Tantular.

Tidak ketinggalan pula, kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri setelahnya juga banyak menghasilkan berbagai kitab dan suluk dengan berbagai pemikiran juga. Hal tersebut secara tidak langsung yang menyebabkan saat ini mayoritas warga negara Indonesia beragama Islam. Dengan pendidikan gemar membaca yang dibudayakan oleh para ulama tersebut yang telah membuat masyarakat Indonesia pada masa itu memiliki peradaban yang maju.

Namun setelah penjajah datang, budaya gemar membaca masyarakat Indonesia kian pudar dan sulit untuk bangkit kembali. Mengapa warga negara Indonesia yang mayoritas beragama Islam saat ini enggan untuk membaca buku padahal perintah pertama Nabi Muhammad sebagai penyebar agama Islam ialah iqra’(bacalah)? Padahal penyebaran agama Islam yang pesat juga tidak terlepas dari usaha para ulama untuk membudayakan gemar membaca kepada masyarakat awam.

Hal tersebut tidak terlepas dari upaya pembodohan yang dilakukan untuk menghambat Indonesia memiliki peradaban yang maju. Banyak orang yang menyepelekan hal tersebut, padahal pengaruhnya sangat terasa dengan berjalannya waktu.

Bayangkan jika para petani paham ilmu pengetahuan pertanian dasar dengan membaca buku pertanian, para pedagang paham ilmu ekonomi yang dasar jika saja gemar membaca buku ekonomi, dan sebagainya. Ketimpangan sosial yang ada di Indonesia disebabkan oleh satu faktor, yang paham akan suatu ilmu pengetahuan hidupnya akan terjamin, namun yang tidak paham ilmu pengetahuan sama sekali tentu hidupnya diambang penderitaan sosial.

Maka dari itu, jika anda menginginkan Indonesia memiliki peradaban yang maju, maka gemarkanlah membaca buku kepada diri anda terlebih dahulu, lalu kepada orang-orang terdekat anda. Karena orang yang tidak membaca buku mempunyai 3 ciri-ciri yaitu, yang pertama ialah orang yang sakit akalnya, yang kedua ialah orang yang sakit badannya, dan ketiga ialah orang yang sakit jiwanya. Jika anda tidak ingin termasuk dalam salah satu 3 ciri-ciri tersebut, maka membacalah.