Aku

Aku bukanlah seorang sufi yang mengembara di bentang hamparan padang pasir dengan kaki telanjang.

Mendamba sakit dan luka,
Semakin sakit semakin mencinta.
Semakin luka semakin mendaku.

Aku juga bukan seorang filosof yang menguasai diriku, yang duduk merenungi rotasi siang dan malam. Menyitir ratusan kitab dan moksa demi sejumput kearifan.

Takjub pada kerja-kerja semesta.
Semakin takjub semakin meninggi,
Semakin meninggi semakin menghilang.

Aku

Aku hanyalah seorang biarawan yang terpenjara dalam kuil sajak.
Memuja dewa-dewi aksara.
Mengisi cawan batin yang kosong.

Namun, aku juga bukanlah seorang pujangga mahir nun piawai dari tanah Persia.
 
Aku

Aku hanya seorang budak yang tersesat.
Hendak mencari jejak langkah dari tuan-tuan dan raja-raja.

Gorontalo, 2018.


Samsara

Malam, samsara milik siapa?
Di sebuah kota,
di sudut sofa.
Berfilsafat bebas,
Kredo dan imaji saling mendempet,
Dalam gumam kekal, memekik ungkapan fana.

Terpadu tanya?
Di mana tapal, di mana muara.
Di bilik renjana yang entah kepada siapa.
Mengimpit pikir dan rasa.

Ingin satu akhir yang kolosal,
Satu hembusan napas yang panjang dan legah.

Dalam hidup yang banal,
Barangkali nasib,
Barangkali kutukan,
Tiada kunjung terjawab,

Hanya ada seru yang bengis.
Cintai nasibmu,
Panggul salibmu,
Hiduplah dengan kehendak,
Hiduplah dengan bahaya.

Gorontalo, 2019.


Datanglah Fajar

Setelah terbit fajar,
Gaduhlah orang-orang,
Kawat neon mulai dipadamkan satu demi satu,
Pintu rumah dibuka lebar-lebar.

Terjaga dan mengada,
Sambil mengumpat dan merenung.
Pagi ini berbuat apa untuk menyambung hidup?

Siapa sangka nasib seteladan ini.
Siapa pikir nasib segetir ini.

Melirik bakul nasi dan tungku api,
Sama polos dan terangnya seperti para resi.
Namun keruh, lagi rancu dalam pikiran yang senyap.

Semakin terang, semakin khawatir,
Semakin terik, semakin memekik.
Dengan Tuhan, yang rapat dalam dzikir dan syair.

Celutuknya bergumam deras dalam dada,
Resah dan cemas berselang menit,
Supaya hari ini, tak melanggar apa pun,
Untuk sekepal nasi dan secawan air.

Bolaang Mongondow, 2019.


Hampa

Gadis sudah habis dipinang,
Janda kembali berjalan pulang.

Sedangkan aku?

Bergumul dalam tanya,
Memohon tiada jawab,
Menyelisik di antara anak-anak manusia.

Pujangga kiranya menulis atau berpuisi.
Sendiri atau menemu diri.
Berdiam atau mengembara.

Di tanduk malam mencari pendar cahaya,
Berlarian tiada arah.
Meraba-raba dalam gelap.
Sekilas tatap di depan cermin:

Aku hanyalah bayang yang ragu,
Satu tempa yang bimbang,
Bak harpa tanpa dawai.

Seumpama  adalah kisah,
serupa tajuk beribu tahun lalu: Adam yang terpecah menjadi Hawa dan Ilyas yang tak diperuntukkan selain kepada seorang janda di Sarfat.

Di manakah  engkau?

Gorontalo, 2019


Asmaranda

Dan pada akhirnya kita harus menutup cela keramaiaan dengan meringkuk simpul malam seorang raga.

Asmaranda,

Kilas temu dan dekap, meracuni sisi-sisi larut yang besanding dalam semayan raga penuh onak dan duri yang menusuk telapak kaki di batas Juli.

Mendekam dalam tahanan senyap dan kepatuhan terhadap irama Kitab.

Kepada kita yang begitu lelap.
Warta dari sekilas hujan dan deru angin yang menggoda dedaunan hingga tangkai Ambrosia berguguran,

Menjelma gema rindu yang terpantul dari tepi bantal kapuk, hingga dinding bata penuh coretan sajak.

Membendung simak dagu lentikmu, senyum angkuhmu dan hidung ala kadarmu. Jua, sejumput ranum susumu yang menyusup serupa Balqadaba dalam bahtera pikiranku.

Asmaranda

Benar. Ternyata engkau dapat mengalahkan Tuhan dengan Gaun.

Juli, Bolaang Mongondow 2019.


Pasrah

Kita rupa yang menjelajah dalam media.
Menanti komentar dan decak kagum.
Dari hidup yang abai,
Hina angkara tak boleh datang mendekap.

Kita rupa yang silap.
Di depan kamera dan di hadapan cermin,
Sepotong gaun yang akanan,
Sehelai kain kerudung yang bersandiwara,

Kita rupa yang tersakiti,
Menyimpul senyum manis,
Menatap kesemuan,
Menetap dalam bilik asmara,
Meringkuk samsara di kedalaman.

Tawa nan durja saling mendebat,
Akan siapa pemilik rupa?
Aku duka dan engkau luka,
Aku belati dan engkau bedil.
Aku fana dan engkau binasa.

Di bentang zaman dunia maya
Tampak giat penikmat gairah,
Pencinta nan pendamba rupa.
Rupa menjelma renjana,
Renjana menyoal pasrah.

Gorontalo, 2020


Kota Mati

Mari menyimak satu dongeng Homerus:
setelah Pericles diturunkan dari tahtanya,
Athena bak kota mati,
Zeus adalah kesalahan besar,
dan para filsuf adalah sang rasul kesederhanaan.

Dunia bak disulap menjadi istana bagi sekelompok orang yang barbarian dan arkhaik.
Manusia lainnya merangkak dalam jalan-jalan nestapa.

Resah nan rusuh menyalib pikiran.
Melahirkan ragu dan sangka,
Bertopeng, juga berjubel hidup seperti kaum sinis,
menggonggong laiknya gerombolan Anjing kelaparan.

Kota seperti dijarah,
Hanya tersisa budak-budak,
tak bisa berbuat apa-apa,
selain tunduk pada perintah.

Diawasi, disekap dan diringkus.
Beberapa tempat dan kemanusiaannya digusur paksa.

Kemudian, Athena hilang, sirnah begitu saja, sejarahnya menjadi rumah bagi para filsuf. Selama ribuan tahun -- hanya ada wabah dan pembantaian -- disertai tangis dan sebuah negara kota yang bengis.

Agustus, 2021.